Sentimen Pasar masih Dipengaruhi Perkembangan Geopolitik yang Memicu Volatilitas Tinggi - Ashmore
Sunday, March 15, 2026       14:50 WIB

Ipotnews - Bursa saham Indonesia mengakhiri sesi perdagangan pekan kedua Maret 2026, Jumat (13/3), dengan membukukan kejatuhan IHSG sebesar 3,05% ke level 7.137, atau rontok hampir 450 poin dari penutupan pekan sebelumnya di posisi 7.586. Investor asing mencatatkan arus keluar sekuritas senilai USD87 triliun selama sepekan terakhir.
 Weekly Commeentary ,   PT Ashmore Asset Management Indoesia mencatat beberapa poin penting selama sepekan terakhir, antara lain;

Apa yang terjadi dalam sepekan terakhir
Ashmore mencatat, penurunan tajam IHSG dipimpin oleh kejatuhan sektor infrastruktur dan  consumer cyclicals , masing-masing turun 8,23% dan 8,00%.
Aset berkinerja terbaik pekan ini datang dari harga minyak mentah (+8,36%) dan harga CPO (+6,47%). Sebaliknya, terjadi koreksi pada Indeks LQ45 (-6,15%) dan IHSG (-5,91%).
Di Amerika Serikat, Ashmore mencermati, inflasi utama ( headline ) dan inti tercatat sesuai ekspektasi dan tidak berubah dibanding bulan sebelumnya. Inflasi  headline  berada pada level terendah sejak Mei 2025, sementara inflasi inti menjadi yang terendah sejak Maret 2021. "Sementara itu, neraca perdagangan Januari lebih baik dari perkiraan dengan defisit yang lebih sempit, didorong oleh kenaikan ekspor dan penurunan impor," tulis Ashmore.
Di Eropa, Jerman mencatat surplus perdagangan lebih kuat dari perkiraan dan menjadi yang terbesar sejak Agustus 2024. Hal ini terjadi meskipun ekspor menurun, namun impor turun lebih dalam. Di sisi lain, harga grosir naik lebih tinggi dari perkiraan dan mempertahankan laju yang sama seperti bulan sebelumnya, menandai kenaikan harga selama15 bulan berturut-turut.
Di Inggris, pertumbuhan PDB bulanan justru stagnan di luar ekspektasi, terutama akibat penurunan aktivitas di sektor layanan administrasi dan pendukung.
Sementara di Asia, Jepang mencatat pertumbuhan PDB kuartal IV 2025 yang lebih kuat dari perkiraan dan pulih dari kontraksi pada kuartal sebelumnya. Pemulihan terutama didorong oleh permintaan domestik yang lebih kuat. Namun, belanja rumah tangga pada Januari justru menurun, berlawanan dengan ekspektasi kenaikan, akibat turunnya pengeluaran untuk perumahan dan pendidikan.
Di China, inflasi tahunan Februari tercatat lebih tinggi dari perkiraan dan mencapai level tertinggi sejak Januari 2023, seiring peningkatan konsumsi selama musim Tahun Baru Imlek. Selain itu, neraca perdagangan juga melampaui ekspektasi dengan surplus yang lebih besar, didorong lonjakan ekspor meskipun impor juga meningkat.
Sementara itu di Indonesia, indeks kepercayaan konsumen tercatat melambat dibandingkan bulan sebelumnya. Terjadi penunurunan pada ekspektasi terhadap kondisi ekonomi, pendapatan, dan ketersediaan lapangan kerja. "Namun, penjualan ritel tahunan pada Januari tumbuh lebih tinggi dari perkiraan."
Perang Iran yang berkepanjangan picu volatilitas pasar dan lonjakan harga energi
Ashmore menyoroti, pekan ini pasar global kembali dilanda volatilitas seiring berlanjutnya konflik di Timur Tengah yang memicu fluktuasi tajam harga komoditas, terutama minyak mentah. Harga minyak WTI sempat melonjak pada awal pekan setelah gangguan di Selat Hormuz menghambat lalu lintas kapal dan meningkatkan premi risiko perang.
