Saham Eropa Anjlok, Sektor Otomotif dan Telekomunikasi Jadi Beban Utama
Saturday, September 19, 2026       07:24 WIB
  • Saham Eropa anjlok 1,1%, dengan sektor otomotif dan telekomunikasi menjadi penekan utama.
  • Volkswagen merosot 5,6% setelah memangkas proyeksi dan memperingatkan beban satu kali senilai EUR10 miliar.
  • Sektor telekomunikasi turun 3,3%, sementara Airtel Africa menjadi saham dengan penurunan terbesar setelah muncul laporan terkait rencana IPO unitnya.

Ipotnews - Saham-saham Eropa merosot pada perdagangan Jumat (18/9) akhir pekan ini. Pelemahan meluas dan dipimpin oleh saham otomotif serta telekomunikasi. Pasar juga mencatat penurunan mingguan di tengah pekan yang diwarnai penurunan harga minyak dan keputusan suku bunga sejumlah bank sentral utama.
Indeks saham Eropa turun 1,1% menjadi 635,45 poin, menghapus hampir seluruh kenaikan yang dibukukan dalam dua sesi perdagangan sebelumnya. Dalam sepekan, indeks tersebut turun 0,6%.
Bursa-bursa regional juga berakhir di zona merah. Pasar saham London dan Jerman masing-masing turun 1,5% dan 1,6%. Sektor otomotif dan suku cadang merosot 3,4%. Volkswagen memimpin penurunan dengan kejatuhan 5,6%, sekaligus menjadi penurunan satu hari terbesar sejak September 2025.
Perusahaan tersebut memangkas proyeksinya dengan memperingatkan adanya beban satu kali senilai EUR10 miliar atau sekitar US$11,5 miliar. Beban tersebut berkaitan dengan kepemilikannya di produsen mobil sport mewah Porsche, provisi untuk pemutusan hubungan kerja, serta lemahnya pasar China. Saham Porsche turun 4,9%.
Saham-saham telekomunikasi merosot 3,3%, mencatat penurunan harian terbesar sejak April 2025. Airtel Africa anjlok 11,3% dan menjadi saham dengan penurunan terbesar di indeks Eropa setelah Bloomberg News melaporkan bahwa unit Airtel Money sedang mempertimbangkan untuk mengurangi skala penawaran umum perdana (IPO) di London.
Sektor makanan dan minuman turun 1,9%. Saham Nestle melemah 2,6% setelah Rusia mengambil alih aset lokal perusahaan makanan asal Swiss tersebut.
Harga minyak memangkas sebagian kerugian sebelumnya pada Jumat ketika pasar menilai kondisi pasokan Arab Saudi sekaligus mencermati kekhawatiran mengenai meluasnya konflik di Timur Tengah. Meski demikian, saham-saham sektor energi tetap turun 0,7% dan terkoreksi 0,5% sepanjang pekan.
Meredanya aksi jual di pasar obligasi, ditambah penurunan harga minyak mentah, membantu sentimen terhadap aset berisiko sepanjang pekan ini. Pergerakan tersebut terjadi meskipun Federal Reserve AS menaikkan suku bunga. Sementara Bank of England mempertahankan suku bunga, tetapi memperingatkan bahwa pengetatan lebih lanjut mungkin diperlukan jika perang di Iran berlangsung berkepanjangan.
Pernyataan bank-bank sentral tersebut semakin memperkuat kesan bahwa para pembuat kebijakan kini berupaya mengantisipasi tekanan inflasi.
"Fokus untuk pekan depan adalah apakah kenaikan suku bunga bulan ini merupakan langkah antisipasi terhadap guncangan inflasi yang dipicu energi, atau awal dari siklus pengetatan global yang berlangsung panjang," kata Daniela Hathorn, Senior Market Analyst di Capital.com.
"Jika imbal hasil obligasi stabil dan harga minyak terus turun, saham-saham dapat memperoleh ruang untuk bernapas," ujarnya.
Sementara itu, sektor kesehatan Eropa menjadi sektor dengan kinerja terbaik sepanjang pekan ini, disusul sektor asuransi. Sementara itu, sektor perbankan dan otomotif menjadi sektor yang paling terpukul.
Perkembangan menjelang pertemuan antara Presiden AS Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping pada pekan depan juga menjadi perhatian pasar.
Di antara saham lainnya, Orange turun 5,8% setelah Morgan Stanley menurunkan rekomendasinya terhadap perusahaan telekomunikasi Prancis tersebut menjadi "underweight". Sementara itu, LPP melonjak 8% setelah peritel fesyen terbesar di Polandia tersebut melaporkan kenaikan laba bersih kuartal II sebesar 64%.
(reuters)

Sumber : admin