Volatilitas Masih Tinggi, Sentimen Berita Menjadi Penggerak Minat pada Aset Berisiko - Ashmore
Sunday, May 17, 2026       17:47 WIB
  • Ashmore menilai pasar masih dibayangi inflasi tinggi AS, konflik AS-Iran, dan berkurangnya ekspektasi pemangkasan suku bunga The Fed.
  • MSCI menghapus enam saham Indonesia dari indeks Standard Cap dan 13 saham dari Small Cap, namun ancaman penurunan status ke Frontier Market tidak terjadi.
  • Rupiah melemah di atas Rp17.500 per dolar AS, sementara investor disarankan menjaga likuiditas dan diversifikasi pada saham berkualitas serta sukuk.

Ipotnews - Bursa saham Indonesia mengakhiri sesi perdagangan pekan ini, Rabu (13/5), dengan mencatatkan kejatuhan 1,98% IHSG ke level 6.723, yang juga turun tajam dibanding akhir sesi perdagangan pekan lalu di posisi 6.969. Investor asing mencatatkan aksi jual bersih ekuitas sebesar USD96 juta sepanjang pekan.
Weekly Commentary PT Ashmore Asset Management Indonesia mencatat beberapa data ekonomi penting yang dirilis pekan ii, antara lain;

Apa yang terjadi dalam sepekan terakhir?
Ashmore mencatat penurunan tajam IHSG pekan ini, dipimpin oleh kejatuhan sektor kesehatan dan energi yang masing-masing ambles -5,69% dan -3,59%. Sebaliknya, transportasi & logistik menjadi sektor berkinerja terbaik dengan meloncat +3,49%.
Pasar dengan kinerja terbaik pekan ini adalah minyak mentah (+5,92%) dan indeks CSI 300 (+2,60%). Sementara itu, IHSG dan indeks LQ45 terkoreksi -3,53% dan -2,85%.
Ahmore juga mencatat, pekan ini Amerika Serikat merilis data inflasi yang lebih tinggi dari perkiraan, dengan inflasi utama mencapai level tertinggi sejak Mei 2023, terutama didorong kenaikan harga energi. Selain itu, inflasi inti yang tidak memasukkan harga pangan dan energi juga naik ke level tertinggi sejak September akibat kenaikan harga jasa dan perumahan.
"Penjualan rumah bekas naik tipis namun masih di bawah ekspektasi karena suku bunga hipotek meningkat seiring kenaikan imbal hasil US Treasury," tulis Ashmore.
Di kawasan Eropa, sentimen ekonomi membaik melebihi perkiraan karena pasar masih berharap konflik Timur Tengah dapat segera mereda. Dari sisi perubahan tenaga kerja tahunan, kawasan tersebut masih mencatat pertumbuhan positif meskipun melambat.
Di Jerman, sentimen ekonomi juga membaik lebih baik dari perkiraan seiring meningkatnya optimisme terhadap konflik Iran, sementara harga grosir tahunan naik ke laju tertinggi sejak Februari 2023 terutama akibat kenaikan harga produk minyak bumi.
Di Asia, China mencatatkan kenaikan inflasi yang berlawanan dengan ekspektasi perlambatan inflasi, dengan biaya transportasi terdorong naik oleh harga energi. Harga produsen juga melonjak ke level tercepat sejak Juli 2022 dan menjadi bulan kedua berturut-turut mengalami kenaikan.
Di Jepang, surplus transaksi berjalan meningkat ke level tertinggi karena pertumbuhan ekspor lebih tinggi dibanding impor. Namun, belanja rumah tangga menyusut melebihi perkiraan dan menandai empat bulan berturut-turut mengalami penurunan di tengah tekanan inflasi.
"Sementara itu di Indonesia, indeks keyakinan konsumen naik tipis didukung persepsi yang sedikit lebih baik terhadap kondisi ekonomi secara umum. Namun, data penjualan ritel melemah ke level terendah sejak Juni 2025 akibat tekanan biaya," imbuh Ashmore .
Tekanan harga kembali menguat
Ashmore menggarisbawahi, pekan ini merupakan pekan perdagangan singkat bagi Indonesia, namun pasar tetap diwarnai sejumlah peristiwa penting seperti rilis data inflasi AS, perubahan ekspektasi pemangkasan suku bunga, serta  rebalancing  resmi indeks MSCI Indonesia.
MSCI menghapus enam saham Indonesia dari indeks Standard Cap dan 13 saham dari indeks Small Cap. Satu saham lainnya direklasifikasi menjadi Small Cap.
Sementara itu, pemberitaan global masih berfokus pada perkembangan di Selat Hormuz dan sikap para pemimpin dunia terhadap perang AS-Iran, kondisi dasarnya belum berubah. "Gencatan senjata memang masih bertahan, namun pasar menilai situasi saat ini sangat rapuh sehingga memicu ekspektasi inflasi lebih tinggi dan konflik yang lebih panjang. Kondisi ini mendorong kenaikan premi risiko jangka panjang (term premium)," papar Ashmore.
Ashmore juga mencermati, topik utama di AS adalah data inflasi tahunan utama dan inti yang lebih tinggi dari perkiraan. Kenaikan harga energi akibat konflik berkepanjangan terus memberi tekanan pada inflasi. Bahkan inflasi inti yang tidak memasukkan harga pangan dan energi juga meningkat karena kenaikan biaya jasa dan perumahan.
Selain itu, Senat AS telah menunjuk Kevin Warsh sebagai Ketua The Fed berikutnya sebelum masa jabatan Jerome Powell berakhir. Ketua The Fed yang baru akan menghadapi ujian penting pertama pada rapat FOMC Juni mendatang. "Pasar kini semakin mengurangi ekspektasi pemangkasan suku bunga tahun ini," sebut Ashmore.
Bahkan, menurut Ashmore, data inflasi terbaru membuat pasar mulai memperhitungkan peluang kenaikan suku bunga, dengan probabilitas sekitar sepertiga bahwa suku bunga akan naik hingga akhir tahun berdasarkan data CME FedWatch.
Pasar juga mencermati sikap Ketua The Fed yang baru terkait independensi bank sentral, risiko inflasi, dan arah kebijakan suku bunga.
Di Indonesia, Ashmore mencatat, rupiah terus melemah hingga menembus level 17.500 per dolar AS di tengah ketidakpastian global dan faktor musiman seperti pembagian dividen serta pembayaran utang luar negeri. Pemerintah masih berupaya menstabilkan rupiah melalui intervensi di pasar.
Di pasar saham, MSCI telah mengumumkan hasil  rebalancing  indeks Indonesia yang efektif berlaku pada akhir Mei. MSCI juga akan mengumpulkan masukan terkait data  free float  terbaru dan tingkat kelayakan investasi ( investability ). "Pengumuman berikutnya yang akan menjadi perhatian pasar adalah review Agustus yang akan efektif pada September," ungkap Ashmore.
Sisi positifnya, Ashmore melanjutkan, ancaman penurunan status Indonesia menjadi Frontier Market tidak terjadi. Indeks MSCI Indonesia juga masih mempertahankan sejumlah saham berkualitas yang tetap berada dalam cakupan investasi dan berpotensi menarik arus dana masuk setelah rebalancing. "Selain itu, pasar dinilai telah mengantisipasi sebagian besar keputusan MSCI sehingga koreksi pasar relatif terbatas," Ashmore menambahkan.
Dalam kondisi pasar saat ini, Ashmore memperkirakan, volatilitas masih tinggi dengan sentimen berita menjadi penggerak utama minat investor pada aset berisiko.  Rebalancing   MSCI dinilai dapat memberikan keuntungan bagi manajer investasi aktif yang fokus pada saham-saham berkualitas dengan fundamental kuat, karena valuasi pasar masih menarik.
"Investor juga direkomendasikan untuk tetap menjaga likuiditas yang kuat dan melakukan diversifikasi investasi, termasuk melalui strategi saham emerging market syariah berbasis dolar AS dan instrumen sukuk." (Ashmore)


Sumber : Admin