Wall Street Cetak Rekor, S&P 500 dan Nasdaq Tembus Level Tertinggi Sepanjang Masa
Wednesday, October 07, 2026       04:30 WIB
  • S&P 500 +0,58% dan Nasdaq +0,45% cetak rekor.
  • Yield Treasury turun, minyak stabil.
  • Peluang kenaikan bunga the Fed Oktober 19,4%.

Ipotnews - Bursa ekuitas Wall Street berakhir di zona hijau, Selasa, didukung stabilnya harga minyak mentah dan penurunan imbal hasil US Treasury. Kondisi tersebut meredakan sebagian kekhawatiran yang membayangi investor dalam beberapa pekan terakhir sekaligus mengalihkan perhatian pasar menuju musim laporan keuangan kuartal III-2026.
Penguatan yang meluas membawa indeks S&P 500 dan Nasdaq mencetak rekor penutupan tertinggi sepanjang masa, demikian laporan  Reuters  dan  Investing,  di New York, Selasa (6/10) atau Rabu (7/10) pagi WIB.
Dow Jones Industrial Average ditutup naik 253,38 poin atau 0,49% menjadi 51.521,28, indeks berbasis luas S&P 500 bertambah 44,98 poin atau 0,58% jadi 7.818,93, sedangkan Nasdaq Composite Index menguat 122,48 poin atau 0,45% ke posisi 27.599,79.
Sementara itu, Dow yang berisi saham-saham berkapitalisasi besar masih sekitar 5% di bawah rekor penutupan yang dicapai pada 5 Agustus.
Dari 11 sektor utama S&P 500, hanya kesehatan yang melemah. Sektor utilitas menjadi penguat terbesar.
"Ketika harga minyak stabil atau bergerak lebih rendah, hal itu membuat yield turun karena kekhawatiran terhadap inflasi yang dipicu energi berkurang. Kondisi tersebut pada akhirnya membantu mengangkat saham," kata Oliver Pursche, Senior Vice President Wealthspire Advisors di New York.
Menurutnya, kondisi tersebut menjadi narasi utama pasar selama beberapa pekan terakhir.
Enam dari kelompok saham teknologi raksasa yang dikenal sebagai "Magnificent Seven" melesat dan menopang kenaikan indeks. Namun, saham berkapitalisasi kecil masih tertinggal dibandingkan saham berkapitalisasi besar.
Perdagangan saham berbasis kecerdasan buatan (AI) masih solid. Philadelphia SE Semiconductor Index turut menguat. Data perdagangan internasional menunjukkan besarnya investasi terkait infrastruktur AI, tercermin dari impor barang modal yang melonjak 4,4% sepanjang Agustus.
Laporan Departemen Perdagangan AS menunjukkan defisit perdagangan melebar 13,7% seiring impor mencapai rekor tertinggi. Secara bulanan dan tahunan, impor masing-masing melambung 4,3% dan 28,4%, mencerminkan kuatnya permintaan domestik yang berpotensi meningkatkan tekanan inflasi, terutama di tengah kendala pasokan akibat perang.
Meski demikian, pasar keuangan memperkirakan peluang Federal Reserve menaikkan suku bunga untuk kedua kalinya secara beruntun pada pertemuan kebijakan moneter bulan ini hanya 19,4%, merosot dari 50,9% sepekan sebelumnya, berdasarkan FedWatch Tool CME Group.
Ekspektasi kenaikan suku bunga the Fed sensitif terhadap pergerakan harga minyak yang melonjak akibat perang Iran dan berpotensi menimbulkan tekanan harga yang lebih luas. Namun, kekhawatiran pasokan mereda setelah negara-negara G7 mencapai kesepakatan untuk melepas cadangan darurat diesel dan minyak mentah, sehingga membantu menstabilkan kontrak berjangka WTI dan Brent terdekat.
"Kami memperkirakan the Fed tidak akan melakukan apa pun pada pertemuan berikutnya. Namun, saya pikir mereka berada dalam siklus kenaikan suku bunga secara bertahap," kata Tim Ghriskey, Senior Portfolio Strategist di Ingalls & Snyder, New York.
Dia menambahkan, harga minyak yang tinggi telah membebani berbagai kelompok konsumen dan menjadi salah satu alasan kenaikan suku bunga the Fed sebelumnya.
Musim laporan keuangan kuartal ketiga akan dimulai pekan depan. Sejumlah perusahaan keuangan besar dijadwalkan menyampaikan laporan kinerja pada Selasa mendatang.
Analis saat ini memperkirakan laba perusahaan-perusahaan dalam indeks S&P 500 secara agregat tumbuh 30,6% secara tahunan pada periode Juli-September. Pertumbuhan tersebut dipimpin sektor energi yang diprediksi meroket 114,7%, disusul sektor teknologi dengan pertumbuhan laba sekitar 66,5%, menurut LSEG .
Sejumlah saham mencatat pergerakan signifikan. Marvell Technology melejit 5,8% setelah perusahaan desain chip tersebut menaikkan proyeksi pendapatan 2028 akibat kuatnya permintaan chip untuk pusat data.
AMD melompat 2,8% setelah CEO Lisa Su mengatakan perusahaan berencana meningkatkan pasokan chip secara signifikan pada 2027 untuk memenuhi lonjakan permintaan terkait AI.
Constellation Energy melesat 12,3% setelah Alphabet mencapai kesepakatan pembelian listrik berkapasitas 3.590 megawatt dengan perusahaan tersebut.
Option Care Health melambung 32,7% setelah distributor obat McKesson dan perusahaan ekuitas swasta Clayton Dubilier & Rice sepakat mengakuisisi penyedia layanan terapi infus tersebut dalam transaksi senilai sekitar USD5,8 miliar termasuk utang.
Di Bursa Efek New York ( NYSE ), saham yang naik mengungguli yang turun dengan rasio 1,93 banding 1. Sebanyak 258 saham mencatatkan level tertinggi baru dan 219 saham mencapai level terendah baru.
Di Nasdaq, sebanyak 2.394 saham menguat dan 2.378 saham melemah, dengan rasio saham naik terhadap saham turun sebesar 1,01 banding 1.
S&P 500 mencatat 23 saham mencapai level tertinggi baru dalam 52 minggu dan dua saham mencetak level terendah baru. Sementara Nasdaq Composite membukukan 61 saham pada level tertinggi baru dan 182 saham pada level terendah baru.
Volume perdagangan di bursa Wall Street mencapai 16,50 miliar saham, di bawah rata-rata sesi penuh 20 hari terakhir, yakni 17,51 miliar saham. (Reuters/CNBC/Investing/AI)
Saham berkinerja terbaik Dow
-Cisco Systems Inc (4,54%)
-Walmart Inc (2,04%)
-Home Depot Inc (1,97%)
Saham berkinerja terburuk
-Salesforce Inc (-2,09%)
-Boeing Co (-1,50%)
-Unitedhealth Group (-0,60%)
Saham berkinerja terbaik S&P 500
-Constellation Energy Corp (12,25%)
-Corteva Inc (12,23%)
-Vistra Corp (10,77%)
Saham berkinerja terburuk
-Seagate Technology PLC (-9,18%)
-Moderna Inc (-7,75%)
-Western Digital Corporation (-6,93%)
Saham berkinerja terbaik Nasdaq
-OLB Group Inc (115,25%)
-Mobix Labs Inc (72,28%)
-VCI Global Ltd (54,77%)
Saham berkinerja terburuk
-Armada Acquisition Corp II (-50,32%)
-Arrivent Biopharma Inc (-46,98%)
-China SXT Pharmaceuticals Inc (-39,90%)

Sumber : Admin