Krisis Timur Tengah Angkat Saham Energi dan Pertahanan, Bursa Eropa Menghijau
Thursday, July 23, 2026       03:32 WIB
  • Bursa Eropa naik didorong saham energi dan pertahanan di tengah lonjakan harga minyak.
  • Investor fokus pada risiko inflasi, ECB, serta kinerja Alphabet dan Tesla.
  • Airbus dan Randstad memimpin penguatan saham individual.

Ipotnews - Bursa ekuitas Eropa berakhir di zona hijau, Rabu, didorong penguatan saham sektor energi dan pertahanan di tengah melonjaknya harga minyak akibat meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah.
Indeks STOXX 600 ditutup naik 0,58% atau 3,74 poin menjadi 646,93, demikian laporan  Reuters  dan   CNBC ,  di Bengaluru, Rabu (22/7) atau Kamis (23/7) dini hari WIB.
Bursa regional utama juga semringah. Indeks DAX Jerman menguat 0,58% atau 144,06 poin jadi 25.155,41, FTSE 100 Inggris meningkat 1,24% atau 131,06 poin ke posisi 10.716,97 dan CAC Prancis bertambah 0,89% atau 74,75 poin menjadi 8.437,89.
Sebagian besar sektor mencatatkan kenaikan, dengan saham dirgantara dan pertahanan memimpin penguatan setelah melambung 2,6%.
Sektor energi juga menjadi penopang utama pasar dengan kenaikan 0,8%, seiring harga minyak mentah Brent menembus USD93 per barel, level tertinggi dalam enam pekan. Lonjakan harga minyak terjadi setelah kapal tanker yang membawa minyak Saudi menuju Asia dilaporkan berbalik arah dari Laut Merah menyusul ancaman dari kelompok Houthi Yaman yang didukung Iran.
Kembalinya eskalasi konflik di Timur Tengah memicu kekhawatiran baru terhadap inflasi global. Situasi ini menjadi perhatian investor karena kawasan Eropa sangat bergantung pada impor energi, sehingga kenaikan harga minyak berpotensi meningkatkan tekanan biaya dan memperlambat aktivitas ekonomi.
Di sisi lain, saham perusahaan teknologi dalam STOXX 600 justru melemah 0,5% menjelang publikasi laporan keuangan kuartalan Alphabet dan Tesla di Amerika Serikat setelah penutupan pasar. Investor mencermati hasil kinerja kedua perusahaan tersebut untuk mendapatkan petunjuk mengenai keberlanjutan reli saham-saham yang terkait dengan kecerdasan buatan (AI).
Dalam beberapa bulan terakhir, sektor teknologi mengalami volatilitas cukup tinggi karena investor berupaya menyeimbangkan prospek pertumbuhan yang didorong AI dengan valuasi yang dinilai semakin mahal, khususnya pada saham-saham produsen chip yang telah mencatat kenaikan spektakuler di Wall Street maupun pasar Asia sepanjang tahun ini.
Kepala Analis Pasar IG, Chris Beauchamp, mengatakan pergeseran dana dari sektor teknologi ke sektor lain justru membantu kinerja pasar Eropa secara keseluruhan.
Menurutnya, pasar Eropa sejauh ini masih mampu bertahan meski harga minyak terus menguat. Dia menambahkan perhatian investor kini beralih ke Amerika Serikat, terutama pada laporan laba Alphabet sebagai salah satu perusahaan hyperscaler pertama yang melaporkan kinerja keuangan, yang diharapkan dapat mengalihkan perhatian pasar dari situasi Timur Tengah yang semakin memburuk.
Dari sisi kebijakan moneter, Bank Sentral Eropa (ECB) secara luas diperkirakan mempertahankan suku bunga acuannya pada pertemuan Kamis, meski harga minyak kembali meningkat. Namun, berdasarkan data LSEG , pelaku pasar masih memperhitungkan setidaknya satu kenaikan suku bunga sebesar 25 basis poin hingga akhir tahun, dengan peluang sekitar 60% untuk kenaikan kedua.
Investor juga terus memantau dampak konflik Timur Tengah terhadap kinerja korporasi di berbagai sektor.
Saham Airbus meroket 7% setelah produsen pesawat asal Eropa itu mengumumkan program pembelian kembali saham (share buyback) senilai 5 miliar euro atau sekitar USD5,7 miliar. Airbus juga memperkenalkan target jangka menengah baru yang mencakup hampir dua kali lipat pertumbuhan laba hingga 2029.
Sementara itu, saham Nestle melompat 2,2% setelah  Financial Times  melaporkan bahwa perusahaan investasi Platinum Equity semakin dekat untuk mencapai kesepakatan pembelian sekitar 50% saham bisnis air minum Nestle di Eropa.
Di Finlandia, saham produsen peralatan penanganan muatan Hiab melesat 11,2% setelah perusahaan melaporkan peningkatan pesanan pada kuartal kedua yang melampaui ekspektasi pasar.
Salah satu bintang perdagangan hari itu adalah Randstad. Perusahaan penyedia tenaga kerja terbesar di dunia yang berbasis di Belanda tersebut melambung hampir 14%, menjadi saham dengan kinerja terbaik di STOXX 600. Kenaikan tajam itu terjadi setelah Randstad membukukan pendapatan kuartalan yang melampaui perkiraan analis dan memberikan sinyal pemulihan permintaan di sejumlah pasar utamanya. Penguatan tersebut menjadi kenaikan harian terbesar saham Randstad sejak 2008.
Dari Inggris, sentimen pasar juga mendapat dukungan setelah data menunjukkan inflasi Juni melambat lebih besar dari perkiraan. Penurunan inflasi tersebut memberikan dorongan bagi Perdana Menteri baru Inggris, Andy Burnham, yang tengah berupaya menekan biaya hidup dan meringankan beban rumah tangga. (Reuters/CNBC/AI)

Sumber : Admin