Rupiah Terus Tertekan, Potensi Tembus Rp18.000 Semakin Nyata
Wednesday, June 03, 2026       11:22 WIB
  • Stagnasi perundingan AS-Iran, konflik Timur Tengah, dan kenaikan harga minyak mentah mendorong penguatan dolar.
  • Permintaan dolar tinggi untuk impor minyak, pembayaran dividen, dan utang jatuh tempo menekan rupiah.
  • Pemerintah perlu menjaga daya beli, menyalurkan bansos tepat sasaran, mendorong industrialisasi, serta menyederhanakan regulasi investasi.

Ipotnews - Nilai tukar rupiah kembali melemah pada perdagangan Rabu (3/6), mendekati level psikologis Rp18.000 per dolar AS. Bahkan saat ini tepatnya pada pukul 10.50 WIB, nilai tukar rupiah menembus level Rp17.910 per dolar AS.
Pengamat Ekonomi, Mata Uang, dan Komoditas Ibrahim Assuaibi menjelaskan bahwa pelemahan nilai tukar rupiah tidak lepas dari tekanan eksternal maupun domestik di tengah lonjakan harga minyak mentah dunia dan ketidakpastian geopolitik. Ia menilai stagnasi perundingan antara Amerika Serikat dan Iran menjadi salah satu pemicu utama.
"Stagnasi yang terjadi antara Amerika dan Iran, terutama terkait pengayaan uranium, membuat ketegangan semakin tinggi dan mendorong penguatan dolar," ujar Ibrahim kepada awak media di Jakarta, Rabu (3/6).
Selain itu, konflik di Timur Tengah juga memperburuk sentimen pasar. Iran disebut siap melakukan konfrontasi dengan Israel, menyusul serangan berlanjut ke Lebanon Selatan. Kondisi ini menambah ketidakpastian global dan memperkuat indeks dolar.
Dari sisi eksternal, harga minyak mentah WTI dan Brent crude mendorong inflasi di Amerika Serikat, sehingga Bank Sentral AS berpotensi mempertahankan bahkan menaikkan suku bunga. "Bank Sentral Amerika kemungkinan besar akan tetap mempertahankan suku bunga tinggi, bahkan bisa menaikkan satu kali tahun ini," kata Ibrahim.
Tekanan domestik juga tidak kalah besar. Permintaan dolar meningkat tajam untuk impor minyak, pembayaran dividen, dan jatuh tempo utang. Kebutuhan dolar yang tinggi memicu harga rupiah terhadap dolar AS semakin tertekan.
"Permintaan dolar untuk impor minyak dan pembayaran utang membuat rupiah semakin tertekan."
Untuk menghadapi pelemahan rupiah, Ibrahim menyarankan pemerintah menjaga stabilitas ekonomi dan daya beli masyarakat. Strategi yang dapat ditempuh antara lain memastikan pasokan barang impor tetap tersedia, menyalurkan bantuan sosial tepat sasaran, serta mendorong industrialisasi dan produktivitas sektor riil.
Selain itu, penyederhanaan regulasi investasi dan percepatan transformasi digital dinilai penting untuk menarik investor asing.
"Saya salah satu pelaku dan salah satu saksi ya dalam melakukan perizinan secara online, itu bisa enam bulan sampai satu tahun. Nah ini yang harus dilakukan (mempermudah perizinan) oleh pemerintah supaya investor asing masuk ke dalam negeri," katanya.
(Marjudin/ AI)

Sumber : admin