- Wall Street menguat: S&P 500 naik 0,86%, Nasdaq 0,96%, dan Dow Jones 0,98% pada perdagangan Jumat.
- Peluang kenaikan suku bunga The Fed hampir 90%, melonjak dari 72% sehari sebelumnya setelah inflasi AS kembali meningkat.
- Saham perusahaan teknologi terkait AI melonjak, dengan Dell dan Hewlett Packard Enterprise masing-masing naik 12%.
Ipotnews - Wall Street ditutup menguat pada perdagangan Jumat (11/9) akhir pekan ini, setelah harga minyak turun dan data harga konsumen yang kuat semakin memperkuat ekspektasi bahwa Federal Reserve akan menaikkan suku bunga pada pekan depan untuk mengendalikan inflasi.
Saham pembuat server AI Dell melonjak 12% ke rekor tertinggi. Saham Hewlett Packard Enterprise juga melesat 12%, sementara saham HP naik 8,4% setelah hasil kuartalan Oracle melampaui ekspektasi. Namun, saham Oracle justru turun 1,8%.
Harga konsumen Amerika Serikat meningkat lebih cepat pada bulan lalu setelah biaya bensin kembali naik, menyusul penurunan selama dua bulan berturut-turut. Kondisi tersebut semakin menambah tekanan bagi Federal Reserve untuk memperketat kebijakan moneter guna mengendalikan inflasi.
Kontrak berjangka suku bunga kini mencerminkan peluang hampir 90% bahwa bank sentral AS akan menaikkan suku bunga dalam pertemuan kebijakan pada Rabu pekan depan, berdasarkan perangkat CME FedWatch. Angka tersebut meningkat dari probabilitas 72% pada Kamis.
"Ini hampir bisa dikatakan sebagai keputusan yang sudah pasti," kata Thomas Martin, Senior Portfolio Manager di GLOBALT Investments di Atlanta. "The Fed akan melakukan hal yang tepat dengan menaikkan suku bunga, dan hal tersebut secara marginal baik untuk menjaga inflasi tetap terkendali," ujarnya.
Indeks S&P 500 naik 0,86% dan mengakhiri perdagangan di level 7.656,98 poin. Indeks Nasdaq menguat 0,96% menjadi 26.333,04 poin, sedangkan Dow Jones Industrial Average naik 0,98% ke level 52.573,29 poin.
Sembilan dari 11 sektor S&P 500 berakhir di zona hijau. Sektor jasa komunikasi memimpin penguatan dengan kenaikan 1,35%, disusul sektor konsumen diskresioner yang naik 1,13%. Volume perdagangan di bursa Amerika Serikat relatif rendah. Sebanyak 14,0 miliar saham diperdagangkan, dibandingkan rata-rata 14,9 miliar saham dalam 20 sesi perdagangan sebelumnya.
Indeks Volatilitas CBOE , yang dikenal sebagai pengukur ketakutan Wall Street, turun 2 poin menjadi 15,88.
Penguatan pada Jumat terjadi setelah Wall Street sebelumnya diliputi kekhawatiran mengenai inflasi dan kenaikan imbal hasil Treasury jangka panjang. Investor juga mencermati kekhawatiran mengenai besarnya belanja untuk membangun pusat data AI.
S&P 500 kini turun sekitar 2% dari level penutupan tertinggi sepanjang masa pada 13 Agustus. Meski demikian, indeks tersebut masih mencatat kenaikan 12% sepanjang 2026. Dalam sepekan, S&P 500 turun 0,8%, sedangkan Nasdaq terkoreksi 0,7%.
Penurunan S&P 500 baru-baru ini, ditambah prospek laba yang kuat, membuat indeks tersebut diperdagangkan pada 19 kali estimasi laba. Valuasi tersebut merupakan yang termurah sejak April 2025, ketika pengumuman tarif "Liberation Day" oleh Presiden AS Donald Trump mengguncang pasar global.
Harga minyak turun, tetapi masih mencatat kenaikan sekitar 9% sepanjang pekan. Serangkaian serangan di sepanjang jalur pelayaran Timur Tengah memicu kekhawatiran mengenai gangguan pasokan yang berkepanjangan. Harga minyak mentah Brent turun hampir 3%, tetapi masih bertahan di atas US$104 per barel.
Saham perusahaan lelang kendaraan online ACV Auctions melonjak 44% setelah perusahaan lelang kendaraan Copart sepakat mengakuisisinya dalam transaksi senilai hampir US$1,9 miliar.
Di dalam S&P 500, jumlah saham yang menguat dibandingkan saham yang melemah mencapai rasio 2,1 banding 1. Indeks S&P 500 mencatat delapan saham yang mencapai level tertinggi baru dan sembilan saham yang mencatat level terendah baru. Sementara itu, Nasdaq mencatat 45 saham yang mencapai level tertinggi baru dan 182 saham yang mencetak level terendah baru.
(reuters)
Sumber : admin