- Dow turun 0,79%, S&P 500 0,71%, dan Nasdaq 1,03%.
- Minyak dan yield obligasi melonjak, menekan saham.
- Peluang kenaikan suku bunga the Fed September naik menjadi 68,2%.
Ipotnews - Bursa ekuitas Wall Street kembali melemah, Selasa, seiring aksi jual obligasi global yang semakin dalam dan lonjakan harga minyak mentah. Memudarnya harapan penyelesaian cepat konflik Amerika Serikat-Israel dengan Iran turut memperburuk sentimen investor.
Dow Jones Industrial Average ditutup melorot 418,97 poin atau 0,79% menjadi 52.766,88, indek berbasis luas S&P 500 melemah 54,67 poin atau 0,71% ke posisi 7.631,47, sedangkan Nasdaq Composite Index anjlok 271,11 poin atau 1,03% jadi 26.099,77, demikian laporan Reuters dan Investing, di New York, Selasa (1/9) atau Rabu (2/9) pagi WIB.
Ketiga indeks utama Wall Street mengawali September dengan kinerja negatif. Eskalasi konflik di Timur Tengah mendorong harga minyak lebih tinggi, sementara imbal hasil obligasi pemerintah global melonjak ke level tertinggi dalam beberapa tahun. Kondisi tersebut meningkatkan spekulasi pasar bahwa bank sentral perlu mempercepat kenaikan suku bunga untuk mengendalikan inflasi.
Imbal hasil US Treasury acuan masih bergerak naik setelah pada Senin mencapai level tertinggi dalam 19 bulan.
"Setelah komentar hawkish Kevin Warsh pada Jumat, kini terjadi serangan di Iran dan harga minyak meningkat. Ini merupakan kombinasi sempurna untuk hari dengan sentimen risk-off di pasar yang diperdagangkan mendekati rekor tertinggi," kata Ross Mayfield, analis Baird di Louisville, Kentucky.
Sentimen investor juga berpotensi terbebani faktor musiman. Menurut Fisher Investments berdasarkan data Finaeon, September merupakan satu-satunya bulan sejak 1926 yang secara historis mencatat rata-rata imbal hasil negatif.
"September secara historis merupakan bulan terburuk dan selisihnya cukup besar. Terutama pada tahun pemilu paruh waktu, periode ini biasanya menjadi titik ketika kecemasan dan ketidakpastian politik mulai membebani pasar saham," ujar Mayfield.
Amerika melancarkan serangkaian serangan udara baru terhadap target Iran di sekitar Selat Hormuz. Gempuran tersebut terjadi setelah Menteri Keuangan AS Scott Bessent mengatakan Washington kemungkinan mengumumkan sanksi baru terhadap perbankan Iran guna "mencekik secara ekonomi" kepemimpinan Teheran.
Iran merespons dengan memperingatkan akan mencegah ekspor minyak dari kawasan Teluk. Eskalasi konflik mendorong harga minyak mentah melonjak dan semakin memperkuat kekhawatiran inflasi, hanya beberapa hari setelah Chairman Federal Reserve Kevin Warsh mengatakan dirinya akan berupaya mengembalikan inflasi ke target bank sentral sebesar 2%.
Pasar keuangan kini memperkirakan peluang the Fed menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin pada akhir rapat kebijakan September mencapai 68,2%, meningkat tajam dari 39,6% sepekan sebelumnya, berdasarkan FedWatch Tool CME Group.
"Kita memiliki the Fed yang sangat, sangat hawkish dan mereka benar-benar ingin menaikkan suku bunga. Mereka ingin menunjukkan independensinya dari pemerintahan," kata Jay Hatfield, Manajer Portofolio InfraCap di New York.
Data JOLTS Departemen Tenaga Kerja Amerika menunjukkan dinamika pasar tenaga kerja mulai melambat. Sementara itu, data Purchasing Managers' Index (PMI) mengindikasikan aktivitas manufaktur kehilangan momentum dan belanja konstruksi perumahan menurun.
Rangkaian data tersebut memperlihatkan tekanan yang berasal dari harga tinggi, kendala pasokan, serta ketidakpastian akibat tarif dan konflik geopolitik.
Dari 11 sektor utama S&P 500, energi menjadi penguat terbesar seiring kenaikan harga minyak. Sebaliknya, sektor consumer discretionary mencatat penurunan persentase paling besar.
Dow Jones Transportation Average, yang kerap dipandang sebagai indikator kesehatan ekonomi, menjadi salah satu indeks dengan kinerja terburuk setelah merosot 2,5%.
Indeks semikonduktor Philadelphia SE terkoreksi 2,1%, dengan seluruh saham konstituennya berakhir di zona merah.
Di Bursa New York Stock Exchange ( NYSE ), jumlah saham yang turun mengungguli yang naik dengan rasio 2,8 banding 1. Sebanyak 143 saham mencatat level tertinggi baru, sedangkan 410 saham mencapai level terendah baru.
Di Nasdaq, 1.258 saham menguat dan 3.523 saham melemah, juga dengan rasio penurunan terhadap kenaikan sebesar 2,8 banding 1.
S&P 500 mencatat sembilan saham yang mencapai level tertinggi baru dalam 52 pekan dan 13 saham mencetak level terendah baru. Sementara Nasdaq Composite membukukan 30 saham pada level tertinggi baru dan 161 saham di level terendah baru.
Volume perdagangan di bursa Wall Street mencapai 14,38 miliar saham, di bawah rata-rata 15,35 miliar saham dalam 20 sesi terakhir. (Reuters/Investing/AI)
Saham berkinerja terbaik Dow
-Apple Inc (2,61%)
-Chevron Corp (2,38%)
-Johnson & Johnson (2,07%)
Saham berkinerja terburuk
-Sherwin-Williams Co (-2,62%)
-Home Depot Inc (-2,46%)
-Caterpillar Inc (-2,30%)
Saham berkinerja terbaik S&P 500
-Moderna Inc (9,91%)
-Edison International (8,93%)
-PG&E Corp (5,92%)
Saham berkinerja terburuk
-Axon Enterprise Inc (-8,52%)
-Cadence Design Systems Inc (-7,60%)
-CrowdStrike Holdings Inc (-6,90%)
Saham berkinerja terbaik Nasdaq
-NewGenIvf Group Ltd (195,75%)
-Sono Group NV (77,43%)
-FlyE Group Inc (61,76%)
Saham berkinerja terburuk
-Alumis Inc (-56,58%)
-Cellyan Biotechnology Co Ltd (-45,54%)
-VisionWave Holdings Inc (-26,07%)
Sumber : Admin