Sinyal Inflasi Bikin Dolar Perkasa, Tapi The Fed Masih Menahan Diri
Saturday, February 28, 2026       07:00 WIB
  • Dolar AS menuju kenaikan bulanan pertama sejak Oktober, didorong data PPI Januari yang lebih tinggi dari perkiraan.
  • Pasar memperkirakan The Fed menahan suku bunga hingga Juni, namun tetap mengantisipasi pemangkasan 62 bps tahun ini.
  • Ketegangan AS-Iran dan pembatalan tarif Trump oleh Mahkamah Agung AS turut memengaruhi pergerakan pasar.

Ipotnews - Dolar Amerika Serikat menuju kenaikan bulanan pertamanya sejak Oktober pada Jumat (27/2). Meskipun reli sebelumnya setelah data harga produsen Januari yang lebih tinggi dari perkiraan memudar karena pelaku pasar merapikan posisi menjelang akhir bulan dan akhir pekan.
Mata uang AS terdongkrak setelah data menunjukkan Indeks Harga Produsen (PPI) untuk permintaan akhir naik 0,5% bulan lalu. Ekonom yang disurvei Reuters memperkirakan PPI naik 0,3% setelah sebelumnya dilaporkan meningkat 0,5% pada Desember.
"Ada ketidaknyamanan yang cukup dalam di pasar terkait inflasi dan pertumbuhan sejauh 2026," kata Adam Button, kepala analis mata uang di investingLive. "Ada ekspektasi bahwa inflasi akan melandai, tetapi itu belum terlihat dalam data."
Namun di balik angka utama tersebut, terdapat tanda-tanda perbaikan, kata Chris Low, kepala ekonom di FHN Financial.
"Meskipun kenaikan PPI utama cukup mengkhawatirkan, tekanan berasal dari jasa perdagangan, kategori yang menurut BLS dihitung dengan cara yang tidak sepenuhnya menangkap perubahan harga secara real time," kata Low dalam laporannya. "Selain itu, ada bukti moderasi harga."
Indeks dolar, yang mengukur greenback terhadap sekeranjang mata uang termasuk yen dan euro, turun 0,12% menjadi 97,61, sementara euro naik 0,18% menjadi US$1,1818. Indeks dolar menuju kenaikan bulanan 0,47%, yang akan menjadi kenaikan pertama sejak Oktober. Euro berada di jalur penurunan 0,25%, yang akan menjadi bulan negatif pertamanya sejak Oktober.
Terhadap yen Jepang, dolar melemah 0,1% menjadi 155,95. Namun mata uang AS tersebut tetap menuju kenaikan 0,78% terhadap yen bulan ini.
Bank sentral AS, Federal Reserve, diperkirakan akan mempertahankan suku bunga setidaknya hingga Juni karena kekhawatiran inflasi yang masih tinggi. Namun pelaku pasar memperkirakan pemangkasan suku bunga sebesar 62 basis poin hingga akhir tahun, didorong kekhawatiran melemahnya pasar tenaga kerja.
Dolar juga sempat terdorong oleh permintaan aset aman akibat kekhawatiran konflik antara AS dan Iran.
Kedua negara mencatat kemajuan dalam pembicaraan mengenai program nuklir Teheran pada Kamis, menurut mediator Oman, tetapi negosiasi berjam-jam berakhir tanpa terobosan yang dapat mencegah potensi serangan AS di tengah pengerahan militer besar-besaran.
Harga minyak naik sekitar 2% pada Jumat karena pelaku pasar tetap waspada terhadap potensi gangguan pasokan jika hubungan memburuk.
Pergerakan pasar secara keseluruhan pekan ini relatif terbatas karena pelaku pasar menilai ketidakpastian geopolitik serta dampak tarif baru, setelah Supreme Court of the United States pekan lalu membatalkan tarif darurat yang diberlakukan Presiden AS Donald Trump.
"Dolar diperdagangkan dalam pola bertahan. Terasa seperti menunggu katalis nyata berikutnya," kata Fiona Cincotta, analis pasar di City Index.
Yuan menghentikan reli 10 hari setelah bank sentral China mengambil langkah memperlambat laju penguatan. Bank tersebut menyatakan akan menghapus cadangan risiko valuta asing untuk sejumlah kontrak forward, yang dipandang sebagai cara untuk mendorong pembelian dolar.
Sterling melemah 0,02% menjadi US$1,3478 dan diperkirakan memutus tren kenaikan tiga bulan berturut-turut dengan penurunan 1,53% pada Februari.
Pemilu lokal di Manchester pada Kamis menghasilkan kemenangan besar bagi Partai Hijau dan menjadi pukulan bagi Perdana Menteri Keir Starmer dari Partai Buruh, yang popularitasnya merosot tajam dalam setahun terakhir.
Sterling sensitif terhadap politik domestik, namun dengan berbagai agenda risiko ke depan seperti pembaruan anggaran pekan depan dari menteri keuangan Rachel Reeves, volatilitas tetap terkendali. Di pasar kripto, bitcoin turun 3,08% menjadi US$65.399.
(reuters)

Sumber : admin