Pegadaian Kelola 153 Ton Emas, Emas Dominasi 90% Barang Jaminan
Thursday, October 15, 2026       04:17 WIB

AI News - PT Pegadaian (Persero) mengelola 153 ton emas dan masih menguasai sekitar 90% barang jaminan di industri pergadaian, memperkuat posisinya sebagai bullion bank utama Indonesia pada akhir Oktober 2026 tahun, sekaligus mendukung pertumbuhan laba industri yang naik hampir 70% menjadi Rp 8,57 triliun.

Poin Penting

  • Pegadaian mengelola 153 ton emas sebagai bagian dari peranannya sebagai bullion bank.
  • Total emas yang dikelola oleh bullion bank di Indonesia mencapai 177 ton, terdiri atas 153 ton Pegadaian dan 24 ton PT Bank Syariah Indonesia.
  • Emas menyumbang sekitar 90% barang jaminan di PT Pegadaian.
  • Laba industri pergadaian naik 69,73% menjadi Rp 8,57 triliun pada Agustus 2026.
  • Aplikasi digital Tring Pegadaian menarik lebih dari 7 juta pengguna dalam satu tahun sejak peluncuran.

Mengapa Emas Menjadi Mayoritas Barang Jaminan di Pergadaian?


Kontan melaporkan bahwa emas menjadi mayoritas barang jaminan karena proses penilaian dan pencairan yang sangat cepat. Penilaian dapat selesai dalam hitungan menit, dan dana dapat cair dalam 15 menit, menjadikannya pilihan utama bagi nasabah yang membutuhkan likuiditas segera. Selain itu, 90% jaminan di PT Pegadaian dan 93% di PT Gadai ValueMax merupakan emas, sementara laba industri pergadaian naik 69,73% menjadi Rp 8,57 triliun pada Agustus 2026, menandakan bahwa dominasi emas meningkatkan volume gadai dan profitabilitas. Akibatnya, emas memperkuat posisi pergadaian sebagai penyedia dana jangka pendek yang handal bagi konsumen dan pelaku usaha.

Bagaimana Strategi Pegadaian Mengoptimalkan Ekosistem Bullion Nasional?


Investor.id mencatat bahwa Pegadaian mengoptimalkan ekosistem bullion melalui pengelolaan 153 ton emas, produk Deposito Emas dengan rata-rata capital gain sekitar 14% per tahun, serta platform digital Tring yang telah meraih lebih dari 7 juta pengguna. Sebagai bullion bank sejak Februari 2025, Pegadaian berperan sebagai integrator yang menyalurkan emas masyarakat ke sektor manufaktur perhiasan dan industri terkait, menciptakan efek multiplier bagi perekonomian. Data tersebut menunjukkan total emas yang dikelola oleh bullion bank nasional mencapai 177 ton, sementara impor emas batangan pada 2025 mencapai US$4,8 miliar (~ Rp 85 triliun), sehingga roadmap 2026-2031 dirancang untuk mengurangi ketergantungan pada impor. Upaya tersebut diharapkan memperkuat ketahanan ekonomi nasional dengan memanfaatkan aset emas domestik secara produktif.

Apa Dampak Pengelolaan 153 Ton Emas Terhadap Industri Manufaktur dan Perhiasan?


Investor.id menambahkan bahwa pengelolaan 153 ton emas oleh Pegadaian menyediakan pasokan bahan baku stabil bagi industri manufaktur perhiasan dan sektor terkait. Emas yang didepositokan melalui Deposito Emas kemudian dialokasikan kembali sebagai pembiayaan modal kerja, sehingga produsen dapat memperoleh bahan baku tanpa harus mengimpor secara masif. Nilai impor emas batangan pada 2025 mencapai US$4,8 miliar (~ Rp 85 triliun), sementara emas domestik yang dikelola mencapai 153 ton, menurunkan kebutuhan impor dan mengurangi tekanan pada neraca perdagangan. Dengan demikian, ketersediaan emas domestik meningkatkan nilai tambah industri, menciptakan lapangan kerja, dan mendukung keseimbangan perdagangan negara.

 Disclaimer: This article was produced automatically by Artificial Intelligence (AI) through the compilation and synthesis of information from multiple news sources. It is not independent reporting and does not constitute investment advice. 


Sumber : AI News