- Wall Street ditutup menguat, dengan Dow Jones mencetak rekor baru dan saham chip melonjak seiring optimisme AI.
- Saham Moderna melesat hampir 11%, menopang sektor kesehatan, sementara indeks semikonduktor juga mencetak rekor.
- Investor menanti data ketenagakerjaan AS untuk petunjuk arah suku bunga the Fed, di tengah valuasi saham yang masih mahal.
Ipotnews - Bursa ekuitas Wall Street berakhir di zona hijau, Selasa, dipimpin lonjakan saham chip di tengah kembali menguatnya optimisme terhadap kecerdasan buatan (AI), reli tajam saham Moderna, serta pencapaian rekor baru oleh indeks Dow Jones Industrial Average.
Indeks berbasis luas S&P 500 ditutup naik 0,62% atau 42,77 poin menjadi 6.944,82, Nasdaq Composite Index menguat 0,65% atau 151,35 poin ke posisi 23.547,17, sementara Dow Jones melonjak 0,99% atau 4984,90 poin jadi 49.462,08, semakin mendekati tonggak psikologis 50.000, demikian laporan Reuters dan Investing, di San Francisco, Selasa (6/1) atau Rabu (7/1) pagi WIB.
Saham Moderna meroket hampir 11% setelah BofA Global Research menaikkan target harga perusahaan farmasi tersebut. Kenaikan ini turut mendorong indeks sektor kesehatan S&P 500 melambung 1,96% dan menjadi salah satu penopang utama pasar.
Sektor teknologi, khususnya saham memori dan penyimpanan data, mencatatkan reli kuat setelah CEO Nvidia Jensen Huang, dalam ajang Consumer Electronics Show (CES) di Las Vegas, memaparkan pengembangan teknologi baru yang mencakup lapisan penyimpanan tambahan.
Saham SanDisk melejit lebih dari 27%, Western Digital menguat 17%, Seagate Technology melompat 14%, dan Micron Technology bertambah 10%. Keempat saham tersebut ditutup di level tertinggi sepanjang masa.
Indeks semikonduktor PHLX juga mencetak rekor baru, melonjak 2,75% dalam sehari dan mencatatkan kenaikan sekitar 8% dalam tiga sesi perdagangan pertama tahun 2026.
"Saya pikir musim laporan keuangan Big Tech akan sangat kuat, dan semua perkiraan belanja modal yang kita dengar kemungkinan akan direvisi naik lagi," ujar Jed Ellerbroek, Manajer Portofolio Argent Capital di St Louis.
Investor kini menantikan rilis data ekonomi yang lebih andal seiring meredanya dampak penutupan pemerintah federal Amerika Serikat selama 43 hari. Agenda data penting pekan ini mencakup laporan Job Openings and Labor Turnover Survey, Rabu, serta laporan ketenagakerjaan Desember yang akan dirilis Jumat. Data ketenagakerjaan yang lebih lemah dari perkiraan berpotensi memperkuat ekspektasi pemangkasan suku bunga oleh bank sentral.
Menjelang musim laporan keuangan kuartal keempat yang akan dimulai dalam beberapa pekan ke depan, valuasi saham Wall Street masih tergolong mahal. S&P 500 diperdagangkan pada sekitar 22 kali estimasi laba, turun dari 23 kali pada November, namun masih di atas rata-rata lima tahunnya di level 19, berdasarkan data LSEG .
Aktivitas perdagangan terbilang ramai, dengan volume transaksi di bursa Wall Street mencapai 18,7 miliar saham, lebih tinggi dibandingkan rata-rata 16,1 miliar saham dalam 20 sesi sebelumnya.
Data ekonomi pada Selasa menunjukkan indeks PMI komposit final S&P Global turun ke 52,7 pada Desember dari 53,0 bulan sebelumnya, sementara PMI sektor jasa melemah menjadi 52,5 dari 52,9.
Pelaku pasar juga mencermati pernyataan Presiden Federal Reserve Richmond, Tom Barkin, yang kembali menegaskan sikap hati-hati bank sentral terhadap pemangkasan suku bunga lanjutan. Pernyataan ini kontras dengan pandangan Gubernur Fed Stephen Miran, yang sebelumnya menyerukan pemangkasan suku bunga secara agresif dalam wawancara dengan Fox Business.
Kekhawatiran akan dampak geopolitik yang lebih luas usai penangkapan Presiden Venezuela Nicolas Maduro oleh pasukan AS pada akhir pekan lalu relatif diabaikan pasar. Investor justru menilai langkah tersebut berpotensi membuka akses perusahaan-perusahaan AS terhadap cadangan minyak Venezuela.
Di sisi lain, saham sektor energi melemah setelah mencatatkan penguatan tajam pada sesi sebelumnya. Saham Exxon Mobil anjlok 3,4% dan Chevron terkoreksi 4,5%.
Komentar Jensen Huang mengenai efisiensi chip baru Nvidia juga memicu kekhawatiran terhadap permintaan sistem pendingin pusat data, yang menekan saham Johnson Controls hingga melorot 6,2% dan Trane Technologies sebesar 2,5%.
Saham AIG ambles 7,5% setelah perusahaan asuransi tersebut mengumumkan CEO Peter Zaffino akan mengundurkan diri.
Secara keseluruhan, jumlah saham yang naik jauh lebih banyak dibandingkan yang turun di indeks S&P 500, dengan rasio sekitar 3,1 banding 1.
Indeks S&P 500 mencatatkan 62 saham di level tertinggi baru dan delapan di level terendah baru, sementara Nasdaq membukukan 126 saham di level tertinggi baru dan 42 di level terendah baru. (Reuters/CNBC/Investing/AI)
Saham berkinerja terbaik di Dow
-Amazon.com Inc (3,37%)
-Amgen Inc (3,01%)
-Salesforce Inc (2,59%)
Saham berkinerja terburuk
-Chevron Corp (-4,43%)
-Apple Inc (-1,88%)
-Travelers Companies (-0,89%)
Saham berkinerja terbaik di S&P 500
-Western Digital Corporation (16,76%)
-Seagate Technology PLC (13,98%)
-Microchip Technology Inc (11,60%)
Saham berkinerja terburuk
-American International Group Inc (-7,48%)
-Johnson Controls International PLC (-6,24%)
-Chevron Corp (-4,43%)
Saham berkinerja terbaik di Nasdaq
-Alumis Inc (95,55%)
-Sky Quarry Inc (88,84%)
-Autozi Internet Technology (71,76%)
Saham berkinerja terburuk
-Instil Bio Inc (-45,81%)
-Oriental Culture Holding Ltd (-41,27%)
-Mobix Labs Inc (-40,11%)
Sumber : Admin