Optimisme Reda Konflik Timur Tengah Dorong Bursa Eropa Catat Kenaikan Terbesar Sejak 2025
Wednesday, March 11, 2026       03:21 WIB
  • Bursa Eropa melonjak setelah pernyataan Trump memicu harapan perang AS-Israel vs Iran segera berakhir.
  • Kenaikan dipimpin saham bank seperti HSBC dan Banco Santander, mendorong penguatan indeks utama Eropa.
  • Harga minyak sempat bergejolak lalu turun; pasar juga menilai potensi dampaknya terhadap inflasi dan kebijakan ECB.

Ipotnews - Bursa ekuitas Eropa mencatat lonjakan harian terbesar sejak April tahun lalu, Selasa, setelah pasar global berspekulasi bahwa Presiden Donald Trump akan segera mengakhiri perang antara Amerika Serikat dan Israel melawan Iran. Harapan meredanya konflik tersebut mendorong sentimen investor dan memicu reli luas di berbagai sektor.
Indeks saham pan-Eropa STOXX 600 ditutup melesat 1,88 persen atau 11,20 poin menjadi 606,12. Kenaikan ini terjadi setelah indeks berakhir di level terendah dalam lebih dari dua bulan pada sesi Senin, mencerminkan kekhawatiran pasar terhadap eskalasi konflik di Timur Tengah dan lonjakan harga energi, demikian laporan  Reuters  dan   CNBC ,  di Bengaluru, Selasa (10/3) atau Rabu (11/3) dini hari WIB.
Saham sektor perbankan menjadi pendorong utama reli pasar. Setelah sebelumnya menjadi salah satu sektor yang paling terpukul akibat kekhawatiran investor, saham bank melambung 3,6 persen. Kenaikan dipimpin saham HSBC dan Banco Santander, yang memberikan kontribusi terbesar terhadap penguatan indeks STOXX 600.
Di tingkat negara, indeks saham Spanyol yang sarat dengan emiten sektor keuangan menjadi yang berkinerja terbaik dengan kenaikan 3,1 persen. Sementara itu, indeks saham Jerman DAX yang banyak berisi perusahaan eksportir juga mencatat lonjakan signifikan. Kedua indeks tersebut mencatat kenaikan harian paling tajam sejak April 2025.
Pada akhir sesi, DAX melejit 2,39 persen atau 559,26 poin menjadi 23.968,63, sementara FTSE 100 Inggris melompat 1,59 persen atau 162,72 poin ke posisi 10.412,24 dan CAC Prancis menguat 1,79 persen atau 142,00 poin jadi 8.057,36.
Sektor industri turut mencatat penguatan 2,8 persen, sementara saham sektor perjalanan dan rekreasi melonjak 2,5 persen. Kenaikan ini didorong oleh harapan bahwa penerbangan dan aktivitas pariwisata dapat kembali beroperasi secara normal jika ketegangan geopolitik mereda.
Di sisi lain, situasi di Timur Tengah masih memanas. Amerika dan Israel melancarkan serangan udara besar-besaran terhadap Iran. Menurut Pentagon dan laporan dari warga di lapangan, serangan tersebut disebut sebagai salah satu yang paling intens sejak perang dimulai. Namun pasar tampaknya lebih fokus pada pernyataan Trump, Senin, yang menyebut perang "hampir sepenuhnya selesai".
Analis BlackRock yang dipimpin Jean Boivin menilai guncangan pasar kemungkinan hanya bersifat sementara. Mereka memperkirakan gangguan ekonomi yang muncul akibat konflik tersebut akan berlangsung dalam hitungan minggu, bukan berbulan-bulan atau bahkan hanya beberapa hari. Dalam pandangan mereka, sektor keuangan, farmasi, dan infrastruktur di Eropa masih menjadi pilihan investasi yang menarik dalam situasi saat ini.
Harga minyak tetap menjadi perhatian utama pasar. Iran menyatakan akan memblokir pengiriman minyak dari kawasan Teluk hingga serangan terhadap negaranya dihentikan. Pernyataan tersebut memicu volatilitas tajam di pasar energi. Harga minyak sempat berfluktuasi luas sebelum akhirnya anjlok sekitar 11 persen hingga berada di bawah USD90 per barel. Saham sektor energi yang sebelumnya melemah pun berbalik naik tipis sekitar 0,3 persen.
Lonjakan harga minyak sejak serangan AS dan Israel terhadap Iran memicu kembali kekhawatiran terhadap inflasi global. Kondisi ini menempatkan bank sentral di berbagai negara pada posisi sulit. Eropa, yang sangat bergantung pada impor energi, dinilai sangat rentan terhadap tekanan tersebut, terutama ketika pertumbuhan ekonominya masih tergolong rapuh.
Beberapa pembuat kebijakan dari European Central Bank menyatakan bahwa bank sentral perlu mengambil waktu untuk menilai kembali arah kebijakan dan sementara tetap mempertahankan pendekatan yang ada. Data dari London Stock Exchange Group menunjukkan investor kini mulai memperkirakan setidaknya satu kali kenaikan suku bunga ECB hingga akhir tahun.
Menurut Michele Morganti, analis Generali Investments, skenario eskalasi konflik dapat mendorong ECB mempertimbangkan kenaikan suku bunga dalam jangka pendek. Dia menilai risiko tetap tinggi dan Eropa memiliki banyak hal yang dipertaruhkan, terutama dari sisi energi dan pertumbuhan ekonomi.
Beberapa saham individu juga mencatat pergerakan signifikan. Saham produsen otomotif Jerman Volkswagen melesat 2,6 persen setelah memproyeksikan pemulihan margin keuntungan menyusul tahun 2025 yang penuh tantangan.
Sementara itu, saham perusahaan pengembang perumahan Inggris Persimmon melambung 4,5 persen setelah melaporkan pendapatan tahun fiskal 2025 serta laba sebelum pajak yang disesuaikan melampaui ekspektasi pasar. Sebaliknya, saham perusahaan teknik Rotork ambles 13 persen dan menjadi yang terburuk di indeks STOXX 600 setelah merilis laporan kinerja tahunan yang mengecewakan investor. (Reuters/CNBC/AI)

Sumber : Admin