Wall Street Melemah Tipis, Data Tenaga Kerja Redam Harapan Pemangkasan Suku Bunga The Fed
Thursday, February 12, 2026       05:20 WIB
  • Wall Street ditutup melemah setelah data tenaga kerja AS yang kuat mengurangi ekspektasi pemangkasan suku bunga the Fed dalam waktu dekat.
  • Pasar awalnya menguat, namun berbalik turun seiring penyesuaian ekspektasi kebijakan moneter dan fokus investor ke data inflasi AS.
  • Saham teknologi dan keuangan menekan indeks, sementara sektor energi dan consumer staples mencatat penguatan.

Ipotnews - Bursa ekuitas Wall Street melemah tipis, Rabu, setelah laporan tenaga kerja Amerika Serikat yang lebih kuat dari perkiraan meredakan kekhawatiran terhadap kondisi ekonomi, namun sekaligus memicu spekulasi bahwa Federal Reserve dapat memperlambat laju pemangkasan suku bunga.
Indeks Dow Jones Industrial Average ditutup turun 66,74 poin atau 0,13% menjadi 50.121,40, S&P 500 berkurang 0,34 poin jadi 6.941,47, sementara Nasdaq Composite Index melemah 36,01 poin atau 0,16% ke posisi 23.066,47, demikian laporan  Reuters  dan  Investing,  di New York, Rabu (11/2) atau Kamis (12/2) pagi WIB.
Pada awal perdagangan, ketiga indeks utama sempat menguat, dengan S&P 500 dan Nasdaq menyentuh level tertinggi dalam lebih dari sepekan. Sentimen positif dipicu laporan ketenagakerjaan yang menunjukkan pertumbuhan lapangan kerja sepanjang Januari jauh melampaui ekspektasi dan tingkat pengangguran turun ke 4,3%.
Namun, penguatan tersebut memudar setelah pelaku pasar menyesuaikan ekspektasi terhadap arah kebijakan moneter. Investor mulai mengurangi spekulasi terhadap pemangkasan suku bunga dalam waktu dekat, meski pasar masih memperkirakan setidaknya satu kali pemotongan sebesar 25 basis poin pada Juni. Data FedWatch Tool CME Group menunjukkan probabilitas suku bunga tetap bertahan pada bulan tersebut meningkat menjadi 41% dari sebelumnya 24,8%.
Global Market Strategist New York Life Investments, Julia Hermann, menilai pasar merespons perubahan ekspektasi tersebut secara positif karena data tenaga kerja yang kuat dianggap sebagai sinyal kesehatan ekonomi. Menurutnya, kondisi pasar tenaga kerja yang solid memperlihatkan ekonomi tidak membutuhkan stimulus moneter dalam waktu dekat, namun juga belum cukup kuat untuk menghapus harapan pelonggaran kebijakan di masa depan.
Fokus investor selanjutnya tertuju pada rilis data inflasi indeks harga konsumen (CPI) Amerika periode Januari yang dijadwalkan keluar pada Jumat, yang dinilai akan menjadi petunjuk penting arah kebijakan the Fed selanjutnya.
Dari sisi saham, International Business Machines (IBM) menjadi penekan terbesar indeks Dow secara persentase, sementara Caterpillar mencatat kenaikan terbesar setelah sahamnya melambung 4,4% menyusul kenaikan tajam target harga oleh Argus Research menjadi USD820 dari sebelumnya USD625.
Dari 11 sektor utama dalam S&P 500, delapan di antaranya mencatat penguatan. Sektor energi memimpin kenaikan dengan lompatan 2,6%, diikuti sektor consumer staples, yang naik 1,4%. Sebaliknya, sektor jasa keuangan dan layanan komunikasi masing-masing melorot lebih dari 1%.
Pergerakan saham teknologi terpantau variatif. Saham semikonduktor menguat tajam, tercermin dari kenaikan indeks Philadelphia Semiconductor sebesar 2,3%, sementara saham perangkat lunak merosot 2,6% dan mengakhiri reli tiga hari setelah tekanan pekan lalu akibat kekhawatiran disrupsi kecerdasan buatan (AI).
Saham Microsoft menyusut 2,2% dan menjadi penekan terbesar S&P 500, diikuti Alphabet yang anjlok 2,4% dan membebani sektor layanan komunikasi.
Tekanan juga terjadi pada saham perusahaan pialang setelah startup Altruist memperkenalkan fitur perencanaan pajak berbasis AI. Saham Charles Schwab dan Ameriprise Financial ambles lebih dari 3%, sementara LPL Financial anjlok 6%. Indeks perbankan S&P 500 yang sensitif terhadap suku bunga ditutup melemah 2,6%.
Saham Robinhood jatuh 8,9% setelah pendapatan kuartal keempat tidak memenuhi ekspektasi pasar, menjadikannya salah satu penekan terbesar sektor jasa keuangan. Sebaliknya, saham Generac melejit 17,9% dan menjadi penguat terbesar S&P 500 setelah laporan kinerja kuartalan yang solid.
Di sektor kesehatan, saham Humana kehilangan 3,3% setelah proyeksi laba 2026 berada di bawah estimasi analis. Saham Moderna juga melemah 3,5% setelah Badan Pengawas Obat dan Makanan AS (FDA) memutuskan tidak meninjau aplikasi persetujuan vaksin influenza perusahaan tersebut.
Secara keseluruhan, jumlah saham yang naik lebih banyak daripada yang turun dengan rasio 1,13 banding 1 di NYSE , di mana terdapat 884 rekor tertinggi baru dan 147 rekor terendah baru.
Di Nasdaq, 1.826 saham menguat dan 2.937 saham melemah, dengan saham yang turun lebih banyak daripada yang naik dengan rasio 1,61 banding 1.
Indeks S&P 500 mencatat 99 rekor tertinggi baru dalam 52 minggu dan 24 rekor terendah baru, sementara Nasdaq Composite membukukan 123 rekor tertinggi baru dan 232 rekor terendah baru.
Volume transaksi di bursa Wall Street mencapai 20,86 miliar saham, sedikit di atas rata-rata pergerakan 20 sesi terakhir sebesar 20,79 miliar saham. (Reuters/Investing/AI)
Saham berkinerja terbaik di Dow
-Caterpillar Inc (4,40%)
-Verizon Communications Inc (3,33%)
-Coca-Cola Co (2,32%)
Saham berkinerja terburuk
-International Business Machines (-6,53%)
-Salesforce Inc (-4,37%)
-Boeing Co (-2,60%)
Saham berkinerja terbaik di S&P 500
-BorgWarner Inc (22,45%)
-Generac Holdings Inc (17,79%)
-Micron Technology Inc (9,94%)
Saham berkinerja terburuk
- Group Inc Class A (-12,24%)
-Leidos Holdings Inc (-11,15%)
-Assurant Inc (-8,65%)
Saham berkinerja terbaik di Nasdaq
-NeoConcept International Group Holdings Ltd (238,46%)
-Decent Holding Inc (80,06%)
-Envoy Medical Inc (69,20%)
Saham berkinerja terburuk
-Liminatus Pharma Inc (-52,60%)
-Upstream Bio Inc (-47,18%)
-TG 17 Inc (-44,58%)

Sumber : Admin