- STOXX 600 turun 0,55% akibat lonjakan minyak di atas USD100/barel.
- Yield obligasi Jerman 10 tahun 3,611%, dekat level tertinggi 17 tahun.
- Investor mencermati pertemuan Trump-Xi dan gencatan dagang AS-China.
Ipotnews - Bursa ekuitas Eropa merosot, Kamis, setelah harga minyak kembali melesat di tengah memudarnya harapan negosiasi antara Amerika Serikat dan Iran. Kondisi tersebut membuat imbal hasil obligasi zona euro bertahan di dekat level tertinggi dalam beberapa tahun dan menekan minat investor terhadap aset berisiko.
Indeks pan-Eropa STOXX 600 ditutup turun 0,55% atau 3,49 poin menjadi 636,43, demikian laporan Reuters dan CNBC , di Bengaluru, Kamis (24/9) atau Jumat (25/9) dini hari WIB.
Sementara sebagian besar bursa utama regional juga berakhir di zona merah. Indeks DAX Jerman melemah 0,57% atau 144,10 poin jadi 25.266,53, FTSE 100 Inggris menyusut 0,24% atau 25,27 poin ke posisi 10.679,99 dan CAC Prancis berkurang 0,52% atau 41,98 poin menjadi 8.081,43.
Pejabat Iran dilaporkan berkomunikasi dengan utusan Amerika di sela-sela Sidang Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Namun, kedua pihak memberikan sinyal minimnya kemajuan dalam upaya mengakhiri konflik.
"Saya tidak akan berharap terlalu banyak pada penyelesaian cepat atas kebuntuan di Timur Tengah. Kedua pihak cukup keras kepala dan perbedaan mereka sulit didamaikan," kata Yasser El-Shimy, analis Motley Fool.
Harga minyak melonjak untuk hari kedua setelah sebelumnya turun selama lima sesi berturut-turut. Harga minyak mentah Brent bertahan di atas level penting USD100 per barel, sehingga kembali meningkatkan kekhawatiran terhadap tekanan inflasi dan kebijakan moneter.
Sektor energi menjadi penguat utama di bursa Eropa dengan lompatan 1,1%. Sektor makanan dan minuman naik 0,7%, sedangkan saham barang kebutuhan pribadi dan rumah tangga menguat 0,2%.
Sebaliknya, saham sektor kesehatan yang secara tradisional dipandang sebagai aset defensif sedikit melemah dibandingkan sektor lainnya. Saham teknologi anjlok 1,6%, sementara sektor barang industri yang mencakup saham-saham pertahanan melorot 1,4%.
Di pasar obligasi, imbal hasil surat utang pemerintah Jerman bertenor 10 tahun yang menjadi acuan zona euro berada di 3,611%. Level tersebut hanya sedikit di bawah posisi tertinggi dalam 17 tahun yang dicapai pekan lalu.
Kenaikan harga minyak memperkuat alasan bagi Bank Sentral Eropa (ECB) untuk mempertahankan kebijakan moneter ketat lebih lama guna mengendalikan inflasi.
Anggota Dewan ECB Isabel Schnabel juga mengundurkan diri untuk mengambil posisi senior di Dana Moneter Internasional (IMF), yang memicu proses perombakan di jajaran bank sentral tersebut.
"Ini bukan hanya soal apa yang terjadi di pasar minyak. Investor obligasi juga mulai khawatir terhadap tingginya kebutuhan pembiayaan pemerintah, defisit yang terus berlangsung, serta besarnya penerbitan obligasi baru," kata Dan Coatsworth, Head of Markets AJ Bell.
Meski demikian, Coatsworth menilai tekanan terhadap saham masih relatif terbatas karena investor tetap mendapat dukungan dari pertumbuhan laba perusahaan yang cukup baik.
Pertemuan Trump-Xi
Perhatian investor juga tertuju pada pertemuan antara Presiden AS Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping di Washington. Investor berharap pertemuan tersebut menghasilkan kemajuan dalam hubungan perdagangan kedua negara.
Menteri Keuangan AS Scott Bessent mengatakan Washington dan Beijing sepakat memperpanjang gencatan perdagangan hingga 10 Januari.
Trump dan Xi diperkirakan membahas berbagai isu, mulai dari Taiwan dan konflik Iran hingga kekhawatiran mengenai perkembangan kecerdasan buatan (AI).
Di tingkat saham individual, Shelly Group melesat 4% setelah Schneider menyatakan rencana meluncurkan tawaran pengambilalihan senilai 1,2 miliar euro atau sekitar USD1,4 miliar terhadap produsen perangkat pintar asal Bulgaria tersebut.
Saham Vistry anjlok 3% setelah perusahaan pengembang perumahan Inggris itu memangkas proyeksi laba tahunan di tengah restrukturisasi strategis.
Sementara itu, saham H&M terkoreksi 2% meskipun peritel fesyen asal Swedia tersebut melaporkan kenaikan laba operasional periode Juni-Agustus yang lebih besar dari perkiraan. (Reuters/CNBC/AI)
Sumber : Admin