Wall Street Terkoreksi: S&P 500 Mundur dari Rekor, Investor Waspadai Eskalasi Iran
Tuesday, May 05, 2026       04:29 WIB
  • Wall Street melemah karena ketegangan Timur Tengah dan gangguan di Selat Hormuz.
  • S&P 500 dan Nasdaq terkoreksi dari rekor tertinggi meski laba perusahaan kuartal I kuat.
  • Sektor energi naik, sementara sektor lain seperti industri, material, dan logistik merah.

Ipotnews - Bursa ekuitas Wall Street berakhir di zona merah, Senin, dengan indeks S&P 500 mundur dari level rekor tertingginya. Pelemahan ini dipicu meningkatnya ketegangan di Timur Tengah setelah insiden ledakan pada kapal Korea Selatan di Selat Hormuz serta demonstrasi kekuatan Iran atas jalur minyak kawasan tersebut, meredam optimisme tentang laporan keuangan kuartal pertama yang solid.
Indeks berbasis luas S&P 500 ditutup melorot 0,41 persen atau 29,37 poin menjadi 7.200,75, Nasdaq Composite Index melemah 0,19 persen atau 46,64 poin ke posisi 25.067,80, sementara Dow Jones Industrial Average mencatat penurunan paling tajam 1,13 persen atau 557,37 poin jadi 48.941,90, demikian laporan  Reuters  dan  Investing,  di New York, Senin (4/5) atau Selasa (5/5) pagi WIB.
Meski demikian, sektor energi justru mencatat kenaikan seiring laporan eskalasi konflik terbaru. Ledakan pada kapal dagang Korea Selatan dinilai memperkuat persepsi bahwa Selat Hormuz masih belum aman bagi pelayaran komersial, meskipun Presiden Donald Trump sebelumnya menyatakan Angkatan Laut Amerika Serikat akan membuka kembali jalur tersebut.
Teheran mengklaim telah memaksa kapal perang AS untuk mundur saat mencoba memasuki selat, sementara Uni Emirat Arab melaporkan kebakaran di fasilitas minyak akibat serangan drone Iran.
Kekhawatiran baru ini muncul setelah S&P 500 dan Nasdaq mencetak rekor tertinggi, Jumat, didorong musim laporan keuangan kuartal pertama yang lebih kuat dari perkiraan.
"Dengan pasar yang berada di level tertinggi sepanjang masa, tidak banyak ruang untuk kesalahan, dan rasanya risiko asimetris besar masih mengarah ke penurunan, meski mungkin bukan hasil yang paling mungkin bahwa kita kembali ke perang terbuka," kata Ross Mayfield, analis Baird Private Wealth Management.
Secara fundamental, kinerja perusahaan sebenarnya cukup solid. Perusahaan-perusahaan dalam S&P 500 diperkirakan mencatat pertumbuhan laba agregat 28 persen secara tahunan pada kuartal pertama, jauh di atas proyeksi awal sebesar 14 persen, menurut LSEG I/B/E/S. Optimisme ini sebagian besar ditopang oleh perusahaan teknologi berbasis kecerdasan buatan.
Namun, sinyal kehati-hatian muncul dari konglomerat investasi Berkshire Hathaway yang melaporkan menjadi net seller saham untuk kuartal ke-14 berturut-turut. Pergerakan ini kerap menjadi perhatian investor sebagai indikator valuasi dan kondisi pasar secara luas.
Di sisi korporasi, saham GameStop anjlok 10 persen setelah perusahaan tersebut mengumumkan rencana akuisisi marketplace daring eBay senilai sekitar USD56 miliar dalam bentuk tunai dan saham. Sebaliknya, saham eBay justru melejit sekitar 5 persen.
