Reli AI Hadapi Ujian Baru, Nasdaq Memimpin Pelemahan Bursa Wall Street
Thursday, July 23, 2026       04:27 WIB
  • Nasdaq turun 0,57% menjelang laporan keuangan Alphabet dan Tesla.
  • Pasar mencermati prospek AI dan kenaikan harga minyak.
  • Super Micro Computer melonjak hampir 20% berkat pesanan baru besar.

Ipotnews - Bursa ekuitas Wall Street tergelincir, Rabu, dengan Nasdaq memimpin pelemahan di tengah pergerakan yang tidak merata pada saham teknologi. Investor menahan diri menjelang rilis laporan keuangan sejumlah raksasa teknologi Amerika Serikat yang diharapkan dapat memberikan gambaran mengenai keberlanjutan reli pasar yang selama ini ditopang optimisme terhadap kecerdasan buatan (AI).
Nasdaq Composite Index ditutup melorot 146,30 poin atau 0,57% menjadi 25.690,90, sementara itu, indeks S&P 500 melemah 10,24 poin atau 0,14% ke posisi 7.498,96, sedangkan Dow Jones Industrial Average nyaris tidak berubah dengan penurunan 6,06 poin atau 0,01% jadi 52.218,58, demikian laporan  Reuters  dan  Investing,  di New York, Rabu (22/7) atau Kamis (23/7) pagi WIB.
Selain mencermati musim laporan keuangan, pelaku pasar juga memonitor perkembangan konflik di Timur Tengah yang kembali memanas. Ketegangan tersebut mendorong harga minyak mentah melambung sekitar 3% dan mencatatkan level penutupan tertinggi sejak 11 Juni, sehingga memunculkan kembali kekhawatiran terhadap inflasi.
Setelah mencatat kenaikan kuat sejak titik terendah pada Maret, momentum reli pasar saham Wall Street mulai menunjukkan tanda-tanda pelemahan. Perdagangan saham teknologi, khususnya sektor semikonduktor dan perangkat lunak, bergerak tidak konsisten sehingga memicu aksi ambil untung di sejumlah saham berkapitalisasi besar.
Indeks Philadelphia Semiconductor ditutup naik 0,4%, melanjutkan penguatan untuk sesi ketiga berturut-turut setelah sebelumnya sempat memasuki wilayah bear market pada pekan lalu. Penguatan tersebut menunjukkan investor masih selektif terhadap saham-saham yang dinilai memiliki prospek pertumbuhan terkait AI.
Fokus utama pasar tertuju pada laporan keuangan kuartal kedua Alphabet dan Tesla yang dirilis setelah penutupan perdagangan. Kedua perusahaan menjadi anggota pertama dari kelompok saham teknologi berkapitalisasi besar yang dikenal sebagai "Magnificent Seven" yang melaporkan kinerjanya pada musim laporan keuangan kali ini.
Investor berharap hasil keuangan kedua perusahaan dapat menjadi bukti bahwa investasi miliaran dolar yang digelontorkan untuk pengembangan teknologi AI mulai menghasilkan keuntungan nyata.
Kepala Riset dan Strategi Makro Charles Schwab, Kevin Gordon, mengatakan investor kini semakin selektif dalam memilih saham yang terkait dengan tema AI.
Menurut dia, perbedaan kinerja yang mencolok antara saham perangkat lunak dan saham produsen chip menunjukkan bahwa pasar tidak lagi memberikan premi secara merata kepada seluruh perusahaan yang mengusung narasi AI.
Saham Alphabet ditutup merosot 1,5% setelah sempat bergerak fluktuatif sepanjang sesi perdagangan. Perusahaan induk Google tersebut menjadi sorotan setelah menunda peluncuran model AI yang dianggap penting bagi strategi jangka panjangnya.
Sementara itu, Texas Instruments mengakhiri perdagangan reguler dengan lompatan 1%, namun sahamnya bergerak melemah dalam perdagangan setelah jam bursa meski perusahaan memproyeksikan pendapatan kuartal berjalan di atas ekspektasi pasar.
Tesla juga menjadi perhatian investor. Setelah ditutup terkoreksi 1,3% pada perdagangan reguler, saham produsen kendaraan listrik tersebut kembali anjlok sekitar 3% dalam perdagangan setelah penutupan pasar. Pelemahan terjadi setelah Tesla melaporkan arus kas bebas (free cash flow) negatif pada kuartal kedua, yang merupakan kejadian pertama dalam lebih dari dua tahun terakhir.
Padatnya jadwal laporan keuangan emiten kakap membuat pasar rentan mengalami volatilitas yang lebih tinggi sepanjang pekan ini. Risiko tersebut diperburuk oleh meningkatnya ketidakpastian geopolitik di Timur Tengah.
Harga minyak mentah melesat setelah kelompok Houthi Yaman yang didukung Iran mengancam pelayaran di Laut Merah, salah satu jalur distribusi energi paling penting di dunia selain Selat Hormuz. Di saat yang sama, Presiden AS Donald Trump menyatakan akan menghancurkan infrastruktur Iran setiap kali Teheran menyerang kapal yang melintas di Selat Hormuz.
Gordon menilai kenaikan harga minyak kini menjadi salah satu faktor utama yang memengaruhi pergerakan pasar di luar tema AI. Menurutnya, tingginya harga energi kembali memicu kekhawatiran inflasi sehingga mendorong investor beralih ke sektor-sektor defensif seperti utilitas. Namun, saham energi dan material justru mendapat dukungan karena diuntungkan oleh kenaikan harga komoditas.
Dari sisi kebijakan moneter, hasil survei  Reuters  menunjukkan Federal Reserve diprediksi mempertahankan suku bunga acuannya sepanjang sisa 2026. Meski demikian, ekonom menilai risiko kenaikan suku bunga masih cukup tinggi jika tekanan inflasi kembali meningkat.
Data FedWatch Tool CME Group memperlihatkan pelaku pasar memperkirakan peluang sekitar 66% bahwa the Fed akan mempertahankan suku bunga pada pertemuan pekan depan.
Di antara saham-saham individual, Super Micro Computer menjadi bintang perdagangan dengan lonjakan 19,8%, sekaligus menjadi saham dengan kinerja terbaik di indeks S&P 500. Penguatan terjadi setelah perusahaan server tersebut mengumumkan berhasil memperoleh pesanan baru senilai lebih dari USD60 miliar pada kuartal keempat.
Sentimen positif itu turut mengangkat saham perusahaan sejenis. Dell Technologies melejit 9,3%, sementara Hewlett Packard Enterprise melompat 3% setelah laporan awal Super Micro menunjukkan prospek bisnis yang kuat.
Saham AT&T naik 3,5% setelah perusahaan telekomunikasi tersebut berhasil menambah pelanggan layanan nirkabel lebih banyak dari perkiraan analis pada kuartal kedua. Sementara itu, Philip Morris International menguat 3,3% setelah permintaan rokok yang lebih tinggi membantu perusahaan melampaui estimasi kinerja keuangan kuartalan.
Secara keseluruhan, jumlah saham yang turun lebih banyak daripada yang naik dengan rasio 1,26 banding 1 di NYSE , di mana terdapat 142 rekor tertinggi baru dan 161 rekor terendah baru. Di Nasdaq, 1.665 saham menguat dan 3.103 saham melemah, dengan jumlah saham yang turun lebih banyak daripada yang naik dengan rasio 1,86 banding 1.
Indeks S&P 500 mencatat 14 rekor tertinggi baru dalam 52 minggu dan 2 rekor terendah baru, sementara Nasdaq Composite membukukan 45 rekor tertinggi baru dan 104 rekor terendah baru.
Di bursa Wall Street, volume perdagangan relatif rendah dengan 15,16 miliar saham berpindah tangan dibandingkan rata-rata pergerakan 19,05 miliar saham selama 20 sesi terakhir. (Reuters/Investing/AI)
Saham berkinerja terbaik di Dow
-Nvidia Corporation (2,29%)
-Johnson & Johnson (2,00%)
-Boeing Co (1,90%)
Saham berkinerja terburuk
-Salesforce Inc (-4,15%)
-International Business Machines (-2,15%)
-Microsoft Corporation (-1,86%)
Saham berkinerja terbaik di S&P 500
-Super Micro Computer Inc (19,84%)
-Westinghouse Air Brake Technologies Corp (10,04%)
-Dell Technologies Inc (9,32%)
Saham berkinerja terburuk
-GE Vernova LLC (-8,69%)
-ServiceNow Inc (-6,47%)
-PTC Inc (-6,34%)
Saham berkinerja terbaik di Nasdaq
-Zhongchao Inc (191,84%)
-PN Smart Energy Ltd (131,76%)
-Lakewood Amedex Biotherapeutics Inc (83,33%)
Saham berkinerja terburuk
-Wetour Robotics Ltd (-83,10%)
-Ohmyhome Ltd (-55,22%)
-Zhengye Biotechnology Holding Ltd (-51,58%)

Sumber : Admin