Tunda Pembayaran Bagi Hasil, Pefindo Pangkas Rating Sukuk WIKA
Tuesday, September 22, 2026       06:50 WIB
  • Pefindo turunkan peringkat sukuk ke "idD (sy)".
  • rugi Rp1,48 triliun, ekuitas negatif Rp5,08 triliun.
  • Utang mencapai Rp32,74 triliun.

Ipotnews - PT Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo) menurunkan peringkat Sukuk Mudharabah Berkelanjutan I Tahap I PT Wijaya Karya (Persero) Tbk () menjadi "idD (sy)" dari sebelumnya "idCCC (sy)". Penurunan peringkat tersebut menyusul penundaan pembayaran bagi hasil sukuk yang jatuh tempo pada 18 September 2026.
Dalam Ikhtisar Peringkat yang diterbitkan pada 21 September 2026, Pefindo menyatakan tindakan pemeringkatan tersebut merupakan tindak lanjut atas keterlambatan dalam memenuhi kewajiban pembayaran bagi hasil sukuk yang telah jatuh tempo.
Sejalan dengan penurunan tersebut, Pefindo mempertahankan peringkat korporasi di level "idSD" (Selective Default). Peringkat Obligasi Berkelanjutan II juga tetap berada pada level "idD", sedangkan Sukuk Mudharabah Berkelanjutan II dan III dipertahankan pada "idD (sy)".
Adapun sejumlah obligasi dan sukuk yang masih beredar tetap memperoleh peringkat "idCCC".
Analis Pefindo Agung Iskandar mengatakan pihaknya dapat meninjau kembali peringkat apabila perseroan mampu menyelesaikan seluruh kewajiban pembayaran pokok, kupon, dan bagi hasil atas obligasi maupun sukuk yang telah jatuh tempo.
"Kami dapat meninjau kembali peringkat jika mampu menyelesaikan kewajiban pembayaran pokok, kupon dan bagi hasil atas obligasi dan sukuk yang telah jatuh tempo," kata Agung dalam keterangannya, Senin (21/9).
Pefindo menilai profil keuangan dan likuiditas masih lemah. Kondisi tersebut juga dibayangi risiko yang berasal dari ekspansi perusahaan pada periode sebelumnya.
Hingga Juni 2026, masih membukukan rugi bersih sebesar Rp1,48 triliun. Meski demikian, kerugian tersebut menyusut signifikan dibandingkan rugi bersih Rp9,71 triliun pada akhir 2025.
Di sisi lain, kondisi permodalan perseroan masih menjadi perhatian. Ekuitas per Juni 2026 tercatat negatif Rp5,08 triliun, yang mencerminkan tekanan keuangan dan tingginya beban yang masih harus ditanggung perusahaan.
Dari sisi operasional, membukukan pendapatan Rp5,89 triliun sepanjang semester I-2026. Perseroan masih mampu mencatat EBITDA positif Rp95,7 miliar, tetapi marginnya sangat tipis, yakni hanya 1,6%.
Sementara itu, total utang yang telah disesuaikan (adjusted debt) masih mencapai Rp32,74 triliun. Besarnya utang tersebut menjadi semakin signifikan karena perseroan pada saat yang sama masih memiliki posisi ekuitas negatif.
Penundaan pembayaran bagi hasil sukuk tersebut menjadi perkembangan terbaru dalam tekanan keuangan yang dihadapi , sekaligus menjadi salah satu faktor yang memengaruhi penilaian Pefindo terhadap kemampuan perseroan memenuhi kewajiban finansialnya. (Marjudin/AI)

Sumber : Admin