Sebagian besar sektor dalam S&P 500 mengalami penurunan, dengan sektor material kehilangan 1,57 persen dan sektor industri merosot 1,17 persen. Sementara itu, indeks energi menjadi satu-satunya yang mencatat kenaikan, yakni 0,85 persen.
Tekanan signifikan juga terjadi pada sektor logistik. Saham FedEx melorot 9,1 persen dan United Parcel Service (UPS) ambles 10,5 persen setelah Amazon mengumumkan peluncuran layanan "Amazon Supply Chain Services" yang membuka jaringan logistiknya untuk bisnis lain.
Kejatuhan kedua saham tersebut turut menyeret indeks Dow Jones Transportation Average turun 4,8 persen ke level terendah dalam hampir satu bulan.
Sementara itu, saham perusahaan analitik data Palantir melesat 1,4 persen menjelang laporan keuangan kuartalan yang dijadwalkan dirilis setelah penutupan pasar.
Operator kapal pesiar Norwegian juga mengalami tekanan, dengan saham berkurang 8,6 persen setelah memangkas proyeksi tahunan akibat kenaikan biaya bahan bakar terkait konflik Timur Tengah.
Secara keseluruhan, jumlah saham yang turun lebih banyak dibandingkan yang naik dengan rasio 2,2 banding 1 di dalam S&P 500. Indeks tersebut mencatat 26 saham mencapai level tertinggi baru dan 22 saham menyentuh titik terendah baru; sementara Nasdaq membukukan 126 saham di posisi tertinggi baru dan 87 saham di posisi terendah.
Volume perdagangan di bursa Wall Street relatif lebih rendah dari rata-rata, dengan total 16,3 miliar saham ditransaksikan, dibandingkan rata-rata 17,7 miliar saham dalam 20 sesi sebelumnya. (Reuters/Investing/AI)
Saham berkinerja terbaik di Dow
-Amazon.com Inc (1,41%)
-Salesforce Inc (0,90%)
-Chevron Corp (0,87%)
Saham berkinerja terburuk
-Home Depot Inc (-3,51%)
-Nike Inc (-2,95%)
-Boeing Co (-2,67%)
Saham berkinerja terbaik di S&P 500
-Tyson Foods Inc (7,96%)
-Micron Technology Inc (6,31%)
-eBay Inc (5,05%)
Saham berkinerja terburuk
-United Parcel Service Inc (-10,47%)
-FedEx Corporation (-9,11%)
-CH Robinson Worldwide Inc (-9,06%)
Saham berkinerja terbaik di Nasdaq
-Ernexa Therapeutics Inc (2.344,44%)
-SKK Holdings Ltd (577,22%)
-Cns Pharmaceuticals Inc (233,62%)
Saham berkinerja terburuk
-Xanadu Quantum Technologies Ltd (-61,54%)
-Jaguar Health Inc (-51,16%)
-U BX Technology Ltd (-50,39%)

Sumber : Admin

berita terbaru
Tuesday, May 05, 2026 - 20:34 WIB
Jadi BUMN, Dividen BSI (BRIS) Naik
Tuesday, May 05, 2026 - 20:17 WIB
Financial Statements 1Q 2026 of DART
Tuesday, May 05, 2026 - 20:13 WIB
Financial Statements 1Q 2026 of ELPI
Tuesday, May 05, 2026 - 20:10 WIB
Financial Statements 1Q 2026 of KBLV
Tuesday, May 05, 2026 - 20:06 WIB
Financial Statements 1Q 2026 of KIJA
Tuesday, May 05, 2026 - 20:03 WIB
Financial Statements 1Q 2026 of CLEO
Tuesday, May 05, 2026 - 20:01 WIB
Financial Statements 1Q 2026 of IRRA
Tuesday, May 05, 2026 - 19:58 WIB
Financial Statements 1Q 2026 of ENZO
Tuesday, May 05, 2026 - 19:55 WIB
Financial Statements 1Q 2026 of DILD
Tuesday, May 05, 2026 - 19:53 WIB
Financial Statements 1Q 2026 of KJEN