- Rupiah turun ke Rp17.794 per USD, berisiko menembus Rp18.000 akibat tekanan eksternal dan libur nasional yang membatasi intervensi BI.
- Eskalasi konflik di Timur Tengah, perang Rusia-Ukraina, serta serangan Israel ke Lebanon mendorong penguatan dolar AS dan menekan Rupiah.
- Lonjakan harga minyak, defisit transaksi berjalan melebar, surplus perdagangan menyusut, serta meningkatnya PHK massal memperburuk sentimen terhadap Rupiah.
Ipotnews - Nilai tukar Rupiah kembali tertekan signifikan pada perdagangan hari ini, melemah 51 poin ke posisi Rp17.781 per dolar AS (hingga penutupan perdagangan sesi I). Pelemahan ini menimbulkan kekhawatiran serius, terutama menjelang libur nasional besok yang berpotensi menambah tekanan eksternal.
Pengamat Mata Uang dan Komoditas, Ibrahim Assuaibi, menegaskan pelemahan rupiah kali ini tidak bisa dilepaskan dari eskalasi geopolitik di Timur Tengah. Apalagi besok libur nasional, dimana Bank Indonesia tidak bisa melakukan intervensi di pasar domestik, sehingga tekanan eksternal berpotensi akan semakin tinggi.
Ketegangan di Timur Tengah yang kembali meningkat setelah Amerika Serikat melakukan serangan ke wilayah Iran Selatan akan memperpanjang ketidakpastian pasar, meski sebelumnya sempat muncul draft kesepakatan damai yang diprakarsai Pakistan dan Oman. Ibrahim menilai sikap AS yang berubah-ubah memperburuk situasi.
"Apa yang dikatakan Trump yang berubah-ubah ini kemungkinan besar akan membuat tensi geopolitik di Timur Tengah kembali memanas," jelas Ibrahim dalam ulasannya kepada awak media melalui grup WA, Selasa (26/5).
Selain Timur Tengah, konflik di Eropa Timur juga menambah ketidakpastian global. Rusia terus membombardir Ukraina dengan persenjataan canggih, sementara Israel memperluas serangan ke Lebanon Selatan. Kondisi ini membuat dolar AS kembali menguat, menekan mata uang negara berkembang termasuk rupiah.
Dampak lain terlihat dari lonjakan harga minyak mentah dunia. Harga WTI crude oil pagi ini sudah menembus USD92 per barel dan diperkirakan masih akan naik. Dengan naiknya harga minyak, maka kebutuhan dolar akan turut meningkat.
"Kenaikan harga minyak mentah yang cukup tinggi ini berdampak terhadap impor minyak Indonesia. Kebutuhan dolar untuk memenuhi impor semakin besar," katanya.
Tekanan eksternal tersebut diperparah oleh masalah domestik dimana defisit transaksi berjalan melebar menjadi USD4,01 miliar pada kuartal I 2026, jauh lebih tinggi dibandingkan USD0,15 miliar pada periode yang sama tahun sebelumnya. Surplus perdagangan juga menyusut dari USD13,07 miliar menjadi hanya USD7,98 miliar.
Kondisi ini turut memukul sektor riil. Sejak Januari hingga Mei 2026, tercatat 15.425 pekerja terkena PHK akibat perusahaan yang bergantung pada impor mengalami kesulitan.
"PHK massal ini kemungkinan besar dalam bulan-bulan berikutnya akan terus meningkat, sehingga memperburuk sentimen terhadap Rupiah," paparnya.
Pasar juga menyoroti kebijakan ekspor satu pintu yang dinilai menambah beban bagi pelaku usaha. Jika tidak diantisipasi, kebijakan ini berpotensi memicu penurunan peringkat utang Indonesia oleh lembaga internasional.
Dengan kombinasi tekanan eksternal dan domestik, Rupiah diperkirakan masih berisiko melemah lebih dalam. Target psikologis Rp18.000 per dolar AS disebut-sebut bisa tercapai dalam pekan ini jika ketegangan global tidak mereda.
(Marjudin/ AI)
Sumber : admin