- STOXX 600 mendatar, ditekan saham teknologi.
- Brent turun 7,2%, saham perjalanan naik.
- Pasar menanti keputusan the Fed.
Ipotnews - Bursa ekuitas Eropa nyaris tidak berubah di akhir perdagangan Senin, setelah kejatuhan saham teknologi menghapus dorongan positif dari meredanya ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran serta anjloknya harga minyak dunia.
Indeks pan-Eropa STOXX 600 ditutup naik tipis 0,02% atau 0,11 poin menjadi 644,62, setelah menyentuh level tertinggi sejak 7 Juli di awal sesi, sebelum akhirnya kehilangan momentum, demikian laporan Reuters dan CNBC , di Bengaluru, Senin (27/7) atau Selasa (28/7) dini hari WIB.
Tekanan terbesar datang dari sektor teknologi yang merosot 1,7%, berbalik arah setelah sempat menguat di awal perdagangan. Saham perusahaan pembuat mesin litografi asal Belanda, ASML , anjlok 8,4% menyusul laporan The Information yang menyebutkan bahwa China mulai memproduksi mesin litografi immersion deep ultraviolet (DUV) hasil pengembangan dalam negeri. Teknologi tersebut merupakan salah satu peralatan utama dalam industri manufaktur semikonduktor yang selama ini didominasi ASML .
Sentimen negatif tersebut turut menyeret emiten teknologi lainnya. Saham ASM International melorot 7,1%, sedangkan BE Semiconductor Industries merosot 9,7%.
Di sisi lain, harga minyak mentah Brent jatuh 7,2% hingga kembali berada di bawah level USD90 per barel setelah Washington menghentikan sementara serangan udara terhadap Iran. Sebagai balasan, Teheran menyatakan akan menghentikan serangan terhadap pangkalan militer Amerika Serikat di kawasan Timur Tengah.
Penurunan harga minyak memberikan angin segar bagi sektor perjalanan dan rekreasi yang melesat hampir 2%, didorong prospek biaya operasional maskapai yang lebih rendah. Saham Lufthansa, International Airlines Group (IAG), dan Ryanair masing-masing melonjak lebih dari 1%.
Sebaliknya, saham energi menjadi sektor dengan kinerja terburuk di STOXX 600 setelah terkoreksi 2%, seiring pelemahan harga minyak.
Chief Market Analyst IG, Chris Beauchamp, mengatakan ketahanan pasar saham Eropa saat ini banyak ditopang oleh pelemahan harga minyak yang cukup tajam.
"Ketahanan pasar saham Eropa didorong oleh pembalikan arah harga minyak, dan kondisi ini berpotensi bertahan apabila harga minyak mentah terus menurun," ujarnya.
Sebelumnya, meningkatnya konflik di Timur Tengah sempat memicu kekhawatiran baru mengenai inflasi, terutama di kawasan pengimpor energi seperti Eropa dan Asia, akibat lonjakan harga minyak.
Sementara, bursa regional Eropa kompak menghijau. Indeks DAX Jerman melonjak 1,04% atau 262,03 poin jadi 25.361,03, FTSE 100 Inggris menguat 0,42% atau 45,52 poin ke posisi 10.781,75 dan CAC Prancis meningkat 0,40% atau 33,78 poin menjadi 8.406,06.
Pelaku pasar kini mengalihkan perhatian pada keputusan kebijakan moneter Federal Reserve yang dijadwalkan diumumkan pada Rabu waktu setempat. Berdasarkan data LSEG , pasar secara luas memperkirakan bank sentral AS akan mempertahankan suku bunga acuannya, meski masih memperhitungkan peluang penurunan sebesar 25 basis poin sebelum akhir 2026.
Selain itu, investor juga menanti laporan kinerja sejumlah raksasa teknologi Amerika Serikat, termasuk Microsoft, Meta Platforms, Amazon, dan Apple, guna menilai apakah reli pasar yang didorong perkembangan kecerdasan buatan (AI) masih memiliki ruang untuk berlanjut.
Dari sisi emiten, saham AstraZeneca melompat 1,7% setelah perusahaan farmasi tersebut membukukan laba kuartal II yang melampaui ekspektasi analis sekaligus menegaskan kembali proyeksi kinerjanya untuk 2026.
Sementara itu, saham Vodafone melambung 4,9% setelah perusahaan telekomunikasi tersebut meningkatkan proyeksi bisnisnya menyusul akuisisi kepemilikan pengendali di operator seluler Kenya, Safaricom. Vodafone juga menyatakan optimistis mampu membukukan hasil pada kisaran atas dari target yang telah direvisi.
Di sisi lain, saham operator jaringan minimarket asal Polandia, Zabka, ambles 9,6% setelah perusahaan ritel Jepang Seven & I Holdings memutuskan untuk tidak melanjutkan rencana investasi potensial di perusahaan tersebut. (Reuters/CNBC/AI)
Sumber : Admin