Sempat Melemah Lebih 2%, Tekanan IHSG Mereda Menjelang Siang
Tuesday, September 29, 2026       10:58 WIB
  • IHSG anjlok 2,18 persen ke level 6.013 dalam 30 menit, tertekan koreksi sejumlah saham berkapitalisasi besar. Namun tekanan mereda menjelang siang.
  • kembali terkena ARB 13,95 persen ke level 37, setelah sebelumnya ditutup di level 43.
  • Pemberlakuan batas minimum harga saham Rp1 memberi ruang bagi saham-saham untuk bergerak lebih rendah.

Ipotnews - Tekanan berat terhadap IHSG di 30 menit awal transaksi pagi, seiring koreksi sejumlah saham berkapitalisasi besar yang menjadi pemberat utama pergerakan Indeks, mereda menjelang siang ini, Selasa (29/9).
Pada pukul 10.50, IHSG tercatat melemah 0,54 persen atau 33 poin ke 6.115. Posisi ini jauh membaik ketimbang 30 menit pertama perdagangan, di mana IHSG sempat anjlok 2,18 persen ke level 6.013, seiring koreksi sejumlah saham berkapitalisasi besar yang menjadi pemberat utama pergerakan indeks.
Berdasarkan data perdagangan saham di BEI, tekanan terutama terlihat pada , , , , dan . Koreksi saham-saham big caps ini memberikan tekanan signifikan terhadap IHSG , karena memiliki kapitalisasi pasar dan bobot indeks yang besar.
Selain sejumlah saham tersebut, juga kembali menjadi perhatian pelaku pasar setelah melanjutkan tekanan pada perdagangan hari ini. telah mengalami auto rejection bawah (ARB) pada perdagangan Senin (28/9), ketika aturan baru BEI mengenai batas minimum harga saham Rp1 per lembar mulai berlaku.
Pada perdagangan kemarin, ditutup di level 43 atau anjlok 14 persen, yang sekaligus mengalami ARB dari level 50. Hari ini saham konstituen IDXTECHNO tersebut juga mengalami ARB alias tersungkur 13,95 persen ke level 37, sehingga market cap tersisa Rp42,2 triliun.
Pemberlakuan batas minimum harga saham Rp1 membuat sejumlah saham yang sebelumnya tertahan di level 50 memiliki ruang untuk bergerak lebih rendah sesuai mekanisme pasar. Pada perdagangan hari ini, saham yang sebelumnya tertahan di level gocap kembali mengalami ARB ke level 37, seperti , , , , , , , , , , , , , , , dan .
Hingga pukul 10.30 WIB perdagangan hari ini, saham big caps yang mengalami penurunan harga adalah sebesar 0,8 persen ke level 6.175, anjlok 3,3 persen ke posisi 2.930, melorot 2,65 persen ke level 4.410, tercatat merosot 0,42 persen ke level 2.360 dan melorot 1,54 persen ke posisi 4.480.
Namun demikian, tekanan IHSG pada perdagangan di Sesi I tidak semata-mata disebabkan perubahan batas minimum harga saham. Pada perdagangan sebelumnya, pelemahan IHSG juga berlangsung bersamaan dengan tekanan terhadap rupiah dan meningkatnya kekhawatiran investor terhadap kondisi eksternal.
Nilai tukar rupiah pada penutupan Senin tercatat melemah 0,46 persen ke level Rp17.975 per dolar AS. Tekanan terhadap rupiah disebut-sebut berkaitan dengan kondisi penguatan dolar AS terhadap sejumlah mata uang, arus keluar dana asing, serta meningkatnya kekhawatiran terhadap ketegangan geopolitik dan perkembangan data ekonomi.
Selain itu, kenaikan imbal hasil US Treasury dan peningkatan kekhawatiran inflasi akibat risiko gangguan pasokan energi turut membuat investor mengantisipasi kemungkinan kebijakan moneter AS yang lebih ketat. Kondisi ini tentunya berpotensi meningkatkan tekanan terhadap aset berisiko, termasuk saham di pasar negara berkembang.
Di tengah koreksi tersebut, penurunan harga sejumlah saham hingga mendekati atau bahkan mencetak level terendah (year-to-date) dapat menjadi perhatian investor dengan horizon investasi menengah hingga panjang, termasuk investor yang berorientasi pada dividen.
Tetapi yang perlu diperhatikan, harga yang menurun tersebut tetntunya tidak dengan sendirinya menunjukkan valuasi yang murah, sehingga potensi dividend yield tetap perlu dilihat bersama dengan kondisi laba perusahaan, arus kas, payout ratio dan keberlanjutan kebijakan dividen masing-masing emiten.(Budi/AI)

Sumber : Admin