- IHSG diperkirakan bergerak sideways cenderung volatil pada 20-24 April 2026, dipengaruhi kuat oleh sentimen geopolitik terutama konflik AS-Iran dan dinamika Selat Hormuz
- Kenaikan harga energi akibat gangguan suplai global serta data ekonomi (China, AS dan BI) menjadi faktor tambahan, sementara itu aliran dana asing masih menunjukkan distribusi
- IPOT merekomendasikan saham , , , serta ETF sebagai strategi menghadapi market yang belum stabil dan penuh ketidakpastian
Ipotnews - PT Indo Premier Sekuritas ( IPOT ) memproyeksikan, pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan ( IHSG ) di periode 20-24 April 2026 masih dipengaruhi sentimen geopolitik, khususnya dinamika konflik di Timur Tengah dan perkembangan terbaru di Selat Hormuz. Meskipun ada data ekonomi yang dirilis, arah market akan sangat bergantung pada headline geopolitik yang sifatnya unpredictable.
Pada penutupan perdagangan di akhir pekan lalu (17/4), IHSG berada di level 7.634 atau menguat signifikan 2,35 persen dibandingkan saat penutupan di akhir pekan sebelumnya pada level 7.458. Meski demikian, foreign flow menunjukkan adanya distribusi dari asing sebesar Rp2,4 triliun yang didominasi sektor perbankan.
Menurut Equity Analyst IPOT , Imam Gunadi di Jakarta, Senin (20/4), sejauh ini sentiment utama bersumber dari global yang terkait dengan dinamika geopolitik, khususnya konflik antara Amerika Serikat versus Iran.
"Situasinya cenderung tidak stabil, bahkan dalam waktu yang sangat dekat kita melihat perubahan narasi yang cepat, sempat ada pernyataan bahwa Selat Hormuz dibuka, tapi kemudian muncul lagi laporan gangguan hingga adanya tembakan terhadap kapal," tegas Imam.
Dia menambahkan, ketidakstabilan geopolitik di Timur Tengah, terutama potensi gangguan di Selat Hormuz sebagai jalur bagi 20 persen distribusi minyak dunia, telah memicu sensitivitas tinggi pada pasar energi global. Tekanan pasokan bukan sekadar sentimen, melainkan fakta nyata yang mendorong harga minyak mentah Indonesia (ICP) melonjak tajam ke level USD102 per barel pada Maret lalu.
Meskipun AS berupaya melakukan stabilisasi melalui izin pembelian minyak Rusia untuk meredam inflasi energi, kondisi fundamental tetap menunjukkan pengetatan suplai akibat menipisnya cadangan di hub utama seperti Cushing, AS. Harga energi secara struktural diprediksi akan tetap bertahan di level tinggi, meski terjadi koreksi jangka pendek.
Imam mengungkapkan, dampak dari tingginya biaya energi tersebut mulai merembet pada kualitas pertumbuhan ekonomi global yang tidak merata. China sebagai motor ekonomi Asia mencatat pertumbuhan solid sebesar 5 persen, namun mulai menunjukkan kerentanan akibat pelemahan konsumsi domestik dan tekanan di sisi eksternal.
Pada sisi lain, komoditas nikel menunjukkan prospek yang kompleks. Meski ada potensi kenaikan harga akibat gangguan logistik bahan baku seperti sulphuric acid, lonjakan biaya produksi turut membayangi margin keuntungan. Kondisi ini membuat prospek sektor komoditas berada pada posisi cautiously optimistic, yakni potensi penguatan tetap ada, meski dibatasi tantangan peningkatan biaya operasional.
Selain sentimen geopolitik tersebut, jelas Imam, pada pekan ini juga terdapat sejumlah data penting yang patut dicermati para pelaku pasar, seperti dari China terkait dengan rilis Loan Prime Rate (LPR) 1 tahun dengan konsensus di level 3 persen dan LPR 5 tahun sebesar 3,5 persen.
Secara umum, kata dia, angka itu akan memberikan gambaran arah kebijakan moneter China, khususnya dalam menjaga momentum pertumbuhan yang sejauh ini terlihat cukup solid. Apabila tidak ada perubahan, artinya otoritas cenderung wait and see. Namun jika terjadi penurunan, hal ini bisa menjadi sinyal bahwa tekanan ekonomi mulai meningkat dan pemerintah perlu memberikan stimulus tambahan.
Selanjutnya dari AS, data retail sales bulan Maret 2026 juga akan menjadi perhatian, dengan konsensus tumbuh 1,3 persen secara bulanan atau lebih tinggi dari sebelumnya di 0,6 persen. "Data ini penting karena mencerminkan kekuatan konsumsi yang merupakan motor utama ekonomi AS," ucap Imam.
Realisasi data retail sales yang sesuai atau di atas ekspektasi, menurut dia, bisa memperkuat narasi bahwa ekonomi AS masih cukup resilient meskipun ada tekanan dari sisi energi. Namun, angka yang terlalu kuat juga bisa membuat ekspektasi suku bunga tetap tinggi yang biasanya kurang favorable bagi market.
