Sengaja Batasi Pasokan, SIDO Proyeksikan Penjualan Tahun Ini Turun 10%
Wednesday, September 09, 2026       15:03 WIB
  • Proyeksi Penjualan: memprediksi penjualan FY2026 turun 10% YoY akibat normalisasi persediaan Tolak Angin di distributor pada Februari-Mei 2026.
  • Kinerja Semester I: Penjualan turun 20% menjadi Rp1,47 triliun dan laba bersih merosot 44% menjadi Rp334 miliar pada Semester I 2026.
  • Target Laba: mengupayakan laba bersih FY2026 tidak lebih rendah dari tahun lalu melalui efisiensi dan peluncuran produk baru pada Q4 2026.

Ipotnews - PT Industri Jamu dan Farmasi Sido Muncul Tbk () memprediksi penjualan perseroan untuk full year 2026 akan turun 10% dibandingkan tahun lalu.
Dalam Public Exspose Live BEI 2026 yang berlangsung secara virtual, Rabu (9/9), Direktur dan Chief Financial Officer (CFO) sekaligus Sekretaris Perusahaan , Budiyanto menegaskan proyeksi penurunan tersebut bukan karena penurunan tingkat penjualan karena pelemahan daya beli masyarakat.
"Penurunan tersebut terutama dipengaruhi normalisasi persediaan produk Tolak Angin Group di tingkat distributor selama Februari hingga Mei 2026" kata Budiyanto.
Budiyanto mengakui penjualan tercatat sebesar Rp1,47 triliun pada Semester I 2026, turun 20% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. juga membukukan laba bersih Rp334 miliar pada Semester I 2026, atau turun 44% secara tahunan. Dengan demikian, marjin laba bersih perseroan berada di level 23%, dibandingkan 33% pada tahun sebelumnya.
Perseroan menyebut program normalisasi persediaan distributor tersebut telah selesai pada akhir Mei 2026. menegaskan penurunan kinerja pada semester pertama terutama mencerminkan proses normalisasi persediaan, bukan perubahan struktural terhadap kekuatan merek.
"Jadi kami sengaja mengurangi penjualan kepada para distributor karena telah terjadi kelebihan pasokan yang tidak sehat. Itu diperkirakan berdampak pada pencapaian penjualan secara keseluruhan tahun ini," ujar Budiyanto.
Di tengah proses tersebut, produk Tolak Angin tetap mempertahankan pangsa pasar sebesar 71% serta mencatat keunggulan yang lebar dibandingkan pesaing terdekat.
Dari sisi pengembangan produk, inovasi tetap menjadi salah satu motor pertumbuhan . Produk C+Collagen dan kategori Ready-to-Drink berkembang menjadi sumber pertumbuhan baru seiring penerimaan konsumen yang kuat.
Perseroan juga meluncurkan varian baru Alang Sari Cooling Water yang dinilai semakin memperkuat segmen Makanan dan Minuman sekaligus meningkatkan relevansi di kalangan konsumen muda.
Sementara itu, ekspansi internasional terus menjadi salah satu pilar pertumbuhan jangka panjang . Penjualan ekspor inti di luar minyak atsiri meningkat 28% secara tahunan.
Kontribusi penjualan internasional juga meningkat menjadi sekitar 13% dari total penjualan, dibandingkan 10% pada tahun sebelumnya. Produk-produk saat ini telah menjangkau 34 negara, dengan pertumbuhan yang terus didukung pasar utama seperti Malaysia, Filipina, dan Nigeria.
Dari sisi keuangan, posisi kas perseroan tetap kuat. Per 30 Juni 2026, memiliki kas sebesar Rp476 miliar, sedikit meningkat dibandingkan Rp463 miliar pada akhir 2025.
Posisi kas tersebut tetap terjaga meskipun perseroan telah mengembalikan Rp1,41 triliun kepada pemegang saham melalui pembagian dividen dan pembelian kembali saham. juga mempertahankan neraca tanpa utang.
menilai perilaku konsumen yang semakin selektif dan kondisi cuaca yang memberikan dampak beragam menjadi tantangan ke depan. Namun, perseroan tetap mempertahankan keyakinan terhadap prospek jangka panjang, yang ditopang oleh distribusi berbasis permintaan, inovasi, ekspansi internasional, dan disiplin biaya.
"Terkait proyeksi perolehan laba bersih sepanjang tahun ini, kami upayakan tidak lebih rendah dari sepanjang tahun lalu. Salah satu upaya yang kami usahakan adalah melakukan berbagai efisiensi. Kami juga akan meluncurkan produk baru pada Q4 2026," tutur Budiyanto.(Adhitya/AI)

Sumber : admin