- S&P 500 turun 0,06%, Nasdaq -0,32%, dan Dow -0,11% akibat tekanan saham chip.
- Keraguan pembukaan Selat Hormuz mendorong WTI naik sekitar 5%.
- Investor menanti data ekonomi dan keputusan suku bunga the Fed.
Ipotnews - Bursa ekuitas Wall Street berakhir di zona merah, Senin, tertekan kejatuhan saham Intel dan sejumlah perusahaan produsen chip lainnya. Sentimen pasar juga memburuk setelah investor semakin meragukan tercapainya kesepakatan untuk membuka kembali Selat Hormuz.
Indeks berbasis luas S&P 500 ditutup turun 0,06% atau 4,53 poin menjadi 7.753,11, Nasdaq Composite Index melemah 0,32% atau 85,26 poin jadi 26.605,35, sedangkan Dow Jones Industrial Average menyusut 0,11% atau 60,95 poin ke posisi 53.975,98, demikian laporan Reuters dan Investing, di New York, Senin (10/8) atau Selasa (11/8) pagi WIB.
Ketidakpastian mengenai penyelesaian konflik antara Iran dan Amerika Serikat menjadi salah satu faktor utama yang membebani sentimen investor. Presiden AS Donald Trump menuntut Iran membayar kompensasi atas orang-orang yang menurutnya tewas dalam perang, serangan, dan aksi demonstrasi.
Sebelumnya, Iran meminta Washington memenuhi sejumlah persyaratan, termasuk memberikan kompensasi kepada Teheran atas kerusakan yang ditimbulkan sejak AS dan Israel melancarkan serangan ke wilayah Iran lebih dari lima bulan lalu.
Meningkatnya keraguan terhadap penyelesaian konflik Timur Tengah turut mendorong harga minyak mentah WTI melambung sekitar 5% menjadi USD82,13 per barel.
Pembukaan kembali jalur perdagangan minyak melalui Selat Hormuz dinilai dapat meredakan kekhawatiran terhadap lonjakan harga energi. Lonjakan harga energi selama ini turut meningkatkan tekanan inflasi dan memunculkan kekhawatiran bahwa bank sentral harus mempertahankan atau bahkan menaikkan suku bunga.
Di pasar saham, tekanan terbesar datang dari sektor teknologi. Saham Intel anjlok 4,1% setelah produsen chip tersebut mengatakan berencana menghimpun dana USD15 miliar melalui penjualan saham.
Sebelumnya, S&P 500 mencatat penutupan rekor pada Jumat, ditopang laporan kinerja keuangan perusahaan yang jauh lebih kuat dari perkiraan.
"Ini adalah margin dan laba yang mencapai rekor. Itulah yang selama ini menjadi cerita utama pasar. Namun, konflik Iran membuat sentimen risiko naik turun," kata Tom Hainlin, Investment Strategist U.S. Bank Wealth Management, Minneapolis.
Menurut Hainlin, dampak langsung konflik terutama terlihat pada sektor energi dan harga minyak. Harga minyak masih bertahan di atas level sebelum konflik dimulai pada 27 Februari.
"Belum ada kejelasan mengenai jalur untuk kembali ke kondisi sebelum konflik dimulai, sehingga premi risiko terus terbentuk. Sejauh ini dunia masih mampu mencari jalan keluar, tetapi solusi semacam itu tidak akan bertahan selamanya," ujarnya.
Saham Nvidia juga merosot 2,9%. Dilaporkan Reuters , bahwa sejumlah perusahaan keuangan, termasuk Apollo Global dan Blackstone, tengah bekerja sama dengan Nvidia untuk menyiapkan paket pendanaan senilai USD500 miliar guna mengembangkan infrastruktur kecerdasan buatan (AI).
Selain perkembangan geopolitik, investor juga menantikan sejumlah data ekonomi yang dapat memberikan petunjuk mengenai arah kebijakan moneter Federal Reserve.
Data pada Jumat menunjukkan perusahaan-perusahaan AS secara tak terduga memangkas 23.000 pekerjaan sepanjang Juli. Data tersebut membuat pelaku pasar memangkas ekspektasi kenaikan suku bunga the Fed pada September.
Berdasarkan FedWatch Tool CME Group, pasar kini memperkirakan peluang kenaikan suku bunga the Fed pada pertemuan September sekitar 52%.
Musim laporan keuangan perusahaan juga masih menjadi perhatian. Sejumlah perusahaan kakap dijadwalkan merilis kinerja keuangan kuartalannya pekan ini, termasuk produsen semikonduktor Applied Materials dan pembuat peralatan jaringan Cisco.
Data LSEG menunjukkan sekitar 85% dari 436 perusahaan dalam indeks S&P 500 yang telah melaporkan kinerja keuangan sejauh ini berhasil membukukan laba di atas ekspektasi analis.
Di Bursa New York ( NYSE ), saham yang turun mengungguli yang naik dengan rasio 1,39 berbanding 1. Sebanyak 297 saham mencatatkan level tertinggi baru, sementara 149 saham mencapai level terendah baru.
Di Nasdaq, sebanyak 1.928 saham menguat dan 2.841 saham melemah. Saham yang turun mengungguli yang naik dengan rasio 1,47 berbanding 1.
S&P 500 mencatat 20 saham yang mencapai level tertinggi baru dalam 52 pekan dan satu saham mencetak level terendah baru. Sementara itu, Nasdaq Composite membukukan 107 saham mencapai level tertinggi baru dan 74 saham berada di level terendah baru. (Reuters/Investing/CNBC/AI)
Saham berkinerja terbaik Dow
-Chevron Corp (4,48%)
-Salesforce Inc (2,46%)
-Merck & Company Inc (1,82%)
Saham berkinerja terburuk
-Nvidia Corporation (-2,85%)
-Travelers Companies (-2,26%)
-Sherwin-Williams Co (-1,90%)
Saham berkinerja terbaik S&P 500
-APA Corporation (9,01%)
-Marathon Petroleum Corp (7,42%)
-Akamai Technologies Inc (6,39%)
Saham berkinerja terburuk
-Verisk Analytics Inc (-5,55%)
-Corning Incorporated (-4,78%)
-Southwest Airlines Company (-4,59%)
Saham berkinerja terbaik Nasdaq
-Next Technology Holding Inc (10.816,67%)
-Antelope Enterprise Holdings Ltd (1.778,29%)
-Socket Mobile Inc (451,24%)
Saham berkinerja terburuk
-Sionna Therapeutics Inc (-91,18%)
-Tenax Therapeutics Inc (-89,81%)
-Airsculpt Technologies Inc (-45,11%)
Sumber : Admin