MNC dan Pluang Pasang Target Tinggi BUMI, ADRO Usai Net Sell Asing
Monday, September 21, 2026       02:28 WIB

AI News - Investor asing menjual bersih saham

(Rp 178,7 miliar) dan (Rp 169,7 miliar) pada periode 14-18 September 2026, sementara MNC Sekuritas menargetkan pada Rp 300 dan Pluang Maju Sekuritas menargetkan pada Rp 3.450 dalam horizon 12 bulan.

Poin Penting

  • Net sell asing : Rp 178,7 miliar; : Rp 169,7 miliar.
  • Target harga : Rp 300 (EV/EBITDA 31,9x 2026, 23,4x 2027) oleh MNC Sekuritas.
  • Target harga : Rp 3.450 dalam 12 bulan oleh Pluang Maju Sekuritas.
  • Harga penutupan 18 Sep 2026: Rp 193, Rp 2.640.

Mengapa Investor Asing Menjual Besar dan pada Minggu Ini?


Investor asing menjual bersih saham dan senilai Rp 178,7 miliar serta Rp 169,7 miliar pada periode 14-18 September 2026. BeritaSatu melaporkan bahwa penjualan tersebut terjadi di pasar reguler BEI, sementara Investor.id menegaskan bahwa harga penutupan turun 4,4 % ke Rp 193 dan turun 1,1 % ke Rp 2.640 pada Jumat 18 September. Meskipun menunjukkan kenaikan 6,6 % dalam sebulan, penurunan YTD sebesar 47,2 % dan penurunan mingguan 8,9 % tampak memicu aksi jual karena investor menganggap risiko penurunan nilai jangka pendek lebih tinggi dibandingkan potensi pemulihan. Aliran dana asing beralih ke saham tambang lain, terutama yang memperoleh net buy terbesar sebesar Rp 367,1 miliar, mengindikasikan rotasi modal dari dan ke perusahaan yang diperkirakan memiliki prospek pertumbuhan lebih kuat.

Apa Implikasi Target Harga Tinggi MNC dan Pluang Terhadap Prospek dan ?


MNC Sekuritas menetapkan target harga Rp 300, sementara Pluang Maju Sekuritas menargetkan pada Rp 3.450 dalam horizon 12 bulan. Menurut MNC Sekuritas, target mencerminkan valuasi EV/EBITDA sebesar 31,9 kali untuk 2026 dan 23,4 kali untuk 2027, yang didasarkan pada pendekatan sum-of-the-parts yang menggabungkan DCF untuk aset yang sudah beroperasi dan valuasi EV/resource untuk proyek pengembangan. Pluang Maju menilai nilai didorong oleh diversifikasi pendapatan melalui bisnis aluminium yang mulai berkontribusi, serta potensi penambahan kuota produksi 10-12 % berkat revisi RKAB , sementara valuasi sektor batu bara masih berada di bawah rata-rata historis. Meskipun kedua sekuritas mengangkat prospek, mereka juga mencatat risiko signifikan, termasuk potensi keterlambatan proyek, kinerja mineral yang di bawah ekspektasi, perubahan regulasi, dan harga komoditas yang lebih rendah daripada perkiraan.

Bagaimana Perbandingan Aliran Dana Asing Antara Sektor Pertambangan dan Perbankan Selama Periode yang Sama?


Data Stockbit yang diakses pada 20 September 2026 menunjukkan bahwa aliran dana asing selama minggu 14-18 September berbalik arah antara sektor pertambangan dan perbankan. Investor.id melaporkan net buy terbesar di sektor tambang terjadi pada sebesar Rp 367,1 miliar, diikuti Rp 184,8 miliar, Rp 108,4 miliar, dan Rp 104,1 miliar, menandakan minat kuat pada logam dan emas. Sebaliknya, sektor perbankan mengalami net sell yang jauh lebih besar, dengan terjual Rp 702,5 miliar, Rp 626,8 miliar, dan Rp 204,4 miliar, mencerminkan penarikan likuiditas atau rotasi ke aset yang dipandang lebih menguntungkan. Perbedaan magnitude aliran dana ini mengindikasikan bahwa investor asing menilai prospek pertumbuhan jangka pendek lebih menjanjikan di bidang pertambangan dibandingkan sektor keuangan, setidaknya dalam periode tersebut.

Apa Risiko Utama yang Dinyatakan Sekuritas Terhadap dan ?


MNC Sekuritas mengidentifikasi risiko utama bagi , termasuk potensi keterlambatan proyek, kinerja aset mineral yang di bawah ekspektasi, perubahan regulasi perizinan, serta harga komoditas yang lebih rendah dari perkiraan. Pluang Maju Sekuritas menambahkan bahwa ketergantungan pada batu bara tetap tinggi meski diversifikasi aluminium meningkat, sehingga fluktuasi harga batu bara tetap menjadi faktor risiko utama. KB Valbury Sekuritas, yang menurunkan target menjadi Rp 750 dari Rp 1.060, menyoroti tekanan kelebihan pasokan emas domestik dan asumsi harga emas yang direvisi turun menjadi US$ 4.400-4.500 per ons, yang dapat menurunkan laba bersih perusahaan. Ketiga pendapat ini menegaskan bahwa meskipun ada prospek kenaikan harga target, investor harus memperhitungkan ketidakpastian operasional dan pasar komoditas dalam menilai nilai jangka panjang saham tambang tersebut.

 Disclaimer: This article was produced automatically by Artificial Intelligence (AI) through the compilation and synthesis of information from multiple news sources. It is not independent reporting and does not constitute investment advice. 


Sumber : AI News