- Bursa Eropa turun akibat serangan di Iran yang picu lonjakan harga minyak dan ketegangan geopolitik.
- Indeks utama melemah, mencerminkan sentimen pasar yang kembali rapuh.
- Investor menunggu arah kebijakan suku bunga di tengah ketidakpastian global.
Ipotnews - Bursa ekuitas Eropa menghentikan reli, Rabu, setelah serangan terhadap ladang gas Pars Iran memicu lonjakan harga minyak dan kembali menimbulkan kekhawatiran eskalasi konflik di Timur Tengah. Peristiwa ini mematahkan ketenangan pasar yang sempat terbentuk sejak awal pekan.
Indeks pan-Eropa STOXX 600 ditutup melemah 0,75 persen atau 4,52 poin menjadi 597,93, setelah sebelumnya sempat menguat hingga 0,67 di awal sesi, sekaligus mengakhiri tren kenaikan selama dua hari berturut-turut, demikian laporan Reuters dan CNBC , di Bengaluru, Rabu (18/3) atau Kamis (19/3) dini hari WIB.
Bursa regional utama juga berguguran. Indeks DAX menyusut 0,96 persen atau 228,67 poin jadi 23.502,25, FTSE 100 Inggris turun 0,94 persen atau 98,31 poin ke posisi 10.305,29 dan CAC Prancis berkurang 0,06 persen atau 4,61 poin menjadi 7.969,88.
Serangan terhadap fasilitas Pars menjadi laporan pertama mengenai gempuran langsung terhadap infrastruktur energi Iran di kawasan Teluk sejak pecahnya perang antara Amerika Serikat dan Israel. Insiden tersebut mendorong Teheran mengeluarkan peringatan keras kepada negara-negara tetangganya bahwa instalasi energi mereka dapat menjadi target "dalam beberapa jam ke depan".
Michael Brown, analis Pepperstone, mengatakan bahwa sebelumnya infrastruktur energi cenderung tidak tersentuh dalam konflik. Namun, perkembangan terbaru ini menghidupkan kembali risiko yang selama ini coba diabaikan oleh pasar.
Menurutnya, pasar masih menunjukkan bias optimistis dengan harapan adanya perubahan arah kebijakan dari Presiden AS Donald Trump. Namun, peristiwa terbaru itu menjadi pengingat bahwa skenario tersebut tidak bisa dianggap pasti.
Pergerakan pasar menunjukkan betapa sensitifnya sentimen investor terhadap perkembangan di Timur Tengah. Hal ini sekaligus meruntuhkan harapan bahwa pasar saham telah menemukan titik stabil, terutama di kawasan Eropa yang sangat bergantung pada impor energi.
Sejalan dengan meningkatnya ketegangan, harga minyak mentah global melonjak. Brent melambung 4,75 persen ke level USD108,33 per barel, sementara minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) Amerika Serikat menguat 1,89 persen jadi USD98,03 per barel.
Selain faktor geopolitik, perhatian investor juga tertuju pada arah kebijakan bank sentral utama dunia. Chairman Federal Reserve Jerome Powell dijadwalkan memberikan pernyataan pada Rabu, sementara Presiden Bank Sentral Eropa Christine Lagarde akan berbicara pekan ini.
Kedua pejabat tersebut diperkirakan menyampaikan pandangan terkait arah suku bunga, yang dapat memberikan sinyal baru bagi investor dalam menentukan strategi investasi.
Namun, Brown menilai keduanya kemungkinan akan berhati-hati dan tidak memberikan komitmen yang terlalu spesifik terkait arah kebijakan ke depan.
Dari sisi sektoral, saham barang kebutuhan pokok mencatat penurunan terbesar dengan koreksi 2,72 persen, diikuti sektor kesehatan yang melorot sekitar 2 persen. Sebaliknya, sektor perbankan relatif tahan terhadap tekanan pasar dan justru melonjak 1,22 persen, memperpanjang tren penguatan selama tiga hari berturut-turut.
Pada perdagangan saham individual, perusahaan perangkat komputer Logitech anjlok 6,07 persen setelah UBS menurunkan rekomendasi sahamnya dari "beli" menjadi "netral" sekaligus memangkas target harga.
Sementara itu, saham Diploma melejit 17,79 persen hingga mencetak rekor tertinggi baru setelah perusahaan tersebut menaikkan proyeksi kinerja untuk tahun fiskal 2026. (Reuters/CNBC/AI)
Sumber : Admin