- Gagalnya perundingan Iran-AS memicu lonjakan harga minyak dan menekan rupiah.
- Rupiah diperkirakan bisa mencapai Rp17.400 per dolar AS pada April 2026.
- Pemerintah diminta segera mengambil langkah teknis, termasuk revisi APBN dan intervensi pasar.
Ipotnews - Kegagalan perundingan antara Iran dan Amerika Serikat (AS) yang diprakarsai Pakistan memicu ketegangan baru di Timur Tengah. Dampaknya langsung terasa pada pasar global, terutama harga minyak mentah yang melonjak tajam, sehingga menekan nilai tukar rupiah.
Pengamat Mata Uang dan Komoditas, Ibrahim Assuaibi menegaskan bahwa eskalasi konflik ini menjadi faktor utama pelemahan rupiah. "Di luar dugaan, perundingan antara Iran-Amerika yang diprakarsai Pakistan gagal total. Artinya perang kemungkinan besar akan kembali berkecamuk," ujar Ibrahim dalam keterangannya kepada awak media, Senin (13/4).
Lonjakan harga minyak mentah WTI yang menembus di atas USD104 per barel memperburuk tekanan terhadap rupiah. Semakin tinggi harga minyak mentah dunia akan semakin menekan nilai tukar rupiah terhadap dolar. Hal ini terjadi karena kebutuhan impor minyak dengan harga yang relatif lebih tinggi maka kebutuhan dolar untuk membayarnya juga meningkat sehingga berdampak pada tekanan terhadap rupiah.
"Kenaikan harga minyak yang cukup tajam berarti ada dua skenario yang membuat rupiah melemah, salah satunya karena kapal tanker minyak Pertamina masih tertahan di Selat Hormuz," jelas Ibrahim.
Ia memperkirakan rupiah bisa mencapai level Rp17.400 per dolar AS lebih cepat dari prediksi sebelumnya yang diperkirakan baru akan terjadi pada akhir tahun. Hal ini bisa terjadi apabila eskalasi perang kembali terjadi lebih besar dan meluas dengan melibatkan negara-negara lainnya.
"Rp17.400 per dolar ini sebenarnya adalah prediksi akhir tahun, tetapi dengan kondisi seperti ini kemungkinan besar April angka itu akan tercapai," katanya.
Selain itu, Ibrahim menekankan perlunya langkah konkret pemerintah dalam menghadapi situasi ini. Ia berharap pemerintah terus bersiaga, bukan lagi secara teori namun harus secara teknis untuk melakukan intervensi yang lebih besar bagi upaya stabilisasi nilai tukar rupiah.
Ia mengapresiasi upaya tanpa henti dari Bank Indonesia (BI) yang selalu aktif melakukan intervensi di pasar. Namun ia mengingatkan bahwa ketegangan geopolitik di Timur Tengah bisa berdampak lebih luas terhadap perekonomian global yang pada akhirnya bisa berpengaruh terhadap perekonomian Indonesia.
"Ya secara teori belum terjadi perang dunia ketiga tapi secara teknis sudah terjadi perang dunia ketiga," ucapnya.
(marjudin)
Sumber : admin