Saham Eropa Flat, Investor Cermati Inflasi Zona Euro dan Konflik Timur Tengah
Friday, August 14, 2026       03:30 WIB
  • Bursa Eropa stagnan tertekan penurunan harga komoditas dan konflik Timur Tengah.
  • Saham energi dan tambang melorot, meski tertahan lonjakan saham Maersk dan Adyen.
  • Investor menanti data inflasi zona euro untuk sinyal arah suku bunga ECB.

Ipotnews -- Bursa ekuitas Eropa bergerak terbatas pada perdagangan Kamis, ketika investor menantikan data inflasi zona euro setelah musim laporan keuangan yang kuat. Penurunan harga komoditas turut membebani saham sektor energi dan pertambangan.
Indeks pan-Eropa STOXX 600 ditutup nyaris tidak berubah, turun 0,04% atau 0,24 poin menjadi 659,24, mundur dari rekor tertinggi yang dicapai pada sesi sebelumnya, demikian laporan  Reuters  dan   CNBC ,  di Bengaluru, Kamis (13/8) atau Jumat (14/8) dini hari WIB.
Sementara, bursa regional utama berakhir di zona merah. Indeks DAX Jerman melemah 0,12% atau 31,33 poin jadi 26.299,74, FTSE 100 Inggris terkoreksi 0,56% atau 60,48 poin ke posisi 10.772,67 dan CAC Prancis berkurang 0,28% atau 24,38 poin menjadi 8.650,56.
Perusahaan di kawasan Eropa berada di jalur menuju salah satu musim laporan keuangan terkuat dalam beberapa tahun terakhir. Laba sektor energi dan material terdorong oleh tingginya harga komoditas yang dipicu konflik di Timur Tengah.
"Perubahan dalam prospek laba sangat besar dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Ini menjadi salah satu pendorong kuat bagi saham-saham Eropa," kata Joost Van Leenders, Senior Investment Strategist Van Lanschot Kempen Investment Management.
Meski demikian, sentimen investor tetap tertekan oleh ketidakpastian terkait konflik Timur Tengah. Amerika Serikat dan Iran saling mengklaim kendali atas Selat Hormuz, jalur strategis yang sangat penting bagi pasokan energi global.
"Masalah sebenarnya saat ini adalah bagaimana pasar memperhitungkan perkembangan di Timur Tengah. Selama berbulan-bulan, pasar terus memperkirakan perang akan segera berakhir," ujar David Morrison, Senior Market Analyst Trade Nation.
Harga minyak mentah Brent melorot 0,7%, Kamis, dan menuju penurunan pertama dalam tujuh sesi perdagangan. Prospek melemahnya permintaan global serta lonjakan persediaan minyak mentah Amerika Serikat menekan harga minyak.
Tekanan terbesar terjadi pada saham sektor energi yang turun 0,8%. Sementara itu, saham sektor sumber daya dasar memimpin pelemahan sektoral dengan kerugian 3%, menjadi penurunan tertajam dalam lebih dari sebulan akibat kejatuhan harga logam mulia dan tembaga.
Investor juga menunggu data inflasi zona euro yang akan dirilis Jumat untuk mendapatkan petunjuk mengenai arah kebijakan moneter Bank Sentral Eropa (ECB).
Dari Amerika Serikat, data yang dirilis Kamis menunjukkan harga produsen tidak berubah sepanjang Juli. Sehari sebelumnya, pelaku pasar memangkas ekspektasi kenaikan suku bunga Federal Reserve pada pertemuan September setelah inflasi konsumen Juli hanya meningkat tipis.
Kerugian STOXX 600 tertahan oleh penguatan saham sektor makanan dan minuman serta telekomunikasi yang masing-masing melompat 1,3% dan 1%.
Di antara saham individual, Maersk melesat 9,4% setelah perusahaan pelayaran asal Denmark tersebut membukukan laba jauh di atas perkiraan dan kembali menaikkan proyeksi laba setahun penuh untuk kedua kalinya tahun ini. Konflik Timur Tengah dan kuatnya permintaan mendorong kenaikan tarif angkutan sehingga memperkuat kinerja perusahaan.
Adyen juga menjadi salah satu saham dengan kenaikan terbesar di STOXX 600, melejit 16,4% setelah perusahaan pembayaran asal Belanda yang memiliki klien seperti Spotify dan Microsoft tersebut menaikkan proyeksi pertumbuhan pendapatan tahunan.
Sebaliknya, Swissquote anjlok 14% hingga mencapai level terendah dalam lebih dari setahun. Penyedia layanan keuangan dan perdagangan tersebut gagal memenuhi ekspektasi kinerja semester pertama akibat pendapatan dari bisnis mata uang kripto yang lemah. (Reuters/CNBC/AI)

Sumber : Admin