S&P 500 dan VIX Sama-Sama Naik, Fenomena Langka Ini Jadi Sinyal Ketidakpastian Pasar
Wednesday, January 07, 2026       10:06 WIB
  • Kenaikan S&P 500 bersamaan dengan lonjakan VIX jarang terjadi
  • Investor tetap pasang lindung nilai meski pasar saham menguat
  • Risiko geopolitik dan agenda data penting bikin pasar siaga volatilitas
  • Pasar Saham Naik, Tapi Investor Bersiap Hadapi Gejolak

Ipotnews - Kenaikan indeks S&P 500 yang terjadi bersamaan dengan penguatan Cboe Volatility Index (VIX) merupakan fenomena yang relatif jarang di pasar keuangan. Kondisi ini terjadi pada perdagangan Selasa (6/1), ketika saham-saham Wall Street terus menguat, namun pada saat yang sama investor justru meningkatkan posisi untuk mengantisipasi volatilitas.
Pasar saham AS tetap menanjak meski ketegangan geopolitik meningkat setelah Amerika Serikat menangkap pemimpin Venezuela, Nicols Maduro. Pasca operasi tersebut, indeks S&P 500 naik 0,6% pada Senin dan kembali menguat 0,6% pada Selasa.
Yang menarik, di tengah reli saham tersebut, VIX--yang kerap dijuluki "indeks ketakutan" Wall Street--melonjak 2,7% pada Senin. Biasanya, VIX bergerak berlawanan arah dengan S&P 500, sehingga kenaikan keduanya secara bersamaan tergolong tidak lazim.
"Aksi VIX yang naik saat pasar menguat tidak serta-merta menjadi peringatan bahaya, tetapi ini adalah sebuah sinyal," ujar Joe Mazzola, Head Trading and Derivatives Strategist di Charles Schwab. Menurutnya, kondisi tersebut menandakan bahwa pasar sedang memperhitungkan ketidakpastian.
Secara historis, kejadian ini memang jarang terjadi. Data Dow Jones Market Data mencatat, sepanjang 2025 hanya dua kali VIX naik 2% atau lebih pada hari yang sama ketika S&P 500 menguat setidaknya 0,5%. Dalam 10 tahun terakhir, fenomena ini hanya terjadi 28 kali, dan 37 kali dalam 20 tahun terakhir.
Kenaikan VIX di tengah pasar saham yang menguat mencerminkan sikap waspada investor terhadap berbagai agenda penting ke depan. Beberapa faktor yang berpotensi memicu volatilitas antara lain rilis data tenaga kerja AS, putusan Mahkamah Agung AS terkait tarif Presiden Donald Trump, serta eskalasi risiko geopolitik pasca operasi militer AS di Venezuela.
Namun, Mazzola mengingatkan pentingnya melihat posisi awal VIX sebelum lonjakan terjadi. Indeks volatilitas tersebut menutup akhir 2025 di dekat level terendah tahunannya, seiring minimnya aktivitas selama periode libur. Kondisi ini membuat premi opsi relatif murah, sehingga banyak pelaku pasar memanfaatkannya untuk membeli kontrak lindung nilai.
"Situasinya hampir seperti peluang beli, karena biaya untuk membeli opsi put relatif murah dibandingkan call," jelas Mazzola. Lonjakan permintaan opsi inilah yang ikut mendorong VIX naik.
Pandangan serupa disampaikan Mandy Xu, Head of Derivatives Market Intelligence di Cboe. Ia menilai, karena VIX berada di level rendah, kenaikan kecil dalam satuan poin bisa tampak besar jika dilihat secara persentase. Oleh sebab itu, Xu lebih memilih mengamati pergerakan VIX dalam satuan poin ketimbang persentase.
Xu juga menekankan bahwa VIX tidak semata-mata mencerminkan rasa takut pasar. "VIX lebih akurat disebut sebagai ukuran ketidakpastian, dan ketidakpastian itu bisa mengarah ke atas maupun ke bawah," ujarnya.
Ia menambahkan bahwa kenaikan VIX bisa dipicu oleh berbagai faktor, mulai dari pelemahan pasar saham hingga meningkatnya permintaan lindung nilai. Meski VIX sempat menguat di awal perdagangan Selasa, indeks tersebut akhirnya melemah menjelang penutupan, sementara S&P 500 tetap berakhir naik 0,6%.(MarketWatch)

Sumber : admin