"Serangkaian serangan terhadap kapal dan kilang minyak di kawasan tersebut turut memperburuk situasi sehingga memicu guncangan pasokan yang sempat mendorong harga hingga USD119 per barel," ungkap Ashmore.
Namun, harga kemudian terkoreksi hingga sekitar USD76 per barel setelah pembuat kebijakan di AS memberi sinyal langkah stabilisasi untuk meredakan kelangkaan pasokan jangka pendek. "Meski demikian, ketidakpastian mengenai operasional Selat Hormuz dan durasi konflik membuat harga minyak tetap bertahan di atas USD90 per barel," imbh Ashmore.
Perkembangan utama konflik Iran pekan ini adalah pengangkatanMojtaba Khameneisebagai pemimpin tertinggi baru Iran setelah serangan yang menewaskan ayahnya pada pekan sebelumnya. Langkah ini belum menunjukkan tanda-tanda de-eskalasi dan justru memicu kekhawatiran gangguan berlanjut di Selat Hormuz, jalur penting bagi perdagangan minyak global. Kondisi tersebut membuat premi risiko energi tetap tinggi di pasar.
Ashmore berpendapat, jika dilihat secara lebih luas, konflik yang berkepanjangan berpotensi menjadi situasi " lose-lose " bagi semua pihak. Biaya operasi militer yang mencakup penggunaan rudal, kendaraan tempur, dan personel diperkirakan telah mencapai miliaran dolar sejak awal masa pemerintahan Presiden AS Donald Trump.
"Lonjakan harga energi juga meningkatkan tekanan inflasi global yang berpotensi memengaruhi kebijakan moneter Federal Reserve, sekaligus tingkat dukungan politik bagi pemerintahan AS menjelang pemilu paruh waktu," sebut Ashmore.
Dari sisi Iran, Ashmore menilai penutupan Selat Hormuz dalam waktu lama juga berisiko merugikan perekonomian domestik yang sangat bergantung pada jalur perdagangan tersebut. Investor memperkirakan batas toleransi sekitar 25 hari, sebelum Iran kemungkinan harus menghentikan produksi minyak karena keterbatasan kapasitas penyimpanan. "Secara global, kenaikan harga energi secara langsung mendorong inflasi dan menekan minat investor terhadap aset berisiko."
Di dalam negeri, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) secara resmi menunjuk Frederica Widyasari Dewi sebagai ketua baru. Penunjukan ini dinilai positif karena memastikan kesinambungan kepemimpinan serta melanjutkan upaya reformasi pasar modal untuk menjawab kekhawatiran investor global. Otoritas juga dijadwalkan merilis daftar konsentrasi pemegang sahambulan ini sebagai langkah peningkatan transparansi di pasar modal.
"Ke depan, sentimen pasar diperkirakan masih akan dipengaruhi oleh perkembangan geopolitik yang memicu volatilitas tinggi. Investor disarankan tetap menempatkan portofolio padaaset defensif dengan likuiditas kuat, sembari memanfaatkan strategi manajemen aktif untuk mengurangi risiko dan menangkap peluang di sektor yang diuntungkan seperti energi dan komoditas," papar Ashmore.
Dalam sepekan ke depan, Ashmore memperkirakan, perhatian pasar akan tertuju pada rapat Bank Indonesia pada 17 Maret, di mana pasar memperkirakan suku bunga akan kembali dipertahankan di tengah volatilitas pasar dan pelemahan mata uang.
"Selain itu, Federal Reserve juga akan menggelar pertemuan pada18 Maret, dengan ekspektasi bahwa bank sentral AS belum akan memangkas suku bunga karena meningkatnya risiko inflasi." (Ashmore)


Sumber : Admin