- Wall Street menguat, S&P 500 dan Nasdaq cetak rekor baru didorong saham teknologi dan laporan keuangan.
- Optimisme negosiasi AS-Iran dan meredanya volatilitas ikut menopang sentimen investor.
- Meski kuat, pasar masih menunggu kepastian konflik dan arah kebijakan suku bunga the Fed.
Ipotnews - Bursa ekuitas Wall Street menguat, Rabu, dengan indeks acuan S&P 500 dan Nasdaq mencetak rekor penutupan tertinggi, didorong kinerja positif laporan keuangan perusahaan serta optimisme terhadap kemajuan negosiasi antara Amerika Serikat dan Iran.
Nasdaq bahkan mencatat rekor penutupan untuk pertama kalinya sejak 29 Oktober dan sempat menyentuh rekor intraday, ditopang penguatan saham sektor teknologi dan perangkat lunak. Penguatan ini terjadi hanya 13 hari perdagangan setelah indeks tersebut sempat masuk fase koreksi akibat kekhawatiran atas perang di Timur Tengah, demikian laporan Reuters dan Investing, di New York, Rabu (15/4) atau Kamis (16/4) pagi WIB.
Secara rinci, indeks Dow Jones Industrial Average ditutup turun 72,27 poin atau 0,15% menjadi 48.463,72, sementara S&P 500 melompat 0,80% atau 55,57 poin ke posisi 7.022,95 dan Nasdaq Composite Index melesat 1,60% atau 376,93 poin jadi 24.016,02. Nasdaq juga mencatatkan kenaikan selama 11 sesi berturut-turut, yang merupakan rekor terpanjang sejak November 2021.
Harapan bahwa Washington dan Teheran dapat kembali ke meja perundingan menjadi salah satu faktor utama yang menopang pasar. Konflik sebelumnya telah mengganggu pasar minyak global, memicu kekhawatiran inflasi, serta menciptakan ketidakpastian terhadap arah suku bunga.
Juru Bicara Gedung Putih Karoline Leavitt menyatakan pembahasan mengenai putaran kedua perundingan dengan Iran masih berlangsung dan menunjukkan kemajuan. Namun, dia membantah laporan bahwa Amerika Serikat meminta gencatan senjata dalam konflik tersebut. Di sisi lain, Departemen Keuangan AS tetap menjatuhkan sanksi terhadap jaringan transportasi minyak Iran, termasuk terhadap puluhan individu, perusahaan, dan kapal.
Indeks S&P 500 juga sempat mencetak rekor intraday pertamanya sejak konflik dimulai, sebelum akhirnya menutup perdagangan di level tertinggi sepanjang masa. Sebelumnya pada Maret, indeks berbasis luas ini sempat melemah hingga 9% dari rekor yang dicapai pada 27 Januari.
CEO Falcon Wealth Planning, Gabriel Shahin, menilai koreksi pasar sebelumnya justru dimanfaatkan investor sebagai peluang beli. Dia menekankan, fundamental ekonomi dan kinerja perusahaan tetap kuat, sehingga kepercayaan terhadap pasar tetap terjaga.
Head of Economic and Market Strategy ClearBridge Investments, Jeff Schulze, menyebut penguatan pasar didorong oleh awal musim laporan keuangan yang solid serta harapan penyelesaian konflik Amerika-Iran yang dinilai positif bagi pasar energi dan ekonomi AS.
Dia menambahkan, pasar cenderung bergerak mendahului kepastian informasi, dengan menilai risiko mulai menurun meskipun ketidakpastian masih ada.
Saham sektor keuangan turut menopang indeks. Bank of America melonjak 1,8% setelah melaporkan peningkatan laba kuartal pertama, sementara Morgan Stanley melambung 4,5% berkat peningkatan kinerja. Indeks sektor keuangan S&P 500 pun ditutup naik 0,8%.
