Wall Street Terpukul Kenaikan Harga Minyak, Namun Catat Penguatan Bulanan
Tuesday, September 01, 2026       04:31 WIB
  • Dow turun 0,70%, S&P 500 0,33%, Nasdaq 0,12%.
  • Harga minyak dan sikap hawkish Fed menekan pasar.
  • Wall Street tetap menguat sepanjang Agustus.

Ipotnews - Bursa ekuitas Wall Street melemah, Senin, saat mengakhiri bulan yang penuh gejolak setelah lonjakan harga minyak akibat konflik kembali memicu kekhawatiran inflasi dan meningkatkan peluang pengetatan kebijakan moneter Federal Reserve.
Dow Jones Industrial Average ditutup turun 374,09 poin atau 0,70% menjadi 53.185,90, indeks berbasis luas S&P 500 melemah 25,62 poin atau 0,33% ke posisi 7.686,14, sedangkan Nasdaq Composite Index melorot 31,53 poin atau 0,12% jadi 26.370,89, demikian laporan  Reuters  dan  Investing,  di New York, Senin (31/8) atau Selasa (1/9) pagi WIB.
Kenaikan tajam harga minyak menekan minat investor terhadap aset berisiko sekaligus mendorong imbal hasil US Treasury lebih tinggi. Investor juga mencerna nada hawkish Chairman Fed Kevin Warsh dalam pidatonya di Simposium Jackson Hole, Jumat.
Meski mengalami tekanan pada perdagangan terakhir Agustus, ketiga indeks utama Wall Street tetap membukukan kenaikan sepanjang bulan lalu. Nasdaq mencatat pertumbuhan persentase terbesar selama bulan tersebut karena perdagangan saham berbasis kecerdasan buatan (AI) masih bertahan meski sempat melemah. Sementara itu, Dow mencatat kenaikan bulanan kelima secara beruntun.
"Kami mendengar pernyataan Warsh pekan lalu dan kini peluang lebih besar mengarah pada kenaikan suku bunga pada pertemuan September," kata Peter Tuz, Presiden Chase Investment Counsel di Charlottesville, Virginia.
Menurut Tuz, kondisi tersebut ditambah dengan berlanjutnya konflik di Timur Tengah. Dia juga mengingatkan bahwa perdagangan pada pekan sebelum libur Labor Day cenderung sepi karena banyak pelaku pasar tidak berada di kantor, sehingga pergerakan pasar dapat menjadi tidak biasa.
Presiden Iran Masoud Pezeshkian mengatakan Teheran masih mengupayakan penyelesaian perang melalui jalur negosiasi. Pernyataan tersebut disampaikan setelah pertukaran serangan udara kembali meningkat dalam beberapa hari terakhir, di tengah sanksi ekonomi berat yang diberlakukan Presiden AS Donald Trump.
Kebuntuan konflik yang berkepanjangan serta penutupan Selat Hormuz meningkatkan kekhawatiran bahwa tekanan kenaikan harga energi dapat meluas menjadi inflasi yang lebih sistemik. Kondisi tersebut berpotensi mendorong the Fed menaikkan suku bunga bahkan pada bulan ini.
Berdasarkan FedWatch Tool CME Group, pasar kini memperkirakan probabilitas lebih dari 65% bahwa the Fed akan menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin pada akhir pertemuan kebijakan moneter September.
"Investor kembali mencermati sejumlah komentar Warsh di Jackson Hole dan apa artinya bagi suku bunga serta inflasi," kata Paul Nolte, Senior Wealth Advisor dan Market Strategist Murphy & Sylvest di Elmhurst, Illinois.
Nolte menilai pasar telah cukup lama bersiap menghadapi kenaikan suku bunga pada September. Jika the Fed tidak menaikkan suku bunga, menurut dia, pasar dapat memberikan reaksi yang sangat besar karena ekspektasi kenaikan sudah tertanam cukup kuat.
Dari 11 sektor utama S&P 500, saham energi mencatat kenaikan persentase terbesar, didorong lonjakan harga minyak mentah. Sebaliknya, sektor utilitas menjadi yang terlemah setelah perubahan terhadap sebuah rancangan undang-undang di Senat California dinilai belum banyak menyelesaikan persoalan operator jaringan listrik terkait kewajiban akibat kebakaran hutan.
Di sektor energi, saham Halliburton dan Valero Energy masing-masing melesat 1,9%. Sementara di sektor utilitas, saham PG&E anjlok 20,1%, mencatat penurunan persentase terbesar dalam lebih dari enam tahun.
Saham GameStop melambung 2,9% setelah perusahaan menyatakan akan membayar sekitar 27% dari transaksi pertukaran utang senilai USD1,4 miliar yang sebelumnya diumumkan menggunakan kas yang tersedia, alih-alih menerbitkan saham baru. Langkah tersebut mencegah dilusi kepemilikan saham lebih lanjut.
Di bursa NYSE , jumlah saham yang turun melampaui yang naik dengan rasio 1,95 banding 1. Tercatat 112 saham mencapai level tertinggi baru dan 234 saham menyentuh level terendah baru di NYSE .
Di bursa Nasdaq, 1.859 saham menguat dan 2.931 saham melemah, dengan jumlah saham yang turun melebihi yang naik pada rasio 1,58 banding 1.
Indeks S&P 500 mencatatkan 5 level tertinggi baru dalam 52 minggu dan 11 level terendah baru, sementara indeks Nasdaq Composite membukukan 40 level tertinggi baru dan 146 level terendah baru.
Volume perdagangan di bursa Wall Street mencapai 15,65 miliar saham, dibandingkan rata-rata 15,58 miliar saham untuk sesi penuh selama 20 hari terakhir. (Reuters/Investing/AI)
Saham berkinerja terbaik Dow
-Chevron Corp (2,12%)
-Walmart Inc (1,73%)
-Nvidia Corporation (1,48%)
Saham berkinerja terburuk
-Amazon.com Inc (-2,50%)
-Honeywell International Inc (-1,79%)
-Sherwin-Williams Co (-1,75%)
Saham berkinerja terbaik S&P 500
-CrowdStrike Holdings Inc (5,77%)
-Tesla Inc (5,51%)
-Slb NV (4,83%)
Saham berkinerja terburuk
-Edison International (-23,07%)
-PG&E Corp (-20,06%)
-Aon PLC (-9,58%)
Saham berkinerja terbaik Nasdaq
-Nexalin Technology Inc (2.792,00%)
-Antelope Enterprise Holdings Ltd (83,33%)
-Nocera Inc (49,74%)
Saham berkinerja terburuk
-FingerMotion Inc (-45,60%)
-Wheeler Real Estate Investment Trust Inc (-36,45%)
-GCL Global Holdings Ltd (-26,27%)

Sumber : Admin