Wall Street Jeblok, Harga Minyak dan Ekspektasi Kenaikan Bunga Jadi Beban
Tuesday, September 29, 2026       04:18 WIB
  • Dow Jones -0,67%, S&P 500 -0,77%, Nasdaq -0,92% akibat lonjakan minyak dan yield AS.
  • Peluang kenaikan suku bunga the Fed Oktober naik menjadi 70,3%.
  • Boeing anjlok 6,9%, Tesla 3,9%, sementara Nvidia menguat 1,6%.

Ipotnews - Bursa ekuitas Wall Street melemah, Senin, setelah harga minyak dan imbal hasil US Treasury melompat. Investor mencermati ketidakpastian prospek kesepakatan damai dalam konflik Iran serta dampaknya terhadap arah kebijakan suku bunga Federal Reserve.
Indeks Dow Jones Industrial Average ditutup turun 347,11 poin atau 0,67% menjadi 51.481,51, S&P 500 melemah 59,72 poin atau 0,77% ke posisi 7.683,69, sedangkan Nasdaq Composite Index menyusut 248,34 poin atau 0,92% jadi 26.820,38, demikian laporan  Reuters  dan  Investing,  di New York, Senin (28/9) atau Selasa (29/9) pagi WIB.
Penurunan indeks berbasis S&P 500 merupakan pelemahan harian terbesar secara persentase sejak 20 Agustus.
Harga minyak mentah sempat melonjak setelah Presiden AS Donald Trump menolak proposal perdamaian dari Iran. Namun, kenaikan tersebut menyusut setelah muncul ekspektasi bahwa mediator Qatar akan menggelar pembicaraan dengan kedua negara untuk mencari kemungkinan kesepakatan.
Setelah sempat merosot dari level tertinggi pada awal bulan, harga minyak kembali melonjak dalam beberapa hari terakhir seiring memudarnya harapan tercapainya kesepakatan damai.
Lonjakan harga minyak mentah dan solar memicu kekhawatiran inflasi serta mendorong imbal hasil US Treasury lebih tinggi. Tekanan tersebut diperkuat pernyataan sejumlah pejabat Federal Reserve yang mengindikasikan kenaikan suku bunga lebih lanjut mungkin diperlukan jika tekanan harga tidak mereda, setelah the Fed menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin pada awal bulan.
"Iran mendorong harga minyak, harga minyak mendorong inflasi, dan inflasi mendorong suku bunga," kata Jack Ablin, Kepala Strategi Investasi Cresset Capital Management di Chicago.
Ablin mengatakan, tingkat suku bunga kini mulai terlihat menarik dibandingkan saham, sesuatu yang menurutnya menjadi perhatian pasar setelah hampir 20 tahun.
"Ini sekarang lebih merupakan cerita valuasi daripada laba. Ketika ada kelas aset yang selama 20 tahun menghadapi kondisi kurang menguntungkan, sekarang tiba-tiba aset tersebut terlihat cukup kompetitif," ujarnya.
Boeing dan Tesla Tertekan, Nvidia Menguat
Saham Boeing anjlok 6,9% dan menjadi salah satu pemberat terbesar Dow Jones setelah Federal Aviation Administration (FAA) Amerika Serikat mengatakan akan menunda sertifikasi Boeing 737 MAX 10 yang telah lama tertunda hingga masalah perangkat lunak yang baru terungkap dapat diselesaikan.
Berbeda dengan tren pasar, saham Nvidia melonjak 1,6% setelah raksasa semikonduktor tersebut mengumumkan otorisasi pembelian kembali saham senilai USD150 miliar, yang menjadi program buyback terbesar yang pernah dilakukan perusahaan.
Iran mengumumkan proposal perdamaian dalam Sidang Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) pekan lalu di New York. Proposal itu disebut telah disampaikan kepada Amerika melalui mediator Qatar. Trump mengatakan pada Sabtu telah menolak tawaran tersebut, tetapi dalam wawancara dengan  Axios , Minggu, menyatakan perunding AS diperkirakan tetap melanjutkan pembicaraan pekan ini.
Gubernur Federal Reserve Lisa Cook, Senin, memperkirakan tekanan inflasi masih berlanjut dalam beberapa bulan mendatang akibat permintaan terkait kecerdasan buatan (AI) dan lonjakan harga minyak. Namun, dia tidak mengatakan bahwa kenaikan suku bunga tambahan diperlukan.
Ekspektasi kenaikan suku bunga the Fed pada pertemuan Oktober meningkat dalam beberapa hari terakhir, salah satunya didorong data ekonomi yang menunjukkan pertumbuhan ekonomi Amerika masih solid.
Data FedWatch CME Group memperlihatkan pasar kini memperkirakan peluang kenaikan suku bunga sedikitnya 25 basis poin pada pertemuan bulan depan mencapai 70,3%, meningkat dari 57,6% sepekan sebelumnya dan 17,7% sebulan sebelumnya.
Sejumlah data ekonomi penting akan dirilis pekan ini dan dapat memengaruhi arah kebijakan the Fed, termasuk data inflasi dan pasar tenaga kerja. Rangkaian data tersebut akan ditutup dengan laporan ketenagakerjaan pemerintah, Jumat.
Tesla anjlok 3,9% setelah broker J.P. Morgan memangkas target harga saham perusahaan tersebut dengan alasan lemahnya pengiriman kendaraan pada kuartal ketiga.
Di Bursa New York, jumlah saham yang turun mengungguli yang naik dengan rasio 3,55 banding 1. Di Nasdaq, rasio saham yang melemah terhadap yang menguat mencapai 2,56 banding 1.
S&P 500 mencatat empat saham yang mencapai level tertinggi baru dalam 52 pekan dan 29 saham yang menyentuh level terendah baru. Sementara itu, Nasdaq Composite membukukan 40 saham yang mencapai level tertinggi baru dan 249 saham yang mencetak level terendah baru.
Volume perdagangan di bursa Wall Street mencapai 16,71 miliar saham, dibandingkan rata-rata 16,85 miliar saham per sesi dalam 20 hari terakhir. (Reuters/Investing/AI)
Saham berkinerja terbaik Dow
-Procter & Gamble Company (1,91%)
-Nike Inc (1,76%)
-Nvidia Corporation (1,68%)
Saham berkinerja terburuk
-Boeing Co (-6,91%)
-Salesforce Inc (-2,88%)
-International Business Machines (-2,15%)
Saham berkinerja terbaik S&P 500
-Palo Alto Networks Inc (4,63%)
-Teleflex Incorporated (4,35%)
-Campbell's Co (3,46%)
Saham berkinerja terburuk
-Qualcomm Incorporated (-7,17%)
-Boeing Co (-6,91%)
-Intel Corporation (-5,67%)
Saham berkinerja terbaik Nasdaq
-Kodiak Sciences Inc (177,98%)
-Lifecore Biomedical Inc (55,24%)
-ClearOne Inc (47,83%)
Saham berkinerja terburuk
-TEN Holdings Inc (-92,45%)
-NeoConcept International Group Holdings Ltd (-83,75%)
-Masonglory Ltd (-61,21%)

Sumber : Admin