Wall Street Rontok, Dow Masuk Zona Koreksi, Pasar Dihantam Perang Timur Tengah
Saturday, March 28, 2026       08:40 WIB
  • Wall Street anjlok dan Dow resmi masuk zona koreksi setelah turun lebih dari 10% dari puncaknya.
  • Perang Timur Tengah dan lonjakan harga energi memicu kekhawatiran inflasi dan menghapus harapan penurunan suku bunga.
  • Tekanan terbesar datang dari saham teknologi dan konsumsi, sementara volatilitas pasar melonjak ke level tertinggi dalam beberapa bulan.

Ipotnews - Saham-saham Amerika Serikat anjlok pada Jumat (27/3) akhir pekan ini. Ketiga indeks utama ditutup pada level terendah dalam lebih dari tujuh bulan dan Dow mengonfirmasi telah masuk ke wilayah koreksi seiring perang di Timur Tengah yang telah berlangsung selama sebulan terus menekan minat risiko investor.
Pasar tidak banyak mendapat ketenangan dari pengumuman Presiden AS Donald Trump bahwa ia memberikan Iran tambahan waktu 10 hari untuk membuka kembali Selat Hormuz atau menghadapi penghancuran fasilitas energinya, setelah Iran menolak proposalnya untuk mengakhiri perang yang dimulai dari serangan udara AS-Israel terhadap Iran.
Menteri Luar Negeri Marco Rubio mengatakan Amerika Serikat dapat mencapai tujuannya di Iran tanpa menggunakan pasukan darat dan memperkirakan operasi akan selesai dalam hitungan minggu, meskipun baru-baru ini dilakukan penambahan pasukan ke kawasan tersebut.
Minyak mentah AS ditutup naik 5,46% ke $99,64 per barel dan Brent naik 4,22% ke $112,57 per barel, namun keduanya relatif tidak berubah secara mingguan. Indeks Dow Jones, S&P 500, dan Nasdaq masing-masing mencatat penurunan mingguan kelima berturut-turut, yang merupakan periode terpanjang dalam hampir empat tahun.
Dow kini turun lebih dari 10% dari rekor penutupan pada 10 Februari, menjadikannya indeks besar terbaru yang masuk ke wilayah koreksi, yang umumnya didefinisikan sebagai penurunan 10% dari puncak sebelumnya. Dow mengikuti Nasdaq yang lebih dulu memasuki fase koreksi, sementara Russell 2000 yang menjadi indeks pertama di jalur ini telah mengonfirmasinya pekan lalu.
"Jelas, sentimen pasar secara keseluruhan telah berubah menjadi sangat negatif dan kini kita telah memasuki wilayah koreksi," kata Ken Polcari, mitra dan kepala strategi pasar di SlateStone Wealth di Jupiter, Florida. "Pada akhirnya, saya melihat ini sebagai peluang besar, namun tidak akan terkejut jika kita melihat penurunan lebih lanjut antara 15% hingga 20% sebelum semuanya berakhir."
Dow Jones Industrial Average turun 793,47 poin atau 1,73% menjadi 45.166. Indeks S&P 500 kehilangan 108,31 poin atau 1,67% ke 6.368 dan Nasdaq Composite turun 459,72 poin atau 2,15% ke 20.948.
Indeks Volatilitas CBOE (VIX), yang dikenal sebagai indikator ketakutan di Wall Street, naik 3,61 poin menjadi 31,05, penutupan tertinggi sejak 21 April.
Saham-saham berkapitalisasi besar menjadi penekan utama indeks S&P, dengan Nvidia turun 2,2% sebagai kontributor terbesar, sementara Amazon melemah 4%. Saham sektor perangkat lunak juga kembali tertekan, dengan indeks perangkat lunak dan layanan S&P 500 ditutup pada level terendah sejak 6 November 2023.
Seiring tekanan dari Amazon, saham sektor konsumsi diskresioner turun 3,1%, menjadi sektor dengan kinerja terburuk dari 11 sektor utama S&P, setelah operator kapal pesiar Carnival anjlok 4,3% usai memangkas proyeksi laba tahunan yang disesuaikan. Operator kapal pesiar lainnya, Norwegian, merosot 6,9%.
Lonjakan harga minyak bersama komoditas lain seperti pupuk akibat perang Iran telah memicu kekhawatiran inflasi dan mengurangi harapan bahwa Federal Reserve dan bank sentral lainnya memiliki ruang untuk menurunkan suku bunga.
Pelaku pasar uang kini tidak lagi memperkirakan adanya pelonggaran kebijakan dari Federal Reserve tahun ini, dibandingkan sebelumnya yang memperkirakan dua kali penurunan suku bunga sebelum konflik pecah, menurut CME FedWatch Tool. Pasar kini memperkirakan sekitar 25% peluang kenaikan suku bunga setidaknya 25 basis poin pada pertemuan The Fed bulan Oktober.
Presiden The Fed Philadelphia Anna Paulson mengakui adanya risiko terhadap perekonomian akibat perang, namun tidak merinci implikasinya terhadap kebijakan moneter dalam waktu dekat.
Sentimen konsumen AS turun ke level terendah dalam tiga bulan pada Maret, menambah kekhawatiran terhadap kondisi ekonomi akibat perang di Timur Tengah.
Jumlah saham yang turun lebih banyak dibandingkan yang naik dengan rasio 3,38 banding 1 di NYSE dan 3,62 banding 1 di Nasdaq.
S&P 500 mencatat 22 saham yang mencapai level tertinggi 52 minggu dan 27 saham yang mencapai level terendah baru, sementara Nasdaq mencatat 25 saham tertinggi baru dan 355 saham terendah baru. Volume perdagangan di bursa AS mencapai 18,13 miliar saham, dibandingkan dengan rata-rata 20,4 miliar saham dalam 20 hari perdagangan terakhir.
(reuters)

Sumber : admin

berita terbaru
Saturday, Apr 04, 2026 - 15:35 WIB
Financial Statements Full Year 2025 of HRME
Saturday, Apr 04, 2026 - 15:30 WIB
Financial Statements Full Year 2025 of CASA
Saturday, Apr 04, 2026 - 15:24 WIB
Financial Statements Full Year 2025 of PYFA
Saturday, Apr 04, 2026 - 15:20 WIB
Financial Statements Full Year 2025 of PTPP
Saturday, Apr 04, 2026 - 15:11 WIB
Financial Statements Full Year 2025 of WIKA
Saturday, Apr 04, 2026 - 15:07 WIB
Financial Statements Full Year 2025 of MTEL
Saturday, Apr 04, 2026 - 15:02 WIB
Financial Statements Full Year 2025 of BMHS
Saturday, Apr 04, 2026 - 14:57 WIB
Financial Statements Full Year 2025 of KJEN