- Indeks S&P 500 ditutup melemah tipis setelah saham-saham chip AI anjlok tajam, sementara kekhawatiran terhadap profitabilitas investasi AI terus membayangi pasar.
- Saham Moderna melonjak hampir 13% ke level tertinggi sejak 2024, sedangkan Apple bangkit setelah sebelumnya tertekan akibat kenaikan harga produk karena mahalnya chip memori.
- Investor masih mencermati risiko kenaikan suku bunga The Fed, sementara laporan mengenai kemungkinan penundaan IPO OpenAI turut menekan sentimen terhadap saham-saham AI.
Ipotnews - Indeks S&P 500 ditutup melemah tipis pada Jumat (26/6) akhir pekan ini, dengan penurunan tajam saham-saham produsen chip terkait kecerdasan buatan (AI). Sementara saham Moderna dan sejumlah saham sektor kesehatan melonjak.
Indeks semikonduktor PHLX merosot 5,3%, menegaskan tingginya volatilitas di kalangan produsen chip berbasis AI yang selama beberapa tahun terakhir menjadi pendorong utama penguatan Wall Street. Meskipun sebagian investor masih optimistis AI akan mendorong pertumbuhan laba perusahaan, sebagian lainnya mulai khawatir bahwa investasi besar-besaran untuk membangun pusat data AI membutuhkan waktu yang terlalu lama untuk menghasilkan keuntungan.
"Masih terlalu dini untuk menyimpulkan bahwa koreksi besar sedang terbentuk di sektor teknologi, tetapi yang jelas adalah pertanyaan mengenai profitabilitas dan besarnya belanja modal (capex) tidak akan hilang begitu saja," kata David Stubbs, Chief Investment Strategist di AlphaCore Wealth Advisory.
Stubbs juga memperingatkan bahwa Wall Street berpotensi rentan apabila perusahaan-perusahaan Amerika Serikat tidak mampu memenuhi ekspektasi laba tinggi yang telah dipasang investor.
Saham Apple melonjak 3,1% dan berhasil memangkas sebagian kerugian setelah aksi jual pada Kamis, ketika perusahaan tersebut menaikkan harga iPad dan MacBook dengan alasan melonjaknya biaya chip memori dan penyimpanan.
Saham Moderna melonjak hampir 13% ke level tertinggi sejak 2024 setelah pengembang obat tersebut menggelar pertemuan dengan investor dan memaparkan pengembangan produk (pipeline) yang dimilikinya.
Delapan dari 11 sektor dalam indeks S&P 500 ditutup melemah, dipimpin sektor industri yang turun 3,41%, disusul sektor material yang melemah 2,45%.
Data pada Kamis menunjukkan inflasi Amerika Serikat naik di atas 4% pada Mei akibat perang Iran yang mendorong kenaikan harga energi, sehingga tetap membuka peluang kenaikan suku bunga oleh Federal Reserve.
Meskipun harga minyak telah turun tajam seiring meredanya ketegangan di Timur Tengah, kenaikan harga produk Apple yang baru diumumkan menunjukkan bahwa inflasi masih menjadi perhatian, kata Art Hogan, Chief Market Strategist di B. Riley Wealth.
"Kami melihat dinamika yang serupa pada masa pandemi ketika gangguan rantai pasok membatasi ketersediaan semikonduktor. Kini, kita kembali menyaksikan guncangan pasokan yang serupa, kali ini dipicu oleh chip memori, yang kembali menciptakan tekanan inflasi," ujar Hogan.
Indeks S&P 500 turun 0,05% dan ditutup di level 7.353. Nasdaq turun 0,24% menjadi 25.297. Sedangkan Dow Jones Industrial Average melemah 0,09% ke posisi 51.876. Sepanjang pekan, S&P 500 turun 2,05%, sedangkan Nasdaq merosot 4,7%.
Indeks semikonduktor kehilangan 7,9% sepanjang pekan, menjadi penurunan mingguan terburuk sejak awal April. Laporan yang menyebutkan bahwa OpenAI sedang mempertimbangkan untuk menunda penawaran saham perdana (IPO) hingga tahun depan juga membebani sentimen terhadap saham-saham berbasis AI.
Saham SpaceX naik tipis 0,15%. Dana indeks pasif diperkirakan harus membeli saham perusahaan tersebut senilai miliaran dolar menjelang masuknya SpaceX ke dalam indeks Russell.
Sementara itu, kekhawatiran terhadap suku bunga masih berlanjut. Berdasarkan data LSEG , para pelaku pasar memperkirakan satu kali kenaikan suku bunga sebesar 25 basis poin serta peluang hampir 27% untuk kenaikan tambahan sebelum akhir tahun.
Sebuah survei menunjukkan sentimen konsumen Amerika Serikat pulih dari level terendah sepanjang sejarah pada Juni, meskipun rumah tangga masih mengkhawatirkan tingginya biaya hidup.
Saham ON Semiconductor anjlok hampir 24% setelah menyepakati akuisisi Synaptics melalui transaksi seluruhnya menggunakan saham dengan nilai sekitar US$7 miliar. Sementara itu, saham Synaptics turun 3,7%.
Jumlah saham yang menguat di indeks S&P 500 mengungguli saham yang melemah dengan rasio 1,8 berbanding 1.
Indeks S&P 500 mencatatkan 35 saham yang mencapai level tertinggi baru dalam 52 minggu dan lima saham yang menyentuh level terendah baru. Sementara itu, Nasdaq membukukan 263 saham yang mencetak rekor tertinggi baru dan 169 saham yang mencapai level terendah baru.
Volume perdagangan di bursa Amerika Serikat relatif tinggi, mencapai 30,1 miliar saham, dibandingkan rata-rata 23,1 miliar saham selama 20 sesi perdagangan sebelumnya.
(reuters)
Sumber : admin