Pemilu Jepang Bayangi Pasar, Yen Melemah, Dolar AS Melaju Naik
Saturday, February 07, 2026       06:56 WIB
  • Dolar tetap menuju penguatan mingguan meski melemah dari puncak dua pekan.
  • Yen tertekan dan menuju pekan terburuk sejak Oktober jelang pemilu Jepang.
  • Pasar menanti data tenaga kerja AS yang berpotensi mengubah arah kebijakan suku bunga The Fed.

Ipotnews - Dolar AS melemah dari level tertinggi dua pekan pada Jumat (6/2) akhir pekan ini, seiring terkikisnya sebagian penguatan sebagai aset aman setelah aset berisiko bangkit dari kejatuhan tajam yang dipicu kekhawatiran lonjakan belanja terkait kecerdasan buatan tahun ini.
Meski demikian, dolar AS tetap berada di jalur penguatan mingguan dan memangkas pelemahan sebelumnya terhadap yen Jepang setelah data Amerika Serikat menunjukkan sentimen konsumen membaik pada Februari, meskipun kekhawatiran terhadap lapangan kerja dan meningkatnya biaya hidup masih membayangi.
Sementara itu, yen menuju pekan terburuknya terhadap dolar sejak Oktober, menghapus sebagian besar penguatan signifikan pada Januari, seiring pelaku pasar menanti pemilu nasional yang digelar Minggu ini.
"Apa yang kami lihat adalah pembalikan korelasi," kata Dan Tobon, kepala strategi valuta asing G10 di Citi, New York. "Saham menguat hari ini, dan sebagai hasilnya, Anda melihat dolar sedikit melemah karena seluruh mata uang berbeta tinggi kembali menguat."
Saham global mencatat aksi jual mingguan terbesar sejak November, karena investor cemas terhadap besarnya belanja untuk kecerdasan buatan serta dampak berantai dari pesatnya perkembangan teknologi AI yang berpotensi mengguncang berbagai sektor.
Indeks dolar, yang mengukur kinerja mata uang Amerika Serikat terhadap enam mata uang lainnya, turun 0,34% setelah sebelumnya menyentuh level tertinggi dua pekan. Meski demikian, indeks tersebut masih naik 0,5% sepanjang pekan ini, menuju penguatan mingguan terbesar sejak awal Januari.
Pemicu penguatan dolar pekan ini adalah pencalonan Kevin Warsh oleh Presiden Donald Trump pada Jumat lalu sebagai ketua Federal Reserve berikutnya. Warsh dipandang bukan pendukung besar penurunan suku bunga yang agresif.
Wakil Ketua Federal Reserve Philip Jefferson mengatakan pada Jumat bahwa ia "cukup optimistis dengan hati-hati" terhadap 2026, dengan ekspektasi pertumbuhan sedikit di atas tren, pasar tenaga kerja yang mulai stabil, serta inflasi yang terus bergerak menuju target 2%, dengan kebijakan saat ini dinilai siap merespons kedua mandat bank sentral.
Sementara itu, Presiden Federal Reserve San Francisco Mary Daly menilai perekonomian berada dalam kondisi yang "rawan".
"Mungkin The Fed melihat sesuatu yang tidak kita lihat. Mungkin dia (Jefferson) akan dipaksa mengubah pandangannya dalam beberapa bulan ke depan," ujar Matt Weller, kepala riset pasar global di StoneX, Michigan. "Jika laporan nonfarm payrolls mengonfirmasi pelemahan pasar tenaga kerja, saya pikir Maret bisa menjadi momen yang aktif bagi Federal Reserve."
Pelaku pasar mencermati rilis laporan ketenagakerjaan nonpertanian Amerika Serikat untuk Januari yang tertunda dan diperkirakan terbit pekan depan. Berbagai indikator kekuatan pasar tenaga kerja sepanjang pekan ini mengisyaratkan bahwa ekonomi terbesar dunia mulai kehilangan momentum, sehingga pelaku pasar kini memperhitungkan peluang pemangkasan suku bunga yang lebih besar pada paruh pertama tahun ini, bukan paruh kedua.
Yen melemah 0,04% ke level 157,1 per dolar menjelang pemungutan suara hari Minggu, di mana kemenangan Perdana Menteri Sanae Takaichi berpeluang terjadi.
Pemilu tersebut membuat investor gelisah karena kekhawatiran fiskal telah memicu aksi jual tajam di pasar mata uang dan obligasi, dan pelemahan lanjutan berpotensi menimbulkan dampak global.
Bagi Weller dari StoneX, pertanyaan besarnya adalah apakah hasil pemilu akan dipandang sebagai mandat untuk belanja fiskal yang agresif. "Jika itu memang yang kita lihat, kemungkinan kita akan menyaksikan penguatan lanjutan pada indeks Nikkei dan pelemahan berkelanjutan pada yen," ujar Weller.
"Pelemahan relatif dolar AS dalam beberapa pekan terakhir menutupi pelemahan yang bahkan lebih besar yang sedang terjadi pada yen. Ini tampak seperti tren yang bisa semakin cepat pada pekan depan dan seterusnya. Dan pada titik tertentu, menurut saya, kondisi ini akan memaksa otoritas untuk mengambil tindakan langsung, termasuk kemungkinan intervensi, guna membeli waktu."
Euro naik 0,37% ke level US$1,1822 setelah Bank Sentral Eropa mempertahankan suku bunga sesuai ekspektasi pada Kamis dan meremehkan dampak fluktuasi nilai tukar terhadap kebijakan ke depan.
Pound sterling memangkas sebagian penurunan hampir 1% pada Kamis dan naik 0,65% ke US$1,3614, namun masih menuju penurunan mingguan terburuk terhadap dolar sejak 27 Oktober.
Bank of England juga menahan suku bunga pada Kamis dalam pemungutan suara yang lebih ketat dari perkiraan, serta menyatakan biaya pinjaman kemungkinan akan turun jika penurunan inflasi yang diperkirakan segera terjadi dapat dipertahankan.
Di pasar kripto, bitcoin melonjak 11,77% ke level US$70.547,28 setelah sebelumnya menyentuh titik terendah sejak Oktober 2024 di US$60.017. Meski demikian, bitcoin masih berpotensi mencatat penurunan mingguan sebesar 7,5%.
(reuters)

Sumber : admin

berita terbaru
Thursday, Feb 12, 2026 - 18:21 WIB
Kepemilikan Saham 31 Januari 2026 BATA
Thursday, Feb 12, 2026 - 18:21 WIB
Indonesia Market Summary (12/02/2026)
Thursday, Feb 12, 2026 - 18:16 WIB
Kepemilikan Saham 31 Januari 2026 ABDA
Thursday, Feb 12, 2026 - 18:10 WIB
Kepemilikan Saham 31 Januari 2026 AADI
Thursday, Feb 12, 2026 - 17:57 WIB
Kepemilikan Saham 31 Januari 2026 TGRA
Thursday, Feb 12, 2026 - 17:45 WIB
Kepemilikan Saham 31 Januari 2026 SILO
Thursday, Feb 12, 2026 - 17:39 WIB
Kepemilikan Saham 31 Januari 2026 SAMF
Thursday, Feb 12, 2026 - 17:21 WIB
Perubahan Kepemilikan Saham FUTR, Beli
Thursday, Feb 12, 2026 - 17:19 WIB
Kepemilikan Saham 30 Januari 2026 SAFE
Thursday, Feb 12, 2026 - 17:18 WIB
Kepemilikan Saham 31 Januari 2026 NELY