- Rupiah depresiasi moderat 0,3% sejak eskalasi perang.
- Kinerja rupiah relatif lebih baik dibanding peers (Thailand, Malaysia, Korea).
- Fondasi ekonomi kuat, saham diproyeksi naik bertahap.
Ipotnews - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat pada Februari 2026 menunjukkan pelemahan moderat, namun tetap lebih baik dibandingkan sejumlah mata uang negara peers.
Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan bahwa tekanan keuangan domestik masih dalam batas yang dapat dikelola meski tensi geopolitik global meningkat seperti adanya perang antara Amerika Serikat (AS) dan Israel Vs Iran.
"Sejak eskalasi perang, rupiah hanya terdepresiasi 0,3 persen, jauh lebih baik dari mata uang di sekeliling kita seperti Thailand, Malaysia, dan Korea. Ini berkat koordinasi fiskal-moneter yang kuat," ujar Purbaya dalam konferensi pers APBN KiTA, Rabu (11/3).
Ia menambahkan bahwa pelemahan rupiah tidak seharusnya dilihat dari sisi negatif semata, melainkan dari seberapa besar ketahanannya dibandingkan negara lain. Di periode yang sama sejumlah negara tetangga justru mengalami pelemahan nilai tukar mata uangnya secara lebih dalam seperti Malaysia terdepresiasi 0,5 persen, Thailand -1,6 persen, Filipina -1,4 persen. Bahkan Korea terkoreksi -3,3 persen.
"Meski saya dimaki-maki orang, dibilang 'Pak Purbaya kerjanya apa aja tuh rupiah liatin'. Kalau dinilai secara fair, fondasi ekonomi kita baik dan kebijakan fiskal-moneter kita dianggap mampu menjaga stabilitas," tegasnya.
Purbaya juga optimistis bahwa fundamental ekonomi yang solid akan mendorong pemulihan pasar saham secara bertahap. "Kalau ekonomi fundamentalnya bagus, maka pelan-pelan saham akan naik lagi ke level yang lebih baik dari sekarang," katanya.
(Marjudin/ AI)
Sumber : admin