Indikator volatilitas pasar, CBOE Volatility Index, melemah 1,03% atau 0,19 poin menjadi 18,17, level terendah sejak 26 Februari, mencerminkan meredanya kekhawatiran investor.
Dari 11 sektor utama S&P 500, indeks teknologi informasi memimpin penguatan dengan kenaikan 2,08%. Sub-sektor perangkat lunak dan layanan bahkan melejit 4,3%, mencatatkan kenaikan tiga hari berturut-turut.
Sebaliknya, sektor material dan industri menjadi yang paling tertekan, masing-masing melorot 1,3% dan 1,24%.
Meski demikian, sejumlah analis mengingatkan bahwa pasar masih membutuhkan katalis tambahan untuk mempertahankan momentum, mengingat harga minyak masih tinggi dan belum ada kepastian penyelesaian konflik Timur Tengah.
Chief Market Strategist B. Riley Wealth, Art Hogan, menekankan pentingnya bukti konkret dari upaya perdamaian sebelum batas waktu gencatan senjata berakhir.
Dari sisi kebijakan moneter, Presiden Federal Reserve Cleveland, Beth Hammack, menyatakan belum ada kebutuhan mendesak untuk mengubah suku bunga saat ini, meski peluang penurunan maupun kenaikan tetap terbuka ke depan.
Di sektor teknologi mutakhir, saham perusahaan komputasi kuantum mencatat lonjakan signifikan. Rigetti Computing melambung lebih dari 13%, D-Wave Quantum meroket 22,6%, dan Arqit Quantum melesat lebih dari 16%.
Saham lain yang bergerak signifikan termasuk Broadcom yang mendaki 4,2% setelah Meta Platforms memperpanjang kerja sama chip khusus. Sementara itu, Snap Inc melonjak 7,9% setelah mengumumkan rencana pemutusan hubungan kerja sekitar 1.000 karyawan.
Kenaikan paling mencolok terjadi pada Allbirds, yang sahamnya melejit hingga 582% setelah mengumumkan perubahan strategi bisnis ke arah infrastruktur kecerdasan buatan (AI).
Jumlah saham yang naik lebih banyak daripada yang turun dengan rasio 1,2 banding 1 di NYSE , di mana terdapat 271 rekor tertinggi baru dan 46 rekor terendah baru. Di Nasdaq, 2.857 saham menguat dan 1.945 saham melemah, ketika jumlah yang naik lebih banyak daripada yang turun dengan rasio 1,47 banding 1.
Indeks S&P 500 mencatatkan 12 rekor tertinggi baru dalam 52 minggu dan satu rekor terendah baru, sementara Nasdaq Composite membukukan 104 rekor tertinggi baru dan 43 rekor terendah baru.
Volume transaksi di bursa Wall Street mencapai 18,66 miliar saham, dibandingkan rata-rata pergerakan 19,18 miliar selama 20 sesi terakhir. (Reuters/CNBC/Investing/AI)
Saham berkinerja terbaik di Dow
-Microsoft Corporation (4,62%)
-Salesforce Inc (3,67%)
-Apple Inc (2,91%)
Saham berkinerja terburuk
-Caterpillar Inc (-3,03%)
-Merck & Company Inc (-1,70%)
-JPMorgan Chase & Co (-1,67%)
Saham berkinerja terbaik di S&P 500
-Tesla Inc (7,62%)
-ServiceNow Inc (7,29%)
-Intuit Inc (6,25%)
Saham berkinerja terburuk
-Carrier Global Corp (-9,45%)
-Stanley Black & Decker Inc (-6,94%)
-Live Nation Entertainment Inc (-6,30%)
Saham berkinerja terbaik di Nasdaq
-Allbirds Inc (582,33%)
-Hub Cyber Security Ltd (94,33%)
-Immutep Ltd ADR (72,81%)
Saham berkinerja terburuk
-Cheetah Net Supply Chain Service Inc (-89,84%)
-Aspire Biopharma Holdings Inc (-54,21%)
-Snail Inc (-48,82%)
Sumber : Admin