- Rupiah ditutup menguat 114 poin atau 0,63% ke level Rp17.944 per dolar AS setelah pasar merespons positif kenaikan BI Rate 25 bps menjadi 5,5%.
- Kenaikan suku bunga BI meningkatkan daya tarik obligasi dan aset keuangan domestik, diperkuat komitmen Danantara menjaga kepastian usaha serta tata kelola ekspor komoditas strategis.
- Di tengah penguatan dolar AS akibat eskalasi konflik AS-Iran, kenaikan harga minyak, dan ekspektasi kebijakan ketat The Fed, sentimen domestik berhasil menopang penguatan rupiah.
Ipotnews - Nilai tukar rupiah ditutup menguat tajam terhadap dolar Amerika Serikat pada sore ini, seiring respons positif pelaku pasar terhadap keputusan Bank Indonesia menaikkan suku bunga acuan (BI Rate) sebesar 25 basis poin menjadi 5,5%.
Mengutip data Bloomberg pada Rabu (10/6) pukul 15.00 WIB, rupiah ditutup di level Rp17.944 per dolar AS, menguat 114 poin atau 0,63% dibandingkan penutupan Selasa (9/6) yang berada di posisi Rp18.058 per dolar AS.
Pengamat ekonomi, mata uang, dan komoditas Ibrahim Assuaibi mengatakan penguatan rupiah terjadi di tengah sentimen domestik yang membaik setelah langkah Bank Indonesia menaikkan suku bunga guna menjaga stabilitas nilai tukar.
Menurut Ibrahim, dari sisi internal, pelaku pasar menyambut baik kebijakan tersebut karena dinilai mampu meningkatkan daya tarik aset keuangan domestik.
"Pelaku pasar menyambut baik kenaikan suku bunga Bank Indonesia sebesar 25bp menjadi 5,5% pada hari Selasa, yang bertujuan untuk menstabilkan rupiah setelah berulang kali mencapai rekor terendah," tulis Ibrahim dalam publikasi risetnya sore ini.
Kenaikan suku bunga acuan juga membantu pemerintah dalam lelang obligasi bertenor 10 tahun, dengan bunga obligasi 7,4 persen sehingga investor asing maupun domestik diharapkan bisa kembali menyerbu lelang Surat Utang Negara (SUN).
Ia menambahkan, sentimen positif juga datang dari komitmen Danantara dalam pengelolaan ekspor komoditas strategis yang dinilai mampu meningkatkan kepercayaan pasar.
"Kepercayaan semakin diperkuat oleh janji dana kekayaan negara Danantara untuk tidak mengambil margin keuntungan pada ekspor komoditas strategis dan untuk menghormati kontrak yang ada di bawah kerangka sentralisasi baru," ujar Ibrahim.
Lebih lanjut, Ibrahim menilai kehadiran PT Danantara Sumberdaya Indonesia (DSI) sebagai pintu tunggal ekspor komoditas strategis diharapkan dapat menciptakan kepastian usaha dan memperkuat tata kelola.
"Kehadiran PT Danantara Sumberdaya Indonesia (DSI) sebagai pintu tunggal ekspor komoditas strategis dirancang untuk memperkuat tata kelola, menjamin kepastian hukum, dan mengoptimalkan penerimaan negara tanpa mengganggu kelangsungan bisnis eksportir. Langkah ini diharapkan mampu meredam volatilitas ekonomi dengan mengedepankan transparansi," tutur Ibrahim.
Sementara itu, dari eksternal, pergerakan indeks dolar AS yang menguat masih ditopang meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah dan ekspektasi kebijakan moneter Amerika Serikat yang tetap ketat.
Ibrahim menjelaskan bahwa Washington melancarkan serangan baru terhadap target Iran setelah jatuhnya helikopter militer AS di dekat Selat Hormuz. Sebagai respons, Iran menyatakan telah menargetkan pangkalan AS di Yordania dan sejumlah negara Teluk.
Eskalasi tersebut kembali memunculkan kekhawatiran terhadap pasokan energi global, mengingat Selat Hormuz merupakan jalur vital yang dilalui sekitar seperlima perdagangan minyak dunia dan gas alam cair global. Kondisi itu mendorong harga minyak naik sekitar 1% pada perdagangan Rabu.
Menurut Ibrahim, kenaikan harga energi berpotensi meningkatkan tekanan inflasi di Amerika Serikat dan memperkuat ekspektasi bahwa Federal Reserve akan mempertahankan kebijakan moneter ketat lebih lama. "Saat ini, lebih dari 70% pelaku pasar memperkirakan The Fed masih berpeluang menaikkan suku bunga pada Desember mendatang," sebut Ibrahim.
Selain itu, investor juga menantikan rilis data inflasi konsumen (CPI) AS. Para ekonom memperkirakan inflasi tahunan Amerika Serikat meningkat menjadi sekitar 4,2% pada Mei 2026, yang akan menjadi level tertinggi sejak April 2023 dan berpotensi memperkuat pandangan bahwa The Fed akan tetap mempertahankan suku bunga tinggi dalam waktu yang lebih lama.
Meski indeks dolar AS menguat pada perdagangan global, sentimen domestik yang positif pasca kenaikan BI Rate berhasil menopang rupiah sehingga ditutup menguat signifikan terhadap mata uang Negeri Paman Sam tersebut.
(Adhitya/AI)
Sumber : admin