Konflik Timur Tengah Memanas, Bursa Eropa Anjlok Terparah Hampir Setahun
Saturday, March 07, 2026       07:27 WIB
  • Indeks STOXX 600 jatuh 5,5% dalam sepekan, penurunan terbesar hampir satu tahun akibat konflik Timur Tengah.
  • Sektor bank dan kesehatan memimpin pelemahan, sementara sektor energi menjadi satu-satunya yang naik.
  • Data pekerjaan AS yang melemah dan lonjakan harga minyak menambah kekhawatiran inflasi dan risiko stagflasi.

Ipotnews - Saham Eropa mencatat penurunan mingguan terbesar dalam hampir satu tahun pada Jumat (6/3) karena konflik di Timur Tengah belum menunjukkan tanda-tanda mereda. Sementara penurunan tak terduga pada data ketenagakerjaan AS membayangi prospek pemangkasan suku bunga.
Indeks acuan pasar saham Eropa, STOXX 600 turun 1%, ke level terendah dalam lebih dari dua bulan. Indeks ini merosot 5,5% sepanjang pekan. Bursa utama di Frankfurt dan Paris mencatat penurunan mingguan paling tajam sejak April tahun lalu, sementara saham di Madrid mengalami penurunan mingguan terbesar dalam empat tahun.
Presiden AS Donald Trump menuntut Iran melakukan "penyerahan tanpa syarat" dalam peningkatan tuntutan sepekan setelah perang Timur Tengah dimulai, yang berpotensi menyulitkan tercapainya akhir konflik secara cepat melalui negosiasi.
Sektor perbankan kembali berada di bawah tekanan. Saham bank turun 1,7% dan mendekati level terendah tiga bulan. HSBC dan Allianz masing-masing turun 2,6% dan 1,6%.
Perusahaan sektor kesehatan menyusul dengan penurunan 1,6%, terpukul oleh anjloknya saham Zealand Pharma sebesar 36% dan penurunan Roche 2,9% setelah hasil uji tahap menengah obat obesitas eksperimentalnya tidak memenuhi ekspektasi investor.
Sementara itu, data menunjukkan ekonomi AS secara tak terduga kehilangan lapangan kerja bulan lalu dan tingkat pengangguran meningkat, yang berpotensi mengindikasikan memburuknya kondisi pasar tenaga kerja.
Data tersebut muncul ketika bank sentral global berhati-hati dalam menentukan kebijakan moneter di tengah harga minyak yang mencapai level tertinggi dalam beberapa bulan.
"Hal ini menempatkan The Fed pada posisi yang sulit, terutama karena lonjakan harga minyak menambah tekanan inflasi jangka pendek ... dengan ketidakpastian geopolitik global yang tinggi, wajar jika pertumbuhan lapangan kerja tetap lemah dalam beberapa bulan ke depan," kata Angelo Kourkafas, ahli strategi global senior di Edward Jones.
Namun, pembuat kebijakan di European Central Bank meremehkan kebutuhan untuk mengambil tindakan cepat menghadapi situasi tersebut, meskipun Eropa masih sangat bergantung pada impor minyak melalui Strait of Hormuz.
"Eropa sedikit lebih terekspos terhadap harga minyak yang lebih tinggi dan ada kekhawatiran kita akan melihat lingkungan stagflasi," kata Ciaran Callaghan, kepala riset saham Eropa di Amundi.
Indeks energi di STOXX 600 menjadi satu-satunya sektor yang ditutup menguat pada hari itu, naik 0,8%.
Perusahaan pertahanan naik tipis seiring prospek peningkatan permintaan senjata. Rheinmetall dan Leonardo masing-masing naik 2,9% dan 3,4%, sementara indeks sektor pertahanan yang lebih luas naik 1%.
Indeks volatilitas STOXX, yang sering disebut sebagai indikator ketakutan pasar Eropa, sempat melonjak ke level tertinggi sejak April pada awal pekan dan tetap tinggi pada Jumat.
Di antara saham lainnya, Sectra melonjak 14% dan menjadi yang teratas di STOXX 600 setelah perusahaan IT pencitraan medis tersebut melaporkan kenaikan laba kuartal ketiga.
Universal Music Group, label musik terbesar di dunia, turun 8,1% setelah laba bersih yang dapat diatribusikan kepada pemegang saham menurun. Perusahaan juga menunda rencana pencatatan saham di bursa AS.
(reuters)

Sumber : admin