Dari sisi domestik, ucap Imam, keputusan suku bunga Bank Indonesia juga akan menjadi fokus, dengan konsensus di level 4,75 persen. "BI kemungkinan masih akan tetap menjaga suku bunga acuan di 4,75 persen untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah dan inflasi yang masih terkendali. Pasar juga akan mencermati tone kebijakan ke depan, terutama apakah ada perubahan sikap dalam merespons tekanan eksternal yang meningkat".
Terakhir, jelas dia, data EIA Crude Oil Stocks Change juga menarik untuk diperhatikan, dengan konsensus penurunan sekitar 1 juta barel. Data ini sering menjadi indikator jangka pendek untuk melihat kondisi supply-demand di pasar minyak. Pada umumnya, penurunan stok mengindikasikan supply yang lebih ketat dan bisa menopang harga minyak tetap tinggi.
Imam menegaskan, untuk perdagangan di BEI untuk periode 20-24 April 2026, IHSG diperkirakan bergerak dalam fase konsolidasi dengan kecenderungan sideways dan volatile di tengah dominasi sentimen geopolitik, serta belum kembalinya aliran dana asing secara konsisten.
Secara teknikal, menurut dia, level 7.773 menjadi resistance terdekat yang cukup krusial, karena jika berhasil ditembus bisa membuka ruang kenaikan lanjutan. Namun selama masih tertahan, potensi pullback tetap perlu diwaspadai. Sementara itu, level 7.308 menjadi support penting yang akan menjadi penopang apabila terjadi tekanan, terutama jika ada sentimen negatif dari global.
"Jadi secara keseluruhan, pergerakan IHSG kemungkinan masih akan berada dalam range tersebut, dengan market yang cenderung reaktif terhadap perkembangan eksternal," tegas Imam.
Merespons dinamika market yang terjadi, IPOT yang telah dilengkapi fitur LADI (Live Accumulation/Distribution Indicator) dengan data akumulasi dan distribusi saham secara real-time, merekomendasikan trading saham pada sejumlah emiten berikut ini:
1. Buy (Entry: 1035-1045, Target Price (TP): 1105-1115, Stop Loss (SL): <1000). menjadi pilihan menarik sebagai bagian dari tema energi, namun dengan profil yang lebih defensif karena berbasis renewable energy. Di tengah volatilitas harga energi fosil yang sangat dipengaruhi oleh dinamika geopolitik, menawarkan exposure ke sektor energi dengan risiko yang relatif lebih stabil. Selain itu, tren transisi energi jangka panjang juga menjadi katalis tambahan, sehingga tidak hanya relevan untuk kondisi saat ini, tetapi juga memiliki positioning yang kuat untuk pertumbuhan ke depan.
2. Buy (Entry: 6350-6400, Target Price 1: 6600, Target Price 2: 6775, Stop Loss (SL): <6175). adalah salah satu proxy domestik yang cukup solid di tengah ketidakpastian global, dengan diversifikasi bisnis yang luas mulai dari otomotif, heavy equipment hingga exposure ke komoditas. Dalam kondisi market yang cenderung volatile, bisa menjadi pilihan yang lebih defensif karena memiliki keseimbangan antara exposure domestik dan global. Jika harga komoditas tetap tinggi, lini bisnis terkait juga berpotensi memberikan kontribusi positif terhadap kinerja secara keseluruhan.
3. Buy (Entry: 3240-3260, TP: 3450, Stop Loss: <3150). cukup menarik dalam konteks kondisi global saat ini, karena harga energi masih berada di level yang elevated akibat ketidakpastian geopolitik dan potensi gangguan supply. Dengan eksposur ke sektor energi, khususnya batubara, berpotensi mempertahankan kinerja yang solid selama harga komoditas tetap tinggi. Selain itu, karakter bisnisnya yang sudah terintegrasi juga memberikan buffer terhadap volatilitas jangka pendek, sehingga saham ini masih relevan untuk menangkap momentum dari sektor energi yang saat ini menjadi salah satu sektor dengan tailwind paling jelas.
4. Buy Reksa Dana Saham Premier ETF IDX High Dividend 20 () (Entry: 654, Target Price (TP): 672, Stop Loss (SL): <645). Reksa dana saham Power Fund Series (PFS) berkode menjadi pilihan yang cukup relevan di tengah kondisi market yang masih penuh ketidakpastian dan volatilitas tinggi, terutama karena saat ini mulai memasuki periode pembagian dividen. ETF ini memberikan exposure ke saham-saham dengan dividend yang konsisten dan yield yang relatif tinggi, sehingga bisa menjadi strategi untuk mendapatkan income di tengah market yang belum memiliki arah yang jelas. Selain itu, dari sisi portofolio, juga membantu diversifikasi risiko karena berbasis kumpulan saham, sehingga lebih stabil dibandingkan single stock dalam kondisi market yang fluktuatif seperti saat ini. (Budi/AI)
Sumber : Admin