Laba BMRI Lampaui Konsensus, Target Harga Saham Hingga Rp6.400
Wednesday, February 18, 2026       06:56 WIB
  • mencatat laba bersih 2025 sebesar Rp56,3 triliun, sesuai estimasi dan melampaui konsensus, dengan kualitas aset tetap solid.
  • Pertumbuhan 2026 diproyeksikan ditopang pendapatan non-bunga dan monetisasi platform digital, dengan laba diperkirakan naik sekitar 6%.
  • Sekuritas merekomendasikan buy saham dengan target harga Rp6.050-Rp6.400, didukung valuasi yang dinilai masih menarik.

Ipotnews - PT Bank Mandiri Tbk () mencatatkan kinerja keuangan solid sepanjang 2025 dengan laba bersih yang tidak hanya sejalan dengan estimasi, tetapi juga melampaui konsensus analis. Prospek pertumbuhan laba serta valuasi yang dinilai masih menarik mendorong sejumlah sekuritas mempertahankan rekomendasi beli dengan target harga saham yang relatif tinggi.
Bank Mandiri membukukan laba bersih sebesar Rp18,6 triliun pada kuartal IV-2025, meningkat 40% secara kuartalan (qoq) dan 35% secara tahunan (yoy). Secara kumulatif, laba bersih sepanjang 2025 mencapai Rp56,3 triliun atau tumbuh 1% yoy, seperti dilansir Investor, Rabu (18/2).
Analis MNC Sekuritas, Victoria Venny, menilai pencapaian tersebut berada di atas ekspektasi pasar. Menurutnya, laba bersih Bank Mandiri telah mencapai 101% dari estimasi internal dan 110% dari konsensus analis.
Dari sisi profitabilitas, margin bunga bersih (net interest margin/NIM) tercatat sebesar 4,9% pada 2025, turun 26 basis poin yoy. Penurunan ini terutama dipengaruhi oleh melemahnya yield kredit, meski sebagian tertahan oleh penurunan biaya dana (cost of fund). Meski demikian, kualitas aset tetap terjaga dengan rasio kredit bermasalah (non-performing loan/NPL) sebesar 1,1% dan loan at risk (LAR) di level 6,5%.
Pertumbuhan bisnis Bank Mandiri masih didorong oleh ekspansi kredit yang meningkat 13% yoy atau 7% qoq. Segmen korporasi menjadi motor utama dengan pertumbuhan 23% yoy, diikuti kredit komersial yang naik 12% yoy. Di sisi pendanaan, dana pihak ketiga (DPK) tumbuh kuat, terutama dari yang meningkat 12,6% yoy menjadi Rp1.431 triliun. Loan to deposit ratio (LDR) juga tetap terjaga di kisaran 89%.
Untuk 2026, manajemen menargetkan pertumbuhan kredit sebesar 7-9% yoy, NIM di kisaran 4,6-4,8%, cost of credit (CoC) sebesar 0,6-0,8%, serta cost to income ratio (CIR) di level 42-43%.
Analis Indo Premier Sekuritas, Jovent Muliadi dan Axel Azriel, memproyeksikan pertumbuhan laba Bank Mandiri pada 2026 akan semakin ditopang oleh pendapatan non-bunga, terutama dari peningkatan fee berbasis platform digital. Monetisasi aplikasi Livin' yang lebih agresif dinilai berpotensi meningkatkan kontribusi pendapatan berbasis komisi.
Selain itu, beban operasional diperkirakan relatif stabil setelah adanya penyesuaian satu kali pada 2025. Secara konservatif, opex diproyeksikan hanya tumbuh sekitar 3% yoy, sehingga CIR berpotensi turun menjadi 44% pada 2026 dari 46% pada tahun sebelumnya. Indo Premier memperkirakan laba bersih dapat tumbuh sekitar 6% menjadi Rp58,7 triliun, atau 6,3% di atas konsensus pasar.
Dari sisi rekomendasi, Indo Premier Sekuritas menetapkan sebagai salah satu saham pilihan utama di sektor perbankan bersama Bank Negara Indonesia (). Rekomendasi beli diberikan dengan target harga Rp6.400 per saham, didukung valuasi yang dinilai masih menarik dengan rasio price to book value (P/B) 1,4 kali dan price to earnings (P/E) 8,1 kali, lebih rendah dibandingkan rata-rata historis 10 tahun.
Sementara itu, MNC Sekuritas juga mempertahankan rekomendasi beli dengan target harga Rp6.050 per saham, mencerminkan estimasi P/B 2026 dan 2027 masing-masing sebesar 1,8 kali dan 1,7 kali.
Sepanjang 2025, kinerja Bank Mandiri ditopang oleh pertumbuhan pendapatan bunga bersih (net interest income/NII) yang mencapai Rp106 triliun. Selain itu, pendapatan non-bunga meningkat 14,5% yoy menjadi Rp48,5 triliun, mencerminkan keberhasilan diversifikasi sumber pendapatan melalui peningkatan aktivitas transaksi nasabah dan penguatan layanan berbasis ekosistem digital.
Direktur Utama Bank Mandiri, Riduan, menegaskan bahwa penguatan fundamental dilakukan secara disiplin melalui pengelolaan kualitas aset, likuiditas, dan profitabilitas guna menopang pertumbuhan jangka panjang.
Di sisi lain, perseroan juga menanggapi outlook negatif dari Moody's terhadap lima bank besar di Indonesia, termasuk Bank Mandiri. Corporate Secretary , Adhika Vista, menyatakan bahwa penilaian tersebut dipengaruhi berbagai faktor eksternal, seperti dinamika makroekonomi dan pergerakan nilai tukar.
Menurutnya, hal tersebut menjadi pengingat bagi perseroan untuk memperkuat langkah antisipatif melalui pengelolaan likuiditas dan permodalan yang prudent, serta menjaga kualitas pembiayaan dan disiplin manajemen risiko guna memastikan pertumbuhan yang berkelanjutan ke depan. (AI)

Sumber : Investor