Wall Street Rebound Tajam, Nasdaq Memimpin Usai Keputusan The Fed
Friday, September 18, 2026       04:27 WIB
  • Dow naik 0,61%, S&P 500 +1,14%, Nasdaq +1,69%.
  • Saham teknologi memimpin reli Wall Street.
  • Peluang kenaikan suku bunga Fed Oktober naik ke 53,1%.

Ipotnews - Bursa ekuitas Wall Street kembali menguat, Kamis, setelah kejatuhan harga minyak, turunnya imbal hasil US Treasury, serta data ketenagakerjaan Amerika Serikat yang solid membantu investor mengalihkan perhatian dari kenaikan suku bunga pertama Federal Reserve dalam lebih dari tiga tahun.
Ketiga indeks utama Wall Street ditutup menguat signifikan. Reli berlangsung luas dengan saham teknologi menjadi penggerak utama, sehingga Nasdaq mencatat kenaikan terbesar, demikian laporan  Reuters  dan   CNBC ,  di New York, Kamis (17/9) atau Jumat (18/9) pagi WIB.
Dow Jones Industrial Average ditutup melompat 316,14 poin atau 0,61% jadi 51.778,04, S&P 500 bertambah 85,95 poin atau 1,14% menjadi 7.637,76, sedangkan Nasdaq Composite Index melonjak 439,87 poin atau 1,69% ke posisi 26.418,30.
"Investor mulai kembali tertarik pada sektor pasar yang sebelumnya tertekan menjelang kenaikan suku bunga the Fed. Mereka mulai masuk dan membeli ketika terjadi pelemahan," ujar Robert Pavlik, Senior Portfolio Manager Dakota Wealth di Fairfield, Connecticut.
Sentimen pasar juga mendapat dorongan dari penurunan harga minyak mentah yang sempat menyentuh level terendah dalam sepekan. Kekhawatiran terhadap gangguan pasokan mereda setelah muncul laporan mengenai pergerakan minyak Arab Saudi melalui Oman.
Harga minyak kemudian memangkas sebagian penurunannya karena ketegangan di Timur Tengah masih berlangsung. Harga energi melonjak sejak pecahnya perang antara Amerika Serikat dan Israel melawan Iran, sehingga meningkatkan tekanan inflasi di berbagai negara.
Sehari sebelumnya, pejabat the Fed secara bulat memutuskan menaikkan target suku bunga federal funds untuk pertama kalinya sejak Juli 2023. Dalam pernyataannya, the Fed menegaskan komitmennya untuk membawa inflasi kembali ke target 2% dalam waktu yang lebih cepat, sekaligus membuka ruang bagi kenaikan suku bunga lanjutan tahun ini.
"Pasar sedikit lega karena the Fed menunjukkan konsistensi dengan keputusan bulat. Chairman Fed Kevin Warsh juga kembali menegaskan independensi bank sentral," kata Ross Mayfield, Investment Strategy Analyst Baird, di Louisville, Kentucky.
Pasar keuangan kini memperhitungkan peluang sebesar 53,1% untuk kenaikan suku bunga 25 basis poin pada pertemuan the Fed berikutnya di Oktober. Probabilitas tersebut meningkat tajam dari 27,2% sepekan sebelumnya, berdasarkan FedWatch Tool CME Group.
Dalam konferensi pers Rabu, Warsh mengatakan ekonomi Amerika masih kuat dan upaya menjaga stabilitas harga tidak harus mengorbankan pasar tenaga kerja. Pernyataan tersebut mendapat dukungan dari data klaim pengangguran mingguan Departemen Tenaga Kerja AS yang menunjukkan klaim awal turun mendekati level terendah sejak 1969.
Indeks volatilitas CBOE atau VIX, yang kerap disebut sebagai "indeks ketakutan", juga melorot ke level terendah dalam lebih dari sepekan seiring meredanya harga minyak.
Menurut Mayfield, tekanan dari kenaikan harga minyak merupakan salah satu hambatan utama bagi ekonomi global. Penurunan harga energi dapat memberikan keuntungan bagi konsumen dan perusahaan sekaligus memberi ruang bagi the Fed untuk mengambil kebijakan yang tidak terlalu agresif.
Dari 11 sektor utama S&P 500, sektor teknologi mencatat kenaikan persentase terbesar. Keuangan dan kebutuhan pokok konsumen menjadi dua sektor yang berakhir di zona merah, meski penurunannya relatif kecil.
Saham perusahaan pertambangan emas dan perak serta produsen chip menjadi salah satu penguat utama dengan lompatan lebih dari 3%.
Saham developer properti melonjak 1,1% setelah data perumahan menunjukkan pembangunan rumah keluarga tunggal dan penjualan rumah yang masih dalam proses melesat pada bulan lalu.
Saham perbankan yang sensitif terhadap perubahan suku bunga juga mulai stabil setelah anjlok 2,3% pada perdagangan Rabu. Indeks sektor tersebut ditutup naik 0,2%.
Saham terkait aset kripto turut menghijau, setelah Securities and Exchange Commission (SEC) Amerika mengumumkan pengecualian selama lima tahun untuk perdagangan saham yang ditokenisasi. Saham Circle Internet Group dan Robinhood masing-masing melambung 5,8% dan 5,2%, sementara Coinbase melejit 5,8%.
Di sisi lain, CoreWeave anjlok 4,2% setelah mengumumkan rencana menghimpun modal melalui penerbitan saham dan obligasi konversi.
Fluence Energy ambles 15,4% setelah menurunkan proyeksi pendapatan untuk tahun fiskal 2026.
Di New York Stock Exchange ( NYSE ), jumlah saham yang naik mencapai 2,38 kali lipat dibandingkan yang turun. Sebanyak 112 saham mencatatkan level tertinggi baru, sementara 164 saham menyentuh level terendah baru.
Di Nasdaq, sebanyak 3.274 saham menguat dan 1.483 saham melemah, dengan rasio saham naik terhadap turun sebesar 2,21 banding 1.
S&P 500 mencatat 12 saham mencapai level tertinggi baru dalam 52 minggu dan 20 saham mencetak level terendah baru. Sementara itu, Nasdaq Composite membukukan 60 saham mencapai level tertinggi baru dan 127 saham berada di level terendah baru.
Volume perdagangan di bursa Wall Street mencapai 17,57 miliar saham, jauh di atas rata-rata 15,37 miliar saham dalam satu sesi selama 20 hari terakhir. (Reuters/Investing/CNBC/AI)
Saham berkinerja terbaik Dow
-Nvidia Corporation (2,54%)
-Cisco Systems Inc (2,32%)
-Amazon.com Inc (2,13%)
Saham berkinerja terburuk
-Salesforce Inc (-3,07%)
-Verizon Communications Inc (-2,87%)
-Boeing Co (-2,42%)
Saham berkinerja terbaik S&P 500
-Generac Holdings Inc (18,34%)
-Super Micro Computer Inc (9,50%)
-Moderna Inc (8,54%)
Saham berkinerja terburuk
-T-Mobile US Inc (-5,58%)
-FMC Corporation (-5,56%)
-DaVita HealthCare Partners Inc (-5,56%)
Saham berkinerja terbaik Nasdaq
-Aethlon Medical Inc (372,03%)
-CID HoldCo Inc (163,68%)
-Datasea Inc (106,36%)
Saham berkinerja terburuk
-Reitar Logtech Holdings Ltd (-94,88%)
-ReTo Eco-Solutions Inc (-88,64%)
-Synergy CHC Corp (-67,02%)

Sumber : Admin