- Rupiah bergerak fluktuatif sepanjang Juli 2026, sempat melemah ke Rp18.105 per dolar AS sebelum ditutup di Rp18.000 per dolar AS pada akhir bulan atau melemah 0,66% dibandingkan akhir Juni.
- Ariston Tjendra menilai volatilitas rupiah dipicu kombinasi sentimen eksternal berupa ketegangan AS-Iran serta sentimen domestik terkait kebijakan fiskal dan pengunduran diri mendadak Gubernur BI Perry Warjiyo.
- Ariston memperkirakan rupiah masih berpotensi bergerak volatil pada Agustus 2026 di kisaran Rp17.800-Rp18.160 per dolar AS di tengah peluang kenaikan suku bunga The Fed dan penantian Gubernur BI yang baru.
Ipotnews - Pergerakan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat sepanjang Juli 2026 berlangsung fluktuatif.
Berdasarkan data Ipotnews yang dipantau pada Senin (3/8) pukul 10.00 WIB, rupiah sempat melemah hingga menyentuh Rp18.105 per dolar AS pada pertengahan bulan, sebelum kembali menguat dan menutup perdagangan akhir Juli di Rp18.000 per dolar AS, atau melemah 0,66% dibandingkan posisi akhir Juni.
Data menunjukkan kurs USD/IDR berada di level Rp17.882 per dolar AS pada 30 Juni 2026 sebagai titik awal periode pengamatan. Memasuki Juli, tekanan terhadap rupiah meningkat sehingga kurs bergerak naik dan mencapai level tertinggi periode tersebut di Rp18.105 per dolar AS pada 13 Juli 2026, atau melemah sekitar 1,25% dari posisi akhir Juni.
Setelah menyentuh level tertinggi, rupiah berangsur pulih seiring membaiknya sentimen pasar. Pada 22 Juli 2026, kurs kembali berada di Rp17.880 per dolar AS, nyaris sama dengan posisi akhir Juni dengan perubahan sekitar -0,01%.
Menjelang akhir bulan, tekanan terhadap rupiah kembali muncul. Pada 30 Juli 2026, kurs kembali melemah ke Rp18.085 per dolar AS, atau sekitar 1,14% di atas posisi awal periode.
Namun, penguatan rupiah terjadi pada hari terakhir perdagangan. Pada 31 Juli 2026, kurs USD/IDR ditutup di Rp18.000 per dolar AS, sehingga secara bulanan rupiah membukukan pelemahan 0,66% dibandingkan level 30 Juni 2026.
Secara keseluruhan, pergerakan rupiah sepanjang Juli mencerminkan tingginya volatilitas pasar keuangan. Pengamat pasar keuangan Ariston Tjendra, mengatakan kondisi ini terjadi akibat kombinasi faktor eksternal maupun internal.
"Secara eksternal, ketegangan geopolitik masih berlangsung antara Amerika Serikat dengan Iran sepanjang bulan lalu. Situasi ini menyebabkan kecenderungan harga minyak dunia naik. Tentu saja ini menjadi sentimen negatif bagi rupiah karena pelaku pasar khawatir dampaknya terhadap beban APBN Indonesia," kata Ariston saat dihubungi Ipotnews melalui WhatsApp Call siang ini.
Dari sisi internal, pelaku pasar masih memandang negatif kebijakan fiskal yang terjadi banyak kebocoran seperti program Makan Bergizi Gratis (MBG) dan Koperasi Desa Merah Putih ( KDMP ). "Pengunduran diri mendadak Perry Warjiyo sebagai Gubernur Bank Indonesia juga menambah sentimen negatif bagi rupiah," ujar Ariston.
Ariston memprediksi pergerakan kurs rupiah kemungkinan masih akan Volatile. Apalagi peluang kenaikan suku bunga acuan Federal Reserve masih ada seiring kenaikan inflasi di AS. Pelaku pasar juga masih menunggu kepastian siapa sosok Gubernur BI yang baru.
"Kemungkinan kurs rupiah akan bergerak pada rentang Rp17.800 - Rp18.160 per dolar AS sepanjang Agustus ini," ungkap Ariston.
(Adhitya/AI)
Sumber : admin