AI News -
meningkatkan kepemilikan saham PT Laxo Global Akses menjadi 90% melalui penambahan modal, sementara menyiapkan dana hingga Rp500 miliar untuk program buyback saham selama tiga bulan, keduanya diumumkan pada perdagangan Kamis 3 September 2026.Poin Penting
- Laxo mencatat pendapatan Rp22,83 miliar pada semester I-2026, melayani lebih dari 100 perusahaan dan sekitar 10.000 pelanggan ritel di 30 kota.
- menargetkan pembelian kembali hingga 797,5 juta lembar saham (sekitar 5 % modal disetor) antara 4 September-4 Desember 2026.
- Investor asing mencatat net buy bersih Rp1,07 triliun di pasar reguler pada 3 September 2026, dengan total nilai transaksi asing mencapai Rp11,366 triliun.
- Empat bank jumbo menyerap sekitar Rp801 miliar, setara 75 % dari net buy asing.
- IHSG berakhir naik 1,09 % ke level 6.667,89 pada penutupan perdagangan Kamis 3 September 2026.
Mengapa Memperbesar Kepemilikan Laxo Menjadi 90%?
Menurut laporan Detik, menaikkan kepemilikan Laxo secara signifikan dengan menargetkan 90 % saham setelah menambah modal, upaya yang bertujuan mengintegrasikan layanan internet ke dalam proyek-proyek properti yang sedang dikembangkan. Langkah itu memungkinkan bundling layanan "smart connectivity" antara akses internet dan properti, memperkuat aliran pendapatan berulang. Sebelumnya hanya menguasai 8,5 % saham Laxo; kini Laxo telah melayani lebih dari 100 perusahaan, instansi pemerintah, serta sekitar 10.000 pelanggan ritel di 30 kota, dengan pendapatan semester I-2026 sebesar Rp22,83 miliar. Kepemilikan mayoritas diperkirakan menambah nilai tambah proyek properti dan memberi dasar yang lebih kuat bagi pertumbuhan jangka panjang. Pada saat yang bersamaan, IHSG juga menguat, menambah optimism investor terhadap langkah strategis tersebut.
Bagaimana Rencana Buyback Saham Mempengaruhi Struktur Modal dan Nilai Perusahaan?
Data Detik menyebutkan bahwa menyiapkan dana maksimal Rp500 miliar untuk membeli kembali sahamnya, dengan batas maksimal 797,5 juta lembar atau sekitar 5 % dari modal disetor, yang akan dilaksanakan antara 4 September dan 4 Desember 2026. Program ini didanai dari kas dan setara kas senilai Rp1,31 triliun pada semester I-2026, sehingga total pembelian masih berada di bawah batas 20 % yang diizinkan peraturan. Proforma laporan keuangan menunjukkan total aset akan turun dari Rp28,86 triliun menjadi Rp28,36 triliun, sementara ekuitas diproyeksikan berkurang menjadi Rp9,68 triliun; namun EPS diperkirakan tetap pada level Rp75,68. Pembelian kembali saham diharapkan mengurangi jumlah saham beredar tanpa menurunkan laba per saham, sehingga dapat mendukung harga saham dan memberi sinyal kepercayaan manajemen terhadap prospek perusahaan.
Apa Implikasi Net Buy Asing Terutama pada Bank Jumbo bagi Pasar Saham Indonesia?
CNBC Indonesia melaporkan bahwa investor asing mencatat net buy bersih sebesar Rp1,07 triliun pada perdagangan Kamis 3 September 2026, dengan empat bank jumbo menyerap sekitar 75 % total aliran dana tersebut. Bank Mandiri menempati posisi pertama dengan net buy Rp471,4 miliar, diikuti oleh Bank Central Asia dengan Rp207,1 miliar, Bank Negara Indonesia Rp87,4 miliar, dan Bank Rakyat Indonesia Rp35,1 miliar. Dominasi pembelian pada sektor perbankan mencerminkan persepsi stabilitas dan likuiditas tinggi, sehingga memperkuat indeks IHSG yang dipimpin oleh kenaikan saham perbankan. Selain bank, saham-saham lain seperti , , , dan juga tercatat net buy, menambah dukungan bagi sentimen bullish pasar domestik.
Bagaimana Faktor Domestik dan Internasional Mendorong Penguatan IHSG pada 3 September 2026?
Sementara itu, Detik mencatat bahwa IHSG melesat 1,09 % ke level 6.667,89, dipicu oleh kinerja kuat saham-saham unggulan seperti Astra International (+4,34 %), Bank Central Asia (+1,5 %), dan Bank Mandiri (+2,29 %). Sektor transportasi dan logistik menjadi yang paling menguat dengan kenaikan 2,45 %, sementara sektor teknologi turun paling dalam sebesar 1,62 %. Di sisi asing, aliran dana bersih sebesar Rp1,07 triliun memperkuat likuiditas pasar. Secara internasional, pasar saham Amerika Serikat juga menguat, dengan Dow Jones naik 1,18 %, S&P 500 naik 1,06 %, dan Nasdaq naik 1,40 %, serta ETF EIDO dan MSCI Indonesia masing-masing naik 1,69 % dan 1,43 %. Kombinasi faktor domestik yang solid dan sentimen positif dari pasar global menciptakan momentum bullish yang berkontribusi pada penguatan IHSG pada hari tersebut.
Sumber : AI News