Wall Street Tersungkur di Tengah Lonjakan Harga Minyak dan Yield Amerika
Wednesday, September 16, 2026       04:29 WIB
  • Dow Jones turun 0,63%, S&P 500 -0,45%, dan Nasdaq -0,78%.
  • Yield Treasury 10 tahun tembus 5%, sementara harga minyak melonjak.
  • Pasar memperkirakan peluang kenaikan suku bunga the Fed mencapai 94,5%.

Ipotnews - Bursa ekuitas Wall Street kembali melemah, Selasa, memperpanjang aksi jual sehari sebelumnya. Kenaikan imbal hasil US Treasury, kekhawatiran terhadap utang serta lonjakan harga minyak membuat investor cenderung menahan pembelian saham menjelang keputusan suku bunga Federal Reserve.
Ketiga indeks utama Wall Street memperpanjang penurunan setelah sentimen risk-off meluas hampir ke seluruh sektor, kecuali energi. Sektor energi justru mendapat dukungan dari meningkatnya konflik di Timur Tengah, termasuk serangan terbaru terhadap infrastruktur energi Arab Saudi.
Dow Jones Industrial Average ditutup melorot 328,09 poin atau 0,63% menjadi 52.093,11, S&P 500 melemah 34,25 poin atau 0,45% ke posisi 7.585,73, sedangkan Nasdaq Composite Index turun 204,84 poin atau 0,78% jadi 25.981,57, demikian laporan  Reuters  dan  Investing,  di New York, Selasa (15/9) atau Kamis (16/9) pagi WIB.
Dari 11 sektor utama S&P 500, saham consumer discretionary mencatat penurunan persentase terbesar. Sebaliknya, sektor energi melesat 2,3% seiring kenaikan harga minyak mentah.
"Jika harga bahan bakar terus naik, terutama diesel, ditambah prospek kenaikan suku bunga yang hampir pasti mulai besok dan kekhawatiran terhadap potensi perlambatan ekosistem AI, mengapa harus masuk ke pasar secara agresif sebelum sebagian masalah ini mereda?" kata Presiden Chase Investment Counsel, Peter Tuz.
The Fed tengah menggelar rapat kebijakan moneter selama dua hari yang akan berakhir pada Rabu dengan pengumuman keputusan suku bunga. Data ekonomi terbaru menunjukkan pasar tenaga kerja Amerika Serikat masih solid, sementara tekanan harga energi akibat perang mulai merambah dan berpotensi menciptakan inflasi yang lebih luas.
The Fed diprediksi menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin. Jika terealisasi, kenaikan tersebut akan menjadi peningkatan suku bunga pertama dalam lebih dari tiga tahun.
Setelah data inflasi Amerika pekan lalu memperlihatkan tekanan harga yang lebih tinggi dari ekspektasi dan harga minyak mentah AS melonjak hampir 25% dalam dua minggu terakhir, pasar keuangan memperkirakan probabilitas kenaikan suku bunga pada Rabu mencapai 94,5%, berdasarkan FedWatch Tool CME Group. Angka tersebut meningkat tajam dari 33,1% sebulan sebelumnya.
Tuz mengatakan meski pasar akan mengetahui keputusan the Fed pada Rabu, konflik di Timur Tengah masih menjadi faktor yang sulit diprediksi, terutama terkait durasinya.
Kontrak minyak West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman terdekat ditutup melambung 4,4%, sedangkan Brent melompat 2,9%. Kontrak berjangka diesel juga mencatat rekor tertinggi.
Paul Nolte, analis Murphy & Sylvest, memperkirakan kenaikan suku bunga kemungkinan tidak berhenti pada satu kali kenaikan. "Ini kemungkinan bukan kenaikan sekali dan selesai, melainkan serangkaian kenaikan suku bunga. Itu akan bergantung pada minyak karena minyak merupakan sumber utama inflasi dan dampaknya mulai merembet ke bagian lain pasar," kata Nolte.
Seiring meningkatnya spekulasi terhadap kenaikan suku bunga, imbal hasil obligasi global kembali bergerak naik. Imbal hasil US Treasury acuan menembus 5% dan mencapai level tertinggi sejak 2007.
Suku bunga yang lebih tinggi juga meningkatkan tekanan terhadap perusahaan dan peminjam dengan tingkat utang besar, termasuk perusahaan yang mengeluarkan investasi kakap untuk pengembangan teknologi AI.
Kekhawatiran tersebut memperburuk sentimen terkait potensi dampak negatif perkembangan AI dan meningkatnya penolakan terhadap pembangunan pusat data. Kekhawatiran itu menekan indeks Philadelphia SE Semiconductor pada sesi Senin.
Indeks saham semikonduktor yang sebelumnya menjadi salah satu pendorong utama kenaikan pasar saham sepanjang tahun ini tidak mampu sepenuhnya pulih dari aksi jual Senin. Indeks tersebut hanya naik 0,4% pada Selasa.
Di antara saham individual, Dave & Buster's anjlok 19% setelah pendapatan kuartal kedua perusahaan berada di bawah ekspektasi.
Saham Waystar melesat 7,1% setelah  Reuters  melaporkan emiten perangkat lunak layanan kesehatan tersebut tengah mengeksplorasi sejumlah opsi, termasuk kemungkinan penjualan perusahaan.
Bitcoin juga melemah. Tekanan terhadap aset kripto semakin besar setelah Senat Amerika tidak melanjutkan pembahasan undang-undang komprehensif mengenai cryptocurrency, yang menjadi pukulan bagi perusahaan aset digital. Saham Coinbase terkoreksi 10,1%, sedangkan Strategy merosot 5,4%.
Di Bursa New York Stock Exchange ( NYSE ), jumlah saham yang turun mengungguli yang naik dengan rasio 2,56 banding 1. Sebanyak 113 saham mencatat level tertinggi baru, sementara 673 saham mencapai level terendah baru.
Di Nasdaq, sebanyak 1.439 saham menguat dan 3.356 saham melemah, dengan rasio saham turun terhadap saham naik mencapai 2,33 banding 1.
S&P 500 mencatat 14 saham mencapai level tertinggi baru dalam 52 minggu dan 18 saham mencetak level terendah baru. Sementara Nasdaq Composite membukukan 52 saham pada level tertinggi baru dan 264 saham pada level terendah baru.
Volume perdagangan di bursa Wall Street mencapai 15,85 miliar saham, lebih tinggi dibandingkan rata-rata 15,14 miliar saham per sesi dalam 20 hari terakhir. (Reuters/Investing/AI)
Saham berkinerja terbaik Dow
-Chevron Corp (2,64%)
-3M Company (1,64%)
-Honeywell International Inc (1,02%)
Saham berkinerja terburuk
-Nike Inc (-2,24%)
-Amazon.com Inc (-2,02%)
-Walt Disney Company (-2,00%)
Saham berkinerja terbaik S&P 500
-Skyworks Solutions Inc (13,55%)
-Qorvo Inc (9,34%)
-Revvity Inc (9,11%)
Saham berkinerja terburuk
-Axon Enterprise Inc (-9,81%)
-Jack Henry & Associates Inc (-6,37%)
-Chipotle Mexican Grill Inc (-5,94%)
Saham berkinerja terbaik Nasdaq
-ReTo Eco-Solutions Inc (676,27%)
-Veea Inc (149,35%)
-DataMeds AI Inc (83,69%)
Saham berkinerja terburuk
-ENvue Medical Inc (-69,25%)
-Huachen AI Parking Management Technology Holding Co Ltd (-67,18%)
-Cheetah Net Supply Chain Service Inc (-59,18%)

Sumber : Admin