Rupiah Diperkirakan Melemah Setelah Data Ekonomi AS Lebih Kuat
Friday, February 20, 2026       09:26 WIB
  • Rupiah melemah ke Rp16.913 per dolar AS pada Jumat pagi, tertekan penguatan dolar AS akibat data ekonomi AS yang lebih kuat dan sikap hawkish Federal Reserve.
  • Klaim pengangguran AS turun signifikan ke 206.000, memperkuat prospek kebijakan moneter ketat lebih lama dan menopang dolar terhadap mata uang berisiko.
  • Ketegangan AS-Iran meningkatkan permintaan aset safe haven, menambah tekanan pada rupiah yang diperkirakan bergerak di kisaran Rp16.850-Rp17.000 per dolar AS.

Ipotnews - Nilai tukar rupiah diperkirakan berada dalam tekanan terhadap dolar Amerika Serikat menyusul rilis data ekonomi Negeri Paman Sam yang lebih kuat dari perkiraan serta meningkatnya ketegangan dengan Iran di Timur Tengah.
Berdasarkan data Bloomberg pada Jumat (20/2) pukul 09.06 WIB, rupiah sedang diperdagangkan melemah 19 poin atau 0,11% ke level Rp16.913 per dolar AS, dibandingkan akhir perdagangan Kamis (19/2) di Rp16.894 per dolar AS.
Analis Doo Financial Futures, Lukman Leong, menilai penguatan dolar AS didorong oleh kombinasi data ekonomi solid dan sikap hawkish pejabat Federal Reserve, yang membuat mata uang berisiko seperti rupiah tertekan.
"Rupiah berpotensi melemah terhadap dolar AS yang melanjutkan penguatan oleh data-data ekonomi yang lebih kuat dan pejabat-pejabat The Fed yang kembali memberikan pernyataan hawkish. Ketidakpastian geopolitik di Timur Tengah, khususnya Iran, juga menekan mata uang berisiko seperti rupiah," kata Lukman saat dihubungi Ipotnews pagi ini melalui pesan WhatsApp.
Ia memperkirakan rupiah bergerak dalam kisaran Rp16.850 hingga Rp17.000 per dolar AS dalam perdagangan hari ini.
Tekanan terhadap rupiah muncul setelah data klaim tunjangan pengangguran AS menunjukkan perbaikan signifikan di pasar tenaga kerja. Departemen Tenaga Kerja AS melaporkan klaim awal tunjangan pengangguran turun 23.000 menjadi 206.000 pada pekan yang berakhir 14 Februari, level terendah sejak November dan jauh di bawah proyeksi ekonom dalam survei Bloomberg.
Data tersebut memperkuat indikasi stabilitas pasar tenaga kerja AS dan memberi ruang bagi Federal Reserve untuk mempertahankan kebijakan moneter ketat lebih lama, yang pada gilirannya menopang penguatan dolar.
Dari sisi geopolitik, ketegangan di Timur Tengah turut meningkatkan permintaan aset safe haven. Laporan CNN International menyebutkan militer AS telah mencapai tingkat kesiapan tinggi untuk melancarkan serangan terhadap Iran paling cepat akhir pekan ini, menyusul peningkatan signifikan aset udara dan angkatan laut AS di kawasan tersebut.
Gedung Putih dilaporkan telah menerima pengarahan teknis terkait kesiapan operasi militer, termasuk reposisi jet tempur dan pesawat tanker dari pangkalan di Inggris ke wilayah yang lebih dekat dengan Iran. Selain itu, kapal induk USS Gerald Ford dijadwalkan tiba di kawasan Timur Tengah pada akhir pekan ini sebagai bagian dari penguatan kehadiran militer AS.
Kombinasi faktor fundamental dan geopolitik tersebut dinilai berpotensi mempertahankan tekanan terhadap rupiah dalam waktu dekat.
(Adhitya/AI)

Sumber : admin