Tekanan Yield Obligasi Amerika Mereda, Wall Street Berakhir di Zona Hijau
Friday, October 02, 2026       04:29 WIB
  • Dow naik 0,04%, S&P 500 +0,19%, dan Nasdaq +0,04%.
  • Yield Treasury berbalik turun setelah pernyataan pejabat Fed.
  • Peluang kenaikan suku bunga Fed Oktober turun menjadi 28,2%.

Ipotnews - Bursa ekuitas Wall Street bangkit dari tekanan awal perdagangan dan berakhir menguat tipis pada Kamis. Indeks S&P 500 berhasil rebound dari level terendah dua pekan setelah aksi jual obligasi global berbalik arah, menyusul lonjakan yield US Treasury ke level tertinggi dalam beberapa dekade.
Dow Jones Industrial Average ditutup naik 20,69 poin atau 0,04% menjadi 50.926,56, indeks berbasis luas S&P 500 bertambah 14,91 poin atau 0,19% jadi 7.666,45, sedangkan Nasdaq Composite Index menguat 10,53 poin atau 0,04% ke posisi 26.871,60, demikian laporan  Reuters  dan  Investing,  di New York, Kamis (1/10) atau Jumat (2/10) pagi WIB.
Saham sempat terpukul pada awal perdagangan setelah serangkaian data ekonomi menunjukkan perekonomian Amerika Serikat tetap solid, sementara tekanan harga masih bertahan. Kondisi tersebut memicu kekhawatiran bahwa inflasi pada akhirnya dapat mendorong Federal Reserve mengambil kebijakan kenaikan suku bunga yang lebih agresif.
Departemen Tenaga Kerja AS melaporkan klaim awal tunjangan pengangguran mingguan turun menjadi 197.000, lebih rendah dari perkiraan ekonom yang disurvei  Reuters  sebanyak 200.000. Data tersebut menjadi laporan terbaru dalam rangkaian indikator pekan ini yang memperlihatkan pasar tenaga kerja masih berada dalam kondisi kuat menjelang laporan ketenagakerjaan pemerintah yang akan dirilis Jumat.
Imbal hasil US Treasury sempat melanjutkan kenaikan. Yield Treasury 10 tahun, yang menjadi acuan, menyentuh level tertinggi dalam 24 tahun setelah September ditutup dengan kenaikan kuartalan terbesar sejak 1994.
Tekanan terhadap saham juga meningkat setelah Institute for Supply Management (ISM) melaporkan indeks aktivitas manufaktur turun tipis menjadi 54,5 pada September dari 54,6 pada Agustus. Namun, kenaikan harga input dalam survei tersebut kembali memunculkan kekhawatiran terhadap inflasi.
Yield Berbalik Turun
Arah pasar obligasi kemudian berubah setelah investor mulai membeli US Treasury sehingga yield berbalik turun. Pelemahan semakin dalam setelah Vice Chair Fed Philip Jefferson mengisyaratkan bank sentral dapat bersikap lebih sabar sebelum kembali mendongkrak suku bunga setelah kenaikan 25 basis poin pada September.
Yield US Treasury dua tahun, yang biasanya sangat sensitif terhadap ekspektasi kebijakan the Fed, menyusut sekitar 10 basis poin dan berada di jalur mencatat penurunan harian terbesar sejak Agustus 2025.
"Meski valuasi telah turun, pasar masih belum murah, sehingga saya tidak bearish terhadap pasar saham. Kita masih bisa bergerak maju, tetapi saya memperkirakan volatilitas yang lebih tinggi baik di saham maupun obligasi," kata Scott Welch, Chief Investment Officer Certuity di Potomac, Maryland.
Menurut Welch, pelaku pasar sedang menyesuaikan diri dengan kondisi baru. Dia menilai situasi pasar saat ini tidak secara khusus mengkhawatirkan, tetapi berbeda dari kondisi yang selama beberapa tahun terakhir menjadi kebiasaan investor.
Di pasar komoditas, harga minyak kembali memicu kekhawatiran inflasi. Harga Brent ditutup melambung lebih dari USD4 per barel setelah China menghentikan ekspor bahan bakar, yang berpotensi semakin memperketat pasokan global.
Kenaikan harga minyak turut mengangkat sektor energi S&P 500 sebesar 1,9%, menjadikannya sektor dengan kinerja terbaik di antara 11 sektor utama indeks tersebut.
Sektor teknologi juga menguat 0,8%, sementara saham perusahaan perangkat lunak melompat sekitar 1% setelah Accenture menyampaikan kinerja dan proyeksi yang positif. Saham perusahaan konsultan teknologi tersebut melonjak dan ditutup pada level tertinggi sejak 6 Maret setelah memperkirakan pertumbuhan pendapatan tahunan di atas ekspektasi.
Micron Technology ditutup melesat 3% setelah memberikan proyeksi pendapatan yang lebih baik dari perkiraan. Komitmen pelanggan senilai USD32 miliar berdasarkan perjanjian pasokan turut memperkuat keyakinan investor terhadap prospek perdagangan saham yang terkait dengan kecerdasan buatan (AI).
Data inflasi yang lebih rendah dari perkiraan pada Rabu juga semakin mengurangi ekspektasi kenaikan suku bunga the Fed pada pertemuan Oktober. Berdasarkan FedWatch Tool CME Group, pasar kini memperkirakan peluang kenaikan suku bunga minimal 25 basis poin hanya 28,2%, turun dari 68,6% sepekan sebelumnya.
Setelah pernyataan Jefferson, Presiden Federal Reserve Bank of Minneapolis Neel Kashkari mengatakan kenaikan suku bunga tambahan kemungkinan diperlukan untuk menahan perekonomian memasuki 2027. Namun, dia belum memastikan apakah kenaikan berikutnya perlu dilakukan pada bulan ini.
Di New York Stock Exchange ( NYSE ), jumlah saham yang menguat mengungguli saham yang melemah dengan rasio 1,234 berbanding 1. Di Nasdaq, rasio saham yang naik terhadap yang turun mencapai 1,04 berbanding 1.
S&P 500 mencatat empat saham mencapai level tertinggi baru dalam 52 pekan dan 41 saham yang mencetak level terendah baru. Sementara itu, Nasdaq Composite membukukan 41 saham pada level tertinggi baru dan 287 saham pada level terendah baru.
Volume perdagangan di bursa Wall Street mencapai 17,25 miliar saham, sedikit di atas rata-rata 17,19 miliar saham selama 20 sesi terakhir. (Reuters/Investing/AI)
Saham berkinerja terbaik Dow
-Boeing Co (3,35%)
-Salesforce Inc (3,10%)
-International Business Machines (2,59%)
Saham berkinerja terburuk
-Walt Disney Company (-3,40%)
-Amgen Inc (-3,38%)
-Johnson & Johnson (-2,30%)
Saham berkinerja terbaik S&P 500
-Accenture plc (15,78%)
-Synopsys Inc (12,79%)
-Fair Isaac Corporation (11,69%)
Saham berkinerja terburuk
-Corteva Inc (-83,81%)
-Paramount Skydance Corp (-9,58%)
-McCormick & Company Incorporated (-4,87%)
Saham berkinerja terbaik Nasdaq
-Sono Group NV (97,32%)
-Nexalin Technology Inc (79,33%)
-Veea Inc (59,91%)
Saham berkinerja terburuk
-Wellchange Holdings Co Ltd (-79,36%)
-Columbus Acquisition Corp (-60,82%)
-Steakholder Foods Ltd ADR (-51,08%)

Sumber : Admin