- Kenaikan suku bunga total 75 basis poin menjadi pemicu utama penguatan rupiah dan IHSG .
- Obligasi tenor 10 tahun dengan bunga 7,4 persen menarik minat investor asing.
- Penyesuaian harga Pertamax mengurangi subsidi dan memperbaiki defisit APBN .
Ipotnews - Penguatan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) dan Indeks Harga Saham Gabungan ( IHSG ) dalam dua hari terakhir bukan dipicu faktor eksternal, melainkan reaksi dari kebijakan domestik.
Pengamat Ekonomi, Mata Uang, dan Komoditas Ibrahim Assuaibi menegaskan, kondisi geopolitik global seperti ketegangan Iran-AS yang kembali memanas seharusnya menekan rupiah, namun yang terjadi justru sebaliknya.
Menurut Ibrahim, langkah cepat Bank Indonesia (BI) yang menaikkan suku bunga acuan kemarin menjadi pemicu utama penguatan pasar. "BI sigap menaikkan suku bunga 25 basis poin dari periode sebelumnya yang sudah naik 50 basis poin, sehingga total 75 basis poin," ujarnya dalam voice note, Rabu (10/6).
Ia memperkirakan hingga akhir tahun BI berpotensi menaikkan suku bunga hingga 200 basis poin bila kondisi global semakin menekan.
Selain itu, lelang Surat Utang Negara (SUN) tenor 10 tahun dengan imbal hasil 7,4 persen menjadi daya tarik bagi investor asing. Tingkat bunga yang tinggi diyakini memperkuat minat terhadap obligasi Indonesia, sehingga menambah aliran dana masuk ke pasar domestik.
Dari sisi fiskal, pemerintah juga mengambil langkah strategis dengan menaikkan harga BBM. Kebijakan ini mengurangi beban subsidi energi yang selama ini menekan APBN sehingga akan berdampak pada tetap terjaganya defisit fiskal pemerintah.
"Dengan adanya kenaikan harga ini, subsidi kemungkinan menyusut dan pasar percaya terhadap pemerintah," katanya.
Kepercayaan pasar terhadap konsistensi kebijakan fiskal menjadi faktor tambahan yang memperkuat rupiah dan IHSG . Ke depan, Ibrahim berharap pemerintah terus merespons masukan berbagai pihak agar stabilitas ekonomi terjaga.
"Apabila kebijakan moneter dan fiskal berjalan seiring, rupiah dan IHSG akan kembali menguat, sehingga kekhawatiran rupiah menembus Rp19.000 per dolar AS tidak akan terjadi," katanya.
Sebagai catatan jelang penutupan perdagangan sesi I, Rabu (10/9), tepatnya pada pukul 11.50 WIB, rupiah bergerak menguat ke level Rp17.951 per dolar AS. Sementara IHSG menguat 2,01 persen ke level 5.862.
(Marjudin/ AI)
Sumber : admin