- Bursa Eropa turun karena kekhawatiran konflik Timur Tengah dan lonjakan harga energi.
- Saham Rheinmetall jatuh, menekan sektor pertahanan dan industri.
- Risiko gangguan Selat Hormuz dorong harga minyak dan kekhawatiran inflasi.
Ipotnews - Bursa ekuitas Eropa melemah, Rabu, setelah investor menilai dampak ekonomi dari konflik Timur Tengah yang memasuki hari ke-12, sekaligus mencermati data inflasi terbaru dari Amerika Serikat. Ketidakpastian geopolitik dan potensi lonjakan harga energi membuat sentimen pasar kembali berhati-hati setelah reli sehari sebelumnya.
Indeks acuan pan-Eropa STOXX 600 ditutup turun 0,59 persen atau 3,58 poin menjadi 602,54, dengan sebagian besar bursa regional juga berada di wilayah negatif, demikian laporan Reuters dan CNBC , di Bengaluru, Rabu (11/3) atau Kamis (12/3) dini hari WIB.
Tekanan terbesar datang dari pasar Jerman, di mana Indeks DAX anjlok 1,37 persen atau 328,60 poin jadi 23.640,03, dipicu kejatuhan saham perusahaan pertahanan Rheinmetall yang merosot sekitar 8 persen setelah proyeksi margin laba dan arus kas bebas untuk tahun 2026 berada di bawah perkiraan analis. Sementara, FTSE 100 Inggris ditutup melemah 0,56 persen atau 58,47 poin ke posisi 10.353,77 dan CAC Prancis berkurang 0,19 persen atau 15,55 poin menjadi 8.041,81.
Koreksi tajam saham Rheinmetall turut menekan sektor pertahanan Eropa secara keseluruhan yang melorot 1,8 persen, sementara sektor industri melemah sekitar 1,2 persen. Sentimen negatif di sektor tersebut menambah tekanan pada pasar yang sudah diliputi kekhawatiran terhadap dampak ekonomi konflik Timur Tengah.
Ketegangan meningkat setelah komando militer Iran memperingatkan dunia untuk bersiap menghadapi kemungkinan harga minyak meroket hingga USD200 per barel. Peringatan itu muncul ketika tiga kapal lagi dilaporkan diserang di kawasan Teluk yang tengah diblokade, sementara Teheran meluncurkan serangan ke Israel dan sejumlah target di wilayah sekitarnya.
Perkembangan terbaru itu berbanding terbalik dengan optimisme sehari sebelumnya. Selasa, harapan meredanya konflik sempat muncul setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan bahwa perang hampir berakhir. Pernyataan itu sempat mendorong STOXX 600 mencatat kinerja harian terbaiknya sejak April 2025.
Di tengah ketegangan yang meningkat, Badan Energi Internasional (IEA) menyepakati pelepasan 400 juta barel minyak dari cadangan, langkah terbesar dalam sejarah lembaga tersebut. Kebijakan ini dimaksudkan untuk menahan lonjakan harga minyak mentah yang terus meningkat. Saham sektor energi justru menjadi satu-satunya pendorong utama pasar dengan kenaikan sekitar 1,6 persen di STOXX 600.
Namun, sejumlah analis menilai langkah kebijakan tersebut mungkin hanya memberikan dampak sementara. Laura Cooper, analis Nuveen, mengatakan stabilisasi harga minyak dalam jangka panjang sangat bergantung pada pulihnya kepercayaan terhadap keamanan jalur pelayaran dan kemampuan operasional kapal tanker untuk kembali beroperasi secara normal. Menurutnya, langkah kebijakan saja tidak akan cukup jika arus fisik minyak tidak benar-benar dipulihkan.
Konflik yang berlangsung juga mengganggu jalur pengiriman penting melalui Selat Hormuz, rute yang membawa sekitar seperlima perdagangan minyak global. Gangguan pada jalur vital tersebut mendorong harga minyak melejit dan meningkatkan risiko guncangan harga energi. Sejak mencetak rekor tertinggi pada akhir Februari, indeks STOXX 600 kini menyusut sekitar 5 persen.
Perumus kebijakan Bank Sentral Eropa mengakui adanya risiko ekonomi dari lonjakan harga minyak dan menyatakan siap bertindak cepat apabila inflasi berpotensi meningkat secara berkelanjutan.
Data pasar uang menunjukkan investor kini mulai memperkirakan kemungkinan kenaikan suku bunga pada 2026, berbalik dari ekspektasi sebelumnya yang mengarah pada penurunan tipis sebelum konflik pecah, menurut LSEG .
Sejumlah analis juga memperingatkan potensi penurunan lanjutan pada pasar saham. Barclays memperkirakan indeks STOXX 600 dapat turun hingga sekitar 550 poin jika harga minyak bertahan di kisaran USD100 per barel.
Sektor perbankan yang sebelumnya paling terpukul dalam aksi jual kembali melemah dengan penurunan tambahan 0,6 persen.
Di antara saham individual, perusahaan asuransi Legal & General mengalami tekanan setelah melaporkan laba tahunan yang tidak memenuhi ekspektasi pasar, sehingga sahamnya ambles 6,8 persen.
Di sisi lain, saham perusahaan konstruksi Balfour Beatty melambung sekitar 9 persen setelah memproyeksikan kenaikan laba operasional pada 2026 dalam kisaran persentase satu digit tinggi.
Dari sisi makroekonomi, inflasi Jerman tercatat sedikit melambat pada Februari menjadi 2,0 persen. Sementara itu, inflasi Amerika naik sesuai perkiraan pada bulan yang sama. Meski demikian, perhatian pasar tetap lebih terfokus pada perkembangan konflik Iran dan dampaknya terhadap pasar energi global serta stabilitas ekonomi dunia. (Reuters/CNBC/AI)
Sumber : Admin