- S&P 500 naik 0,17% dan Nasdaq menguat 0,40%, sementara Dow Jones turun 0,18% pada penutupan Jumat.
- Harga minyak di atas US$100 per barel dan yield US Treasury menembus 5% membuat kekhawatiran inflasi tetap membayangi Wall Street.
- Peluang kenaikan suku bunga The Fed pada Oktober naik menjadi 55,4%, dari 42,5% sepekan sebelumnya dan 7,2% sebulan lalu.
Ipotnews - Wall Street bergerak terbatas pada penutupan perdagangan hari Jumat (18/9) akhir pekan ini setelah melalui pekan yang penuh gejolak. Imbal hasil US Treasury bertenor acuan menembus 5%. Sementara harga minyak mentah berbalik turun dari level tertingginya namun masih bertahan di atas US$100 per barel, membuat kekhawatiran inflasi tetap menjadi perhatian utama pasar.
Perdagangan Jumat sekaligus mengakhiri pekan yang terbagi dalam dua fase. Investor sebelumnya diwarnai ketidakpastian menjelang keputusan kenaikan suku bunga Federal Reserve (The Fed) yang telah diperkirakan luas, kemudian pasar harus mencerna dampak dari keputusan tersebut.
Penguatan saham-saham semikonduktor menopang Nasdaq dan S&P 500. Namun, pelemahan yang lebih luas membuat Dow Jones berakhir di zona merah. S&P 500 mencatat penurunan mingguan tipis, sedangkan Nasdaq ditutup lebih tinggi dibandingkan posisi penutupan Jumat pekan sebelumnya. Sementara itu, Dow Jones mencatat penurunan mingguan dalam persentase terbesar sejak Maret.
"Seolah-olah semua orang sampai di penghujung pekan dan kelelahan setelah seluruh aktivitas minggu ini, lalu memutuskan untuk bermain aman," kata Chuck Carlson, Chief Executive Officer Horizon Investment Services di Hammond, Indiana.
Menurut Carlson, banyak investor kini berusaha memahami bukan hanya dampak jangka pendek, tetapi juga konsekuensi jangka panjang dari langkah yang mungkin ditempuh The Fed dan bagaimana kebijakan tersebut akan memengaruhi investasi saham maupun surat berpendapatan tetap.
Ia menambahkan, terdapat pula "keengganan untuk mengambil posisi satu arah menjelang akhir pekan" karena kondisi eksternal dapat memicu pola perdagangan yang sangat bergejolak pada Senin mendatang.
Kekhawatiran inflasi masih membayangi pasar karena harga minyak mentah ditutup di atas US$100 per barel. Namun, harga minyak turun dari level tertinggi setelah China atas permintaan Arab Saudi, meminta Iran membatasi serangan kelompok Houthi terhadap infrastruktur minyak Arab Saudi.
Lonjakan harga minyak telah mendorong harga diesel ke rekor tertinggi. Kondisi tersebut berpotensi meningkatkan tekanan inflasi yang lebih luas melalui kenaikan biaya pertanian dan pengiriman.
"Pasar tampaknya sangat terkait erat dengan pergerakan harga minyak," ujar Carlson. "Jadi ketika harga minyak bergerak lebih tinggi dalam periode tertentu, saya pikir pasar mendapatkan sedikit kelonggaran," imbuhnya.
Bank sentral di berbagai negara kini telah memasuki siklus pengetatan kebijakan untuk mengendalikan inflasi yang dipicu perang Iran. Bank of Japan (BOJ) menaikkan suku bunga ke level tertinggi dalam 31 tahun, mengikuti langkah Federal Reserve dan Bank Sentral Eropa (ECB), dalam upaya mengendalikan inflasi global. Bank of England menjadi pengecualian dengan mempertahankan suku bunga, tetapi memperingatkan adanya kemungkinan kenaikan di masa depan.
Pasar keuangan saat ini memperkirakan probabilitas sebesar 55,4% untuk kenaikan suku bunga The Fed berikutnya pada pertemuan Oktober. Angka tersebut meningkat dari 42,5% pada Jumat pekan lalu dan hanya 7,2% sebulan sebelumnya, berdasarkan CME FedWatch.
Di Wall Street, Dow Jones Industrial Average turun 95,40 poin atau 0,18% menjadi 51.682,64. Sebaliknya, S&P 500 naik 12,74 poin atau 0,17% menjadi 7.650,50, sedangkan Nasdaq Composite menguat 104,25 poin atau 0,40% menjadi 26.522,55.
Dari 11 sektor utama S&P 500, saham teknologi mencatat kenaikan terbesar. Sementara sektor utilitas membukukan penurunan persentase paling tajam.
Berkshire Hathaway mengumumkan Warren Buffett akan mengundurkan diri sebagai chairman dan menjadi chairman emeritus, sembilan bulan setelah menyerahkan posisi CEO kepada Greg Abel. Saham perusahaan holding tersebut bergerak sedikit lebih rendah pada perdagangan Jumat.
Sementara itu, saham Xenon Pharmaceuticals anjlok 30,7% setelah perusahaan menghentikan sementara perekrutan peserta dalam uji klinis obat eksperimental untuk mengatasi depresi berat dan bipolar, menyusul laporan mengenai efek samping.
Di sisi lain, perusahaan yang terkait dengan cryptocurrency seperti Coinbase, Strategy, dan Robinhood melonjak antara 9,1% hingga 16,4% setelah harga bitcoin melesat 5,9%.
Di New York Stock Exchange ( NYSE ), jumlah saham yang turun mengungguli saham yang naik dengan rasio 1,78 banding 1. Sebanyak 92 saham mencatat level tertinggi baru, sementara 346 saham mencatat level terendah baru. Di Nasdaq, sebanyak 1.973 saham menguat dan 2.810 saham melemah. Saham yang turun mengungguli saham yang naik dengan rasio 1,42 banding 1.
S&P 500 mencatat lima saham mencapai level tertinggi baru dalam 52 minggu dan 30 saham mencapai level terendah baru. Nasdaq Composite mencatat 45 saham dengan level tertinggi baru dan 162 saham dengan level terendah baru. Volume perdagangan di bursa AS mencapai 25,29 miliar saham, jauh di atas rata-rata 16,19 miliar saham dalam 20 sesi perdagangan terakhir.
Sumber : admin