Saham AI dan Semikonduktor Berguguran, Nasdaq Jatuh ke Level Terendah Sepekan
Wednesday, June 24, 2026       04:50 WIB
  • Wall Street turun dipimpin saham teknologi dan semikonduktor.
  • Kekhawatiran AI dan suku bunga The Fed menekan pasar.
  • Volatilitas naik, terjadi rotasi ke sektor defensif seperti consumer staples.

Ipotnews - Bursa ekuitas Wall Street berakhir di zona merah, Selasa, dengan Nasdaq dan S&P 500 mencatat level penutupan terendah dalam lebih dari sepekan. Pelemahan dipicu aksi jual saham semikonduktor dan teknologi setelah investor mulai mempertanyakan besarnya belanja kecerdasan buatan (AI) yang didanai utang, serta meningkatnya ekspektasi terhadap kebijakan moneter Federal Reserve yang lebih agresif.
Indeks Dow Jones Industrial Average ditutup turun 47,22 poin atau 0,09 persen menjadi 51.665,49. Sementara itu, S&P 500 merosot 107,32 poin atau 1,44 persen ke posisi 7.365,47 dan Nasdaq Composite Index anjlok 579,56 poin atau 2,21 persen jadi 25.587,04, demikian laporan  Reuters  dan  Investing,  di New York, Selasa (23/6) atau Rabu (24/6) pagi WIB.
Tekanan terbesar berasal dari sektor semikonduktor. Indeks Philadelphia SE Semiconductor jatuh 7,9 persen, sedangkan indeks teknologi informasi dalam S&P 500 melorot 3,7 persen.
Saham Nvidia anjlok 4,1 persen dan Alphabet terkoreksi 1 persen. Di sektor chip, Intel, Marvell Technology, dan Advanced Micro Devices (AMD) masing-masing kehilangan antara 5,8 persen hingga 9,4 persen.
Senior Portfolio Manager Globalt, Thomas Martin, mengatakan pasar mulai mempertanyakan besarnya pengeluaran modal yang dilakukan perusahaan-perusahaan teknologi untuk membangun kapasitas AI dan produksi semikonduktor.
Menurutnya, sejumlah perkembangan terbaru di sektor AI memunculkan kekhawatiran mengenai keberlanjutan investasi besar-besaran yang selama ini menjadi pendorong utama reli saham teknologi.
Kekhawatiran tersebut semakin menguat karena banyak perusahaan teknologi raksasa atau hyperscalers menggunakan pembiayaan utang untuk mendanai ekspansi AI. SpaceX milik Elon Musk, yang baru melantai di bursa bulan ini, menjadi salah satu perusahaan besar yang memanfaatkan pasar obligasi untuk menghimpun modal tambahan.
Meski saham SpaceX berhasil menguat 1 persen setelah mengalami penurunan selama tiga sesi sebelumnya, sentimen negatif terhadap sektor teknologi secara keseluruhan tetap mendominasi perdagangan.
Saham produsen chip memori Micron Technology dan SanDisk, yang sebelumnya menjadi salah satu kontributor kenaikan terbesar di S&P 500 sepanjang tahun ini, masing-masing merosot sekitar 13 persen.
Pasar kini menanti laporan keuangan Micron yang dijadwalkan dirilis pada Rabu waktu setempat. Hasil kinerja perusahaan tersebut dinilai dapat memberikan gambaran lebih jelas mengenai prospek industri chip memori dan AI setelah reli tajam yang terjadi sepanjang tahun.
Meningkatnya kehati-hatian investor juga tercermin dari lonjakan indeks volatilitas CBOE (VIX), yang sering disebut sebagai indikator ketakutan Wall Street. Indeks tersebut melesat 2,23 poin menjadi 19,52, level tertinggi dalam lebih dari satu pekan.
Meski demikian, pelemahan pasar tidak terjadi secara merata. Enam dari sebelas sektor utama dalam S&P 500 masih mampu mencatat kenaikan. Sektor kebutuhan pokok konsumen menjadi yang terbaik dengan penguatan 1,8 persen. Pergerakan ini menunjukkan adanya rotasi dana dari saham teknologi yang bervaluasi tinggi menuju sektor-sektor yang dianggap lebih defensif.
Dari sisi kebijakan moneter, pelaku pasar semakin memperkirakan Federal Reserve akan kembali menaikkan suku bunga sebelum akhir tahun. Data LSEG menunjukkan investor kini mulai memasukkan skenario dua kali kenaikan suku bunga hingga Desember, dibandingkan ekspektasi hanya satu kenaikan sebesar 25 basis poin dua pekan lalu.
Perubahan ekspektasi tersebut muncul seiring pandangan bahwa the Fed di bawah kepemimpinan Chairman Kevin Warsh akan mengambil sikap yang lebih hawkish dalam menghadapi tekanan inflasi.
Fokus pasar berikutnya tertuju pada rilis data Personal Consumption Expenditures (PCE) Price Index Amerika Serikat yang dijadwalkan terbit pada Kamis. Indikator inflasi favorit the Fed tersebut dipandang sebagai petunjuk penting bagi arah kebijakan suku bunga dalam beberapa bulan mendatang.
Selain faktor ekonomi, investor juga mencermati perkembangan geopolitik di Timur Tengah. Senat Amerika Serikat, Selasa, mendukung rancangan undang-undang untuk menghentikan aksi militer AS terhadap Iran. Namun, dampak kebijakan tersebut terhadap konflik yang sedang berlangsung masih belum jelas, terutama ketika pemerintahan Presiden Donald Trump terus melanjutkan negosiasi menuju kesepakatan damai dengan Teheran.
Secara keseluruhan, jumlah saham yang turun melebihi yang naik dengan rasio 1,31 banding 1 di NYSE . Terdapat 120 rekor tertinggi baru dan 187 rekor terendah baru di NYSE . Di Nasdaq, 2.181 saham menguat dan 2.636 saham melemah, dengan jumlah yang turun melebihi yang naik dengan rasio 1,21 banding 1.
Indeks S&P 500 mencatatkan 12 rekor tertinggi baru dalam 52 minggu dan lima rekor terendah baru, sementara Nasdaq Composite membukukan 132 rekor tertinggi baru dan 182 rekor terendah baru.
Volume transaksi di bursa Wall Street mencapai 24,1 miliar saham, dibandingkan rata-rata 22,53 miliar saham untuk sesi penuh selama 20 hari perdagangan terakhir. (Reuters/Investing/AI)
Saham berkinerja terbaik di Dow
-International Business Machines (5,04%)
-Merck & Company Inc (3,54%)
-Johnson & Johnson (3,36%)
Saham berkinerja terburuk
-Nvidia Corporation (-4,15%)
-Caterpillar Inc (-3,73%)
-Honeywell International Inc (-2,50%)
Saham berkinerja terbaik di S&P 500
-Axon Enterprise Inc (5,61%)
-CDW Corp (5,26%)
-GE HealthCare Technologies Inc (5,06%)
Saham berkinerja terburuk
-Micron Technology Inc (-13,16%)
-ON Semiconductor Corporation (-11,01%)
-Enphase Energy Inc (-9,90%)
Saham berkinerja terbaik di Nasdaq
-Atlantic International Corp (202,41%)
-Aditx Therapeutics Inc (117,19%)
-Focus Universal Inc (89,23%)
Saham berkinerja terburuk
-Nexentis Technologies Inc (-55,31%)
-Triller Group Inc (-50,49%)
-INLIF Ltd (-49,28%)

Sumber : Admin