Rupiah Melemah Akibat Kekhawatiran Pasar Pada Pelebaran Defisit APBN 2026
Tuesday, April 14, 2026       09:32 WIB
  • Rupiah melemah ke Rp17.130 per dolar AS pada Selasa pagi (14/4), meski dolar AS global sedang melemah, menunjukkan sentimen domestik Indonesia masih negatif.
  • Pelemahan dipicu kekhawatiran defisit APBN 2026 melebar, prospek pertumbuhan ekonomi diturunkan, cadangan devisa menurun, dan surplus neraca dagang makin kecil.
  • Gagalnya negosiasi AS-Iran meningkatkan risiko konflik dan gangguan pasokan energi di Selat Hormuz, sehingga rupiah berpotensi tertekan hingga Rp17.400 per dolar AS pada April 2026.

Ipotnews - Kekhawatiran terhadap pelebaran defisit APBN 2026 akibat konflik antara Amerika Serikat bersama Israel dengan Iran yang terus berkelanjutan, menjadi sentimen negatif yang melemahkan kurs rupiah terhadap dolar pagi ini.
Berdasarkan data Bloomberg pada Selasa pagi (14/4) pukul 09.05 WIB, mata uang Garuda sedang diperdagangkan pada level Rp17.130 per dolar AS, melemah 25 poin atau 0,15% dibandingkan akhir perdagangan Senin sore (13/4) di level Rp17.105 per dolar AS.
Analis Doo Financial Futures, Lukman Leong, mengatakan pelemahan rupiah pagi ini cukup mengejutkan. Lukman semula memperkirakan terjadi penguatan kurs rupiah cukup besar.
"Ini mengingat semua mata uang menguat cukup tajam dan indeks dolar AS turun ke level terendah dalam sebulan terakhir. Begitu juga harga minyak mentah yang kembali di bawah USD100," kata Lukman saat dihubungi Ipotnews melalui pesan WhatsApp pagi ini.
Pelemahan ini, menurut Lukman mengarisbawahi sentimen domestik yang masih sangat lemah. "Mulai dari kekhawatiran melebarnya defisit anggaran 2026, downgrade outlook pertumbuhan ekonomi nasional, cadangan devisa RI yang terus menurun, hingga surplus neraca perdagangan Indonesia yang semakin kecil," ujar Lukman.
Perlu diketahui, negosiasi antara AS dan Iran yang dimediasi Pakistan pada Minggu (12/4) telah menemui jalan buntu. Kondisi ini meningkatkan risiko eskalasi konflik di kawasan Timur Tengah, termasuk potensi kembali terganggunya jalur distribusi energi global melalui Selat Hormuz.
Pengamat mata uang, Ibrahim Assuaibi menilai, apabila tensi konflik AS-Iran kembali meningkat, rupiah berpotensi tertekan hingga menyentuh Rp 17.400 per dolar AS dalam waktu dekat, khususnya sepanjang April 2026. Ia menjelaskan, tekanan terhadap rupiah tidak lepas dari gangguan pasokan energi.
Sejumlah kapal tanker minyak Indonesia dilaporkan masih tertahan di Selat Hormuz, sehingga pemerintah perlu mencari sumber pasokan alternatif, termasuk dari Rusia dan AS. Kondisi ini berpotensi meningkatkan kebutuhan impor energi dalam denominasi dolar AS, yang pada akhirnya menambah tekanan terhadap nilai tukar rupiah.
(Adhitya/AI)

Sumber : admin