
Wall Street ditutup flat seiring kenaikan harga komoditas energi memicu kekhawatiran inflasi dan menekan mayoritas saham yang sensitif seperti consumer, perbankan dan transportasi -- namun diimbangi dengan lonjakan saham di sektor energi.
- S&P 500 naik tipis 0.04%, memangkas kejatuhan lebih dari 1% di awal perdagangan.
- Kekhawatiran inflasi karena kenaikan harga minyak dunia membuat treasury mengalami aksi sell-off dengan US 10y yield naik ?12bps ke level 4.04% dan membuat outlook pemangkasan suku bunga Fed menjadi lebih tidak menentu.

Kenaikan harga energy meluas ke berbagai komoditas, dengan LNG mengalami lonjakan paling drastis setelah QatarEnergy yang berkontribusi pada hampir 20% supply ekspor LNG global akan menghentikan produksi setelah drone Iran menargetkan fasilitasnya.
- LNG dipasar Eropa naik 35.5% ke level EUR43.3/MWh, sementara LNG dipasar Asia naik 24.6% ke level $13.4/mmBtu.
- Batubara thermal newcastle naik 8.6% ke level $128/ton (level tertinggi sejak 1 tahun terakhir).
- Minyak WTI mempertahankan gain 6%-nya pada level $71/barrel.

Berlanjutnya serangan US dan Israel vs Iran menyebar di negara wilayah Timur tengah dekat jalur perdagangan vital Minyak dan LNG di selat Hormuz menyebabkan lonjakan harga energy global ke level tertinggi sejak pecah perang Rusia - Ukraina tahun 2022 lalu.

Dengan potensi konflik jangka panjang saat ini sepertinya "on table" pasar global bersiap menghadapi resiko lonjakan inflasi karena kenaikan harga energy yang memicu bank sentral global menahan kebijakan penurunan suku bunga, atau malah berbalik pada kebijakan yang lebih hawkish.
Dalam skenario ini, tekanan berpotensi menyebar keseluruh sektor, sementara energy akan menjadi satunya sektor yang akan diuntungkan:
- Energy: , , , menjadi pilihan utama, seiring lonjakan harga minyak dunia akan menyebar luas ke komoditas substitusi energi lainnya seperti LNG dan Batubara.
- Emas: Diperkirakan menguat terbatas, demand safe haven karena konflik akan dibebani outlook kenaikan suku bunga seiring tekanan inflasi -- jadi pilihan utama.
Dari dalam negeri, pelaku pasar merespons negatif rilis ekonomi kemarin:
- Neraca perdagangan mencatat surplus terendah sejak 9-bulan terakhir tertekan defisit oil dan gas
- Inflasi naik 4.76% yoy pada Feb26 (vs 3.55% pada Jan26) namun lebih disebabkan lowbase effect Ramadhan
o
Laba bersih FY25 mencapai Rp4.0 triliun 32.6% yoy, melampaui estimasi konsensus. Kinerja impresif ini didorong oleh hasil 4Q25 yang melesat 72.5% yoy berkat penguatan harga broiler dan DOC serta peningkatan margin di seluruh segmen bisnis. Prospek positif diperkirakan berlanjut ke 1Q26F seiring momentum harga jual yang solid dan stabilitas harga bahan baku pakan.
o
Kinerja 4Q25 mencatatkan pertumbuhan penjualan sebesar 4.5% yoy yang didorong oleh lonjakan segmen makanan dan minuman (+34.4% yoy) sehingga mampu mengompensasi pelemahan di segmen herbal (-5.7% yoy). Meskipun efisiensi biaya operasional membaik, penurunan margin laba kotor akibat perubahan bauran produk dan risiko pelemahan daya beli konsumen tetap menjadi perhatian utama.
o
Danantara Indonesia dan secara resmi menandatangani CSSA guna memperkuat kapasitas produksi Caustic Soda dan Ethylene Dichloride (EDC) domestik dan meningkatkan ketahanan pasokan dalam negeri (IDX)
Agenda Korporasi
03/03: RUPS : , ,
04/03: RUPS :
05/03: Right Issue Cumdate:
Waran Cumdate:
RUPS : , ,
06/03: RUPS :
08/03: RUPS : ,
Disclaimer On
IPOT Platinum Club
Sumber